Breaking News:

Imbas Pandemi Covid-19, Seniman di Kuningan Kembangkan Usaha Ekonomi Kreatif Bikin Kerajinan

Imbas Pandemi Covid19 hingga sekarang membuat seniman kembangkan ekonomi kreatif melalui kerajinan tangan

Penulis: Ahmad Ripai | Editor: dedy herdiana
Tribuncirebon.com/Ahmad Ripai
Seniman di Kuningan Kembangkan Usaha Ekonomi Kreatif Bikin Kerajinan dari bambu 

Laporan Kontributor Kuningan, Ahmad Ripai

TRIBUNCIREBON.COM, KUNINGAN - Imbas Pandemi Covid19 hingga sekarang membuat seniman kembangkan ekonomi kreatif melalui kerajinan tangan.

Kondisi itu seperti terjadi di Desa Cikadu, Kecamatan Nusaherang, Kuningan, Jawa Barat.

Pengembangan usaha Ekraf yang belum genap setahun berjalan, tampak di yakini bisa menjadi alternatif dalam memenuhi kebutuhan hidup.

Baca juga: Waduk Kuningan Belum Berfungsi, Sudah Muncul Penemuan Mayat, Polisi: Murni Akibat Kecelakaan

Terlebih dalam pembuatan kerajinan tangan ini dilakukan para seniman yang hampir vakum melaksanakan kegiatan sebagai seniman yang menghasilkan pundi- pundi rupiah.

Ikin salah seorang pengrajin saat ditemui di lapak usaha tadi mengatakan, pengembangan usaha ini sebagai pengembang ekonomi kreatif dengan berharap bisa bertahan hidup.

"Iya sejak Pandemi Covid19 semua merasakan dampak dan untuk tetap bisa bertahan hidup , kita harus putar otak supaya bisa menghasilkan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan sehari hari," ungkap Ikin yang juga tergabung dalam DPD Paguyuban Sundawani Wirabuana Kuningan.

Keseharian Ikin yang berdagang bubur ayam,  terpaksa melakukan terobosan dengan usaha kerajinan seperti membuat Kapal Pinisi, miniatur Becak dan Gerobak serta mobil - mobilan.

"Kerajinan ini sebagai penopang untuk bisa bertahan hidup akibat imbas dari Pandemi Covid19 yang serba susah begini. Kemudian untuk karya kerajinan tadi semua bahannya dari bambu dengan harga jual itu mulai Rp 60 ribuan hingga ratusan ribu," ungkapnya.

Baca juga: Kisah Sarji Warga Kuningan Berusia 102 Tahun, Setiap Malam Lihat Arwah Keluar dari Kuburan di TPU

Mengenai pembuatan, kata Ikin, ini diperkirakan membutuhkan waktu cukup lama. Misal dalam membuat Kapal Pinisi itu sekiara 3 hari sampai seminggu baru bisa siap jual.

"Kemudian mengenai jumlah pembeli, belum lama ada dari Jakarta datang dan beli hasil kerajinan kami setelah lihat di sosial media.

Nah, untuk pendapatan kami belum bisa taksir rata rata pendapatan," kata dia.

Sementara itu, Ketua DPD Paguyuban Sundawani Wirabuana Kuningan,yakni Hamid Yadi mengaku untuk usaha Ekraf yang melibatkan pengurus atau seniman dari Sundawani ini belum merata terjadi di Kuningan.

"Untuk jumlah pengrajin model begini, dari ribuan anggota Paguyuban Sundawani di Kuningan, baru menyebar di empat titik," ujarnya. (*)

Simak Berita dari Kuningan yang Menarik Lainnya

Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved