Human Interest Story
Ibu dan Bapaknya Buta Huruf Bahkan Tak Tamat SD, Tapi Anaknya Bisa Meraih Beasiswa S2 di China
Siti Soleha menceritakan, orang tuanya sama sekali tidak mengenyam bangku pendidikan. Mereka juga tidak sampai tamat SD.
Penulis: Handhika Rahman | Editor: Mumu Mujahidin
Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Handhika Rahman
TRIBUNCIREBON.COM, INDRAMAYU - Siti Soleha (26), anak buruh tani asal Desa Plumbon, Kecamatan/Kabupaten Indramayu kini tercatat sebagai mahasiswi S2 jurusan Bahasa Mandarin di Northeast Normal University China.
Ia memulai kuliah S2 sejak tahun 2019 dan kini tengah berjuang menyusun tesis.
Siti Soleha menargetkan bisa lulus dengan hasil memuaskan pada tahun ini.
Hasil tersebut ingin ia berikan kepada orang tuanya, sekaligus mengabdi kepada tanah air dengan ilmu yang ia dapatkannya itu.
Baca juga: KISAH Anak Pasangan Buruh Tani di Indramayu Bisa Kuliah S2 di China, Semangat Hidupnya Menginspirasi
Baca juga: Melly Goeslaw Marah dan Tantang dr Tirta Secara Gentle Soal Foto Dirinya Menggunakan Face Shield
Siti Soleha masih mengingat saat ia dinyatakan lolos seleksi beasiswa melanjutkan S2 Confucius Institute dari pemerintah China.
"Waktu itu orang tua seneng banget, mereka sampai pengen nganter ke Bandara," ujar dia kepada Tribuncirebon.com melalui sambungan seluler, Senin (11/1/2021).
Siti Soleha menceritakan, orang tuanya sama sekali tidak mengenyam bangku pendidikan. Mereka juga tidak sampai tamat SD.
Keduanya juga buta huruf, demi bisa menyambung hidup, mereka bekerja sebagai buruh tani.
Kondisi ekonomi yang serba kekurangan membuat mereka tak sanggup menyekolahkan Siti Soleha ke jenjang yang lebih tinggi.
Kendati demikian, wanita kelahiran 21 Juli 1994 itu tidak berputus asa, ia melamar berbagai program beasiswa demi membanggakan kedua orang tuanya.
"Jadi orangtuaku itu memang buta huruf, terus gimana ya, orang tua ngerasa gak bisa baca tulis tapi bisa lihat anaknya terbang ke China, semua berkat doa dari mereka juga," ucapnya.
Siti Soleha berharap, ilmu yang didapatnya dari negeri tirai bambu tersebut bisa bermanfaat bagi masyarakat luas di Indonesia.
Ia ingin mengajar bahasa mandarin di Indonesia atau bekerja di lembaga pemerintah yang berhubungan dengan Bahasa Mandarin, seperti pada lembaga yang memberikannya beasiswa ke China.
Dengan bekerja di lembaga itu, ia ingin membantu para generasi penerus yang memiliki cita-cita yang sama seperti dirinya untuk melanjutkan studi ke luar negeri.