Breaking News:

Virus Corona Mewabah

INI Varian Baru Virus Corona, Jenis N439K, Lebih Berbahaya, Gak Mempan Pakai Vaksin Covid-19

Pihak Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengimbau warga untuk mewaspadai varian baru virus corona N439K.

Institut Kesehatan Nasional / AFP
Gambar ini diperoleh 12 Maret 2020, milik National Institutes of Health (NIH) / NIAD-RML menunjukkan gambar mikroskop elektron transmisi SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan COVID-19, diisolasi dari seorang pasien di AS, karena partikel virus (benda bulat emas) muncul dari permukaan sel yang dikultur di lab, paku di tepi luar partikel virus memberi coronavirus nama mereka, seperti mahkota. 

Dalam jurnal Cell, peneliti menganalisis pengikatan lebih dari 440 sampel serum poliklonal dan lebih dari 140 antibodi monoklonal dari pasien yang pulih.

Mereka menemukan bahwa pengikatan proporsi antibodi monoklonal dan sampel serum secara signifikan berkurang oleh N439K.

Serta yang paling penting, ternyata mutasi N439K ini memungkinkan pseudovirus menolak netralisasi oleh antibodi monoklonal yang telah disetujui oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA).

Kesimpulannya, ada kemungkinan bahwa varian baru N439K ini tidak bisa diatasi dengan vaksin Covid-19 yang ada sekarang.

3. Lebih menular

Seperti diberitakan Kompas.com, Jumat (12/3/2021), tidak ada ciri atau gejala khusus dari varian N439K.

Ahli biologi molekuler Indonesia, Ahmad Utomo mengatakan, meskipun dianggap lebih "pintar" daripada virus corona yang ada sebelumnya, Ahmad mengatakan sejauh ini tidak ada ciri khususnya.

"Tidak ada ciri khusus dari sisi dampak gejala penyakit paska-terinfeksi," kata Ahmad.

Baca juga: 4 Klaim Keunggulan Vaksin AstraZeneca yang Baru Tiba di Indonesia

Artinya gejala yang akan timbul dari infeksi varian baru N439K ini hampir sama seperti infeksi virus SARS-CoV-2 sebelum termutasi.

Kendati tidak memiliki ciri khas mengenai dampak gejala infeksi akibat varian baru yang satu ini, tetapi diketahui bahwa varian N439K ini relatif lebih mudah menular.

"Memang (varian N439K) relatif lebih mudah menular, sehingga jumlah yang sakit bisa lebih banyak," jelas Ahmad.

Kurangi kegiatan di ruang ber-AC

Para peneliti pun mengimbau pada pemerintah dan masyarakat untuk memperketat protokol kesehatan, melalui 3T dan 5M.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved