Ada Kambing Digigit Hewan Buas Misterius Tapi Masih Hidup, Dibeli Tim BKSDA untuk Pemeriksaan
Hingga kini tindakan pemeriksaan yang sebelumnya mengambil kepala kambing mati untuk dijadikan sampel, itu belum ada hasilnya
Penulis: Ahmad Ripai | Editor: Machmud Mubarok
Laporan Kontributor Kuningan, Ahmad Ripai
TRIBUNCIREBON.COM, KUNINGAN – Seekor kambing yang memiliki bekas gigitan hewan buas misterius di Kecamatan Cibingbin, Kabupaten Kuningan, kini dibeli oleh Tim Identifikasi dari BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) dan Labvet Laboratorium Subang Kementrrian Peternakan.
“Pembelian kambing itu dalam kondisi lemas, untuk dijadikan uji lab dan pemeriksaan pada beberapa organ kambing tersebut,” ungkap dokter hewan Kuningan, yakni Rofiq sekaligus Kasi Keswan dan Kesmavet Dinas Peternakan Kuningan saat dihubungi Tribuncirebon.com, Jum’at (18/12/2020).
Harga kambing sebesar Rp 1 juta, kata Rofiq, kini berada di tangan tim Identifikasi dan pembelian itu baru hari kemarin.
“Sekarang kambing ada di tangan tim identifikasi,” katanya.
Menyinggung soal tindakan, kata dokter hewan ini, pemeriksaan kambing itu untuk menggali keterangan.
“Sebab kasus kambing mati misterius di Kecamatan Cibingbin, bukan pertama kali ini saja.
Melainkan kejadian sama pun berlangsung sejak lima tahun dan sepuluh tahun lalu, ini peristiwa bisa dikatakan periodik di lingkungan warga Cibingbin,” ungkapnya.
Penggalian keterangan, kata dia, tentu memiliki latar belakang kuat dalam mengungkap kasus kematian kambing misterius tersebut.
“Iya dari sekian banyaknya kambing mati, itu kondisi tubuh atau dagingnya masih utuh,” ujarnya.
Kemudian hendak dilakukan pemeriksaan, kata dia, apakah nanti ditemukan virus rabies atau penyakit paparan pada hewan mematikan atau apa?
“Hingga kini tindakan pemeriksaan yang sebelumnya mengambil kepala kambing mati untuk dijadikan sampel, itu belum ada hasilnya.
Juga dengan kambing pembelian kemarin pun sama belum dilakukan pemeriksaan,” katanya.
Baca juga: Aura Kasih Gugat Cerai Eryck Amaral, Keberadaan Suami Tak Diketahui, Gugatan Didaftarkan Via Online
Baca juga: Rizky Billar dan Lesti Kejora Akhirnya Go Public Soal Hubungan Asmaranya: Saling Tumbuh Rasa
Baca juga: Nathalie Holscher Sempat Mual-mual, Sule Jawab Isu Soal Kehamilan Sang Istri
Diberitakan sebelumnya, riwayat kematian kambing misterius yang terjadi di Kecamatan Cibingbin, Kuningan terus dilakukan tim pemeriksaan dan identifikasi pemerintah.
“Kita sudah dua kali kelokasi dan melakukan perekaman terhadap sejumlah tempat di lingkungan kandang kambing tersebut,” kata Kasi Keswan dan Kesmavet, yakni drh Rofiq mewakil Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Kuningan, Jum’at (18/12/2020).
Rofiq mengemuka bahwa tindakan ke lokasi kandang itu banyak ditemukan keterangan sebagai bahan peneliatian lebih lanjut.
“Iya kami ke lokasi bareng Tim dari BKSDA dan Petugas Balai Laborotirum dari Subang.
Kesimpulan sementara sepakat menyebutkan bahwa kematian kambing itu di duga akibat hewan sejenis anjing liar alias ajag,” ungkapnya.
Sebab, masih kata Rofiq, selain ditemukan sejumlah jejak kaki binatang sejenis anjing liar atau ajag. “Tim pun melakukan pemeriksaan dan menggali keterangan dari warga dan pemilik hewan ternak tersebut,” kata Rofiq lagi.
Dia menyebutkan, rekaman jejak kaki hewan dengan ukuran sekitar 2-3 senti meter. “Mengerecut bahwa serangan mematikan hewan ternak warga itu benar serupa ajag,” katanya.
Namun, kata Rofiq, pihaknya terus melakukan penggalian dalam pengungkapan kasus kematian kambing misterius tersebut.
“Sebab, perlu diketahui bahwa kebiasaan ajag itu merupakan hewan bergerombal dan ketika menerkam mangsa, otomatis tidak meninggalkan begitu saja.
Nah, yang pertanyaan itu kenapa bangkai kambing masih utuh?” ujarnya.
Sosok ajag, kata Rofiq, itu memiliki tubuh lebih kecil dari anjing dewasa pada umumnya. “Kemudian mereka melakukan serangan selalu bergerombol,” ujarnya.
Sekedar informasi, jumlah kematian kambing oleh hewan buas misterius di Kecamatan Cibingbin, kini bertambah menjadi 47 ekor.
Hal itu setelah sebelumnya terjadi di Desa Cipondok terdaat 24 ekor kambing mati dan disusul dengan 15 ekor kambing mati di Desa Sukaharja dan 8 ekornya lagi terjadi di Desa Ciangir.
“Iya di desa kami ada delapan ekor kambing mati dengan kejadian sama di Desa Cipondok,” ungkap Kepala Desa Ciangir Rahmat saat dikonfirmasi, Senin (14/12/2020).
Menurut Rahmat orang nomor satu di desa itu mengaku bahwa kejadian seperti ini.
“Pernah terjadi di beberaa tahun sebelumnya. Cuma bedanya dengan titik serangan terjadi kambing itu sendiri,” ujar Rahmat.
Mengenai serangan yang dilakukan hewan buas, kata Rahmat, dirinya tidak mengetahui persis itu binatang apa.
“Sebab ada beberapa warga bilang, bahwa hewan itu mirip Kucing lueweung, anjing leuweung kaya gitu,” katanya.
Dahulu kematian menimpa hewan ternak warga, kata dia, ini sama persis pada tubuh kambing yang terlihat satu titik terluka.
“Iya dulu lukanya itu persis dari anus dan sekarang kambing mati itu melihatkan luka bekas sedotan darah hewan buas tersebut,” katanya.
Hal serupa dikatakan Kepala Desa Sukaharja, yakni Cecep Rohadi mengatakan, bahwa serangan hewan buas itu menimbulkan kematian sebanyak 15 ekor kambing.
“Peristiwa itu terjadi di Dusun Tiga desa kami dan ini sama seperti kambing-kambing yang mati di Dusun Tiga, Desa Cipondok. Tidak ada bagian tubuh yang hilang bahkan nyaris tanpa luka,” ujar Kepala Desa tadi.
Dari 15 ekor kambing itu, sembilan diantaranya ditemukan mati di dalam kandang. Sementara enam ekor lainnya masih hidup namun dalam kondisi sekarat.
“Dalam laporan diterima desa, belasan kambing mati terjadi di hari Minggu (13/12/2020) pagi, saat pemilik akan memberi makan kambing,” katanya.
Sembilan ekor kambing sudah tergeletak mati itu kondisinya penuh luka gigitan. “Namun tidak ada satupun bagian tubuh kambing yang hilang dimakan alias tubuh kambing mati utuh,” katanya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/cirebon/foto/bank/originals/kambing-mati-wajar.jpg)