Sabtu, 25 April 2026
Superhub Kota Cirebon
Selamat Datang Di SuperHub Pemerintah Kota Cirebon

Human Interest Story

Kurung Ayam Jago, Ritual yang Tak Pernah Ditinggalkan di Pilkades Serentak Majalengka

tradisi kurung ayam jago sudah merupakan tradisi turun temurun di saat momen pesta demokrasi tersebut.

Penulis: Eki Yulianto | Editor: Machmud Mubarok
TribunCirebon.com/Eki Yulianto
Ayam Jago dikurung, tradisi di Desa Pangkalanpari dalam gelaran Pilkades serentak 

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto

TRIBUNCIREBON.COM,  MAJALENGKA - Gelaran Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak Kabupaten Majalengka, Jawa Barat dilaksanakan, Sabtu (22/5/2021).

Sebanyak 334 kandidat akan bertarung di 127 desa. Kepala desa menjadi jabatan sosial yang mengandung prestise dan posisi strategis.

Banyak mantan kepala desa yang kemudian melanjutkan karier politik mereka di eksekutif, legislatif atau di partai politik.

Untuk mencapai hal itu, banyak simpatisan/timses calon kepala desa melakukan berbagai ritual yang dipercaya dapat membantu melancarkan keinginan menjadi seorang kepala desa.

Baca juga: Warga di Majalengka Antusias Mengikuti Pilkades, TPS Ramai, tapi Tetap Patuh Protokol Kesehatan

Baca juga: Ini Mitos di Balik Pilkades Serentak di Majalengka, Jika Ada Bola Api Jatuh di Rumah, Dia Menang

Baca juga: Calon Kades di Desa Tegaltaman Indramayu Meninggal, Padahal Pilkades akan Digelar 2 Minggu Lagi

Seperti yang terlihat di Pilkades Desa Pangkalanpari, Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka.

Pantauan Tribun di dua rumah calon kepala desa, terdapat tiga ekor ayam jago yang dikurung.

Dipercaya, ada pertanda spiritual melalui ayam jago, jika sering berkokok, calon yang mengurung akan menang, pun sebaliknya.

Tatang Ali, salah satu timses salah satu calon mengaku, tradisi kurung ayam jago sudah merupakan tradisi turun temurun di saat momen pesta demokrasi tersebut.

Ia mempercayai, seringnya ayam jago tersebut berkokok, menandakan calon Kuwu yang diusungnya akan menang.

"Ini sudah tradisi untuk daerah yang perbatasan dengan Indramayu. Dari dulu, untuk setiap pemilihan Kuwu harus ada ayam jago ayng dikurung," ujar Tatang kepada Tribun, Sabtu (22/5/2021).

Tatang menyampaikan, meski berharap calon yang ia usungnya menang, kondusivitas dalam pesta demokrasi ini menjadi hal yang utama.

Ia pun meyakini, jalannya Pilkades hingga penghitungan suara nanti berjalan dengan semestinya.

"Yang penting lancar, kondusif dan aman. Siapa pun yang menang, harus bisa legowo," ucapnya.

Sementara di rumah calon kepala desa lainnya, selain mengurung ayam jago di depan rumah, para simpatisan juga melakukan ritual lainnya.

Seperti menggoyangkan berbagai macam bahan masakan, di antaranya kemiri, beras, kacang hijau maupun sendok.

Ada juga, air tujuh warna yang diwadahi di gentong yang terus diaduk.

"Harapannya agar nomor urut 2 ini menang, kami simpatisan sudah biasa melakukan tradisi ini kalau ada pemilihan Kuwu," ucap Nurhani (56). (*)

Sumber: Tribun Cirebon
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved