Dalam Sehari Pasien Covid-19 di Jabar Bertambah 1.000 Kasus, 1 Hotel Sudah Beroperasi untuk Isolasi
Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan RI tersebut, 60.940 orang di antaranya sudah sembuh dan 1.095 orang lainnya meninggal dunia.
Editor:
Machmud Mubarok
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Syarif Abdussalam
TRIBUNCIREBON.COM, BANDUNG - Rata-rata penambahan jumlah kasus pasien terkonfirmasi positif Covid-19 di Jawa Barat dalam seminggu terakhir mencapai sekitar seribu pasien sehari.
Secara kumulatif sampai 20 Desember 2020, tercatat ada 73.948 orang terinfeksi Covid-19 di Jawa Barat.
Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan RI tersebut, 60.940 orang di antaranya sudah sembuh dan 1.095 orang lainnya meninggal dunia.
Baca juga: Lirik Lagu Sholawat Innal Habibal Musthofa - Ai Khodijah Lengkap Terjemahannya, Sempat Trending
Baca juga: Download Lagu Sholawat Innal Habibal Musthofa Versi Ai Khodijah, Lengkap Lirik Lagu & Terjemahannya
Baca juga: VIDEO - Polda Jabar Akan Prioritaskan Sejumlah Titik Jelang Pengamanan Nataru 2021, Ini Daftarnya
Sedangkan, terdapat 11.913 pasien yang masih menjalani perawatan di rumah sakit atau isolasi di Jawa Barat, atau berstatus positif aktif.
Data penambahan kasus Covid-19 harian di Jabar sendiri memang masih fluktuatif, terlebih beberapa waktu lalu diumumkan bahwa tidak semuanya murni penambahan kasus hari tersebut, melainkan hampir separuhnya akumulasi kasus-kasus yang belum terlaporkan.
Pada 13 Desember 2020, tercatat penambahan 855 kasus baru Covid-19. Kemudian pada hari selanjutnya secara berurutan bentambah 600 kasus baru, lalu 1.256 kasus, 1.434 kasus, 1.277 kasus, 987 kasus, 1.132 kasus, dan terdapat penambahan 1.052 kasus pada 20 Desember 2020.
Sebagian besar penambahan kasus baru positif Covid-19 tersebut berasal dari wilayah Bodebek, Bandung Raya, Karawang dan Garut. Sisanya secara sporadis di berbagai kota dan kabupaten lainnya di Jawa Barat.
Ketua Harian Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Provinsi Jabar, Daud Achmad, mengatakan pihaknya pun terus berupaya menambah kapasitas tempat tidur untuk tempat perawatan dan isolasi pasien Covid-19, baik di rumah sakit maupun di gedung isolasi khusus.
Di Bandung Raya contohnya, pihaknya tengah mengupayakan penyediaan tempat isolasi di Wisma Atlet di Gunung Bohong di Kota Cimahi, Kodiklat Bela Negara di Lembang di Kabupaten Bandung Barat, dan Secapa TNI AD di Kota Bandung.
Di Kota Bandung sendiri, katanya, terdapat sebuah hotel yang dijadikan tempat isolasi pasien Covid-19 kemudian sudah dioperasikan pada Senin (21/12).
"Ada lokasi di Kota Bandung, hotel kapasitas 70 orang," kata Daud di Gedung Sate, Kota Bandung, Senin (21/12).
Sedangkan untuk penggunaan Secapa TNI AD di Kota Bandung sebagai tempat isolasi masih harus dilakukan sedikit pengerjaan bangunan. Penyiapan Wisma Atlet di Gunung Bohong pun, katanya, hampir rampung.
"Di Secapa TNI AD keliatannya ada fisik bangunan yang perlu pembenahan terlebih dahulu. Untuk yang di Gunung Bohong mudah-mudahan minggu ini atau secepatnya bisa beroperasi," katanya.
Secara keseluruhan di Jawa Barat, jumlah rumah sakit yang merawat pasien Covid-19 sebanyak 308 rumah sakit dengan total 7.308 tempat tidur. Angka keterisiannya mencapai 75,48 persen pada pekan lalu. Untuk merawat pasien positif Covid-19 tanpa gejala, di Jabar terdapat 2.631 tempat tidur di gedung isolasi. Sampai 13 Desember, tercatat 1.542 tempat tidurnya telah terisi atau 58,6 persennya.
Jika digabungkan, terdapat 9.945 tempat tidur, baik di rumah sakit dan tempat isolasi, untuk merawat dan karantina pasien Covid-19 di Jabar. Padahal secara keseluruhan, terdapat 11.913 pasien positif Covid-19 yang masih dalam status perawatan atau isolasi, termasuk isolasi mandiri.
Daud Achmad mengatakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat tengah mempersiapkan penggunaan 15 gedung asrama dan hotel di Jawa Barat untuk tempat isolasi dan perawatan pasien Covid-19.
Penambahan gedung baru dan penyiapan tenaga medis serta kesehatannya ini, katanya, dilakukan seiring dengan penambahan kasus Covid-19 di sejumlah daerah di Jawa Barat, terutama di kawasan perkotaan.
"Kasus Covid-19 semakin naik terus, bed occupancy rate (angka keterpakaian tempat tidur) kita makin naik, di Bandung Raya dan wilayah Bodebek. Sudah nambah bed di Depok, plus Bekasi buka stadion, wisma haji, dan sebagainya. Ini yang Bandung Raya kita inventarisasi," kata Daud.
Gubernur Jabar dan Pangdam III/Siliwangi, katanya, telah membicarakan pemanfaatan sejumlah gedung pendidikan militer di Jawa Barat menjadi tempat isolasi dan perawatan.
"Ada gedung yang di bawah kendali Kodam III Siliwangi, seperti Wisma Atlet di Gunung Bohong Kota Cimahi, kemudian juga ada Kodiklat Bela Negara di Lembang itu masuk dua. Rapat hari Senin kemarin ada Pak Kasad menawarkan, setelah Jumat ini, Secapa TNI AD di Bandung bisa dipakai. Kami sedang persiapkan dengan Kesdam," katanya.
Penambahan tiga gedung ini sebagai tempat perawatan, katanya, sudah sangat cukup untuk menambah kapasitas tempat perawatan di Bandung Raya. Terlebih ditambah dengan Secapa TNI AD yang bisa menampung lebih dari 1.000 orang.
Daud mengatakan dengan penambahan gedung tempat perawatan dan isolasi ini, pasien bergejala ringan yang selama ini dirawat di rumah sakit di ruang rawat kategori hijau, bisa dirawat di tempat perawatan baru ini.
Sedangkan yang di ruang rawat kategori kuning bisa ditempatkan di kategori hijau di rumah sakit. Kemudian seterusnya sehingga bisa menambah kapasitas perawatan di ruang rawat kategori merah dan kuning di rumah sakit.
"Untuk tenaga kesehatannya, sebetulnya sudah ada relawan banyak yang selalu bertanya kapan mereka bisa mulai kerja, lagi dipetakan. Kemudian kita minta juga dari rumah sakit swasta yang kecil dan pusat pelayanan kesehatan lain yang tidak menampung pasien Covid-19," katanya.
"Untuk tenaga kesehatannya, sebetulnya sudah ada relawan banyak yang selalu bertanya kapan mereka bisa mulai kerja, lagi dipetakan. Kemudian kita minta juga dari rumah sakit swasta yang kecil dan pusat pelayanan kesehatan lain yang tidak menampung pasien Covid-19," katanya.
Untuk mengisi kekosongan tenaga kesehatan, katanya, pihaknya juga akan berkolaborasi dengan organisasi profesi dan tempat pendidikan tenaga kesehatan. Mereka akan bekerja sambil dibimbing tenaga kesehatan yang sudah ahli.
"Istilahnya mereka mungkin tandem ya. Karena kalau harus belajar, seperti perawat kalau mau mengoperasikan IGD, itu harus belajar tiga bulan. Di situasi darurat ini, kita learning by doing dengan pengawasan ketat," katanya. (*)
"Istilahnya mereka mungkin tandem ya. Karena kalau harus belajar, seperti perawat kalau mau mengoperasikan IGD, itu harus belajar tiga bulan. Di situasi darurat ini, kita learning by doing dengan pengawasan ketat," katanya. (*)
Berita Terkait