Soal Ekspor Benih Benur Edhy Prabowo, Pengusaha Benur Pangandaran Menilai Lebih Baik Budidaya
budidaya benih benur tersebut dinilai lebih menguntungkan dari pada harus ekspor, karena kebijakan itu merugikan pengusaha kecil
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin
TRIBUNCIREBON.COM, PANGANDARAN - Pengusaha benur atau lobster asal Kabupaten Pangandaran menilai seharusnya pemerintah membudidayakan benih benur dari pada harus ekspor seperti kebijakan Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo.
Pasalnya, budidaya benih benur tersebut dinilai lebih menguntungkan dari pada harus ekspor, karena kebijakan itu merugikan pengusaha kecil dan lebih menguntungkan para pengusaha besar saja.
"Kenapa Indonesia gak budidaya (benur) saja? Lebih baik galakkan budidaya dan pertahankan," ujar Suplier Benur asal Kalipucang, Wahyudi (40) saat dihubungi Tribun Jabar, melalui sambungan telepon, Rabu (25/11/2020).
Baca juga: Pemain Persib Bandung yang Gabung Timnas U-19 Indonesia Mendapat Perlakuan Khusus dari Klub
Baca juga: Masih Bisa Kok Kirim Ucapan Hari Guru Nasional 2020 dalam Bentuk Pantun, Berikan Lewat WhatsApp
Baca juga: Sekda Jabar Tekankan Pentingnya Sosialisasi dan Edukasi Sebelum Vaksinasi Covid-19
Baca juga: Kesal Lamarannya Ditolak, Pria Ini Sebar Video Syur Bersama Sang Pacar, Akhirnya Dinikahkan
Dengan cara seperti itu, menurut dia, bakal lebih menguntungkan karena nantinya bisa dijual dengan harga yang lebih tinggi ketika lobster tersebut sudah besar dan siap dikonsumsi.
"Misalnya, pengepul di Pangandaran, persilakan menjual lobster, tapi baby lobster harus dipelihara dan dikasih modal, saya rasa itu lebih bagus," kata Wahyudi.
Dengan cara seperti itu, kata dia, nantinya buyer asal luar negeri bakal kelabakan karena pengusaha di Indonesia, termasuk di Pangandaran bisa menaikkan harga yang lebih tinggi daripada ekspor benih benur tersebut.
"Sekarang baby lobster per ekor Rp 40 ribu, sedangkan harga lobster besar yang ukuran 100 gram, sekarang harganya bisa mencapai Rp 120 ribu, kan gak seimbang," ucapnya.
Untuk itu, pihaknya berharap pemerintah harus bisa melakukan peninjauan kembali setiap mengeluarkan kebijakan, terutama dalam hal ekspor benih benur.
"Tinjau dampaknya terhadap pengusaha kecil atau UKM, harus diperhatikan karena pengusaha besar tidak akan berjalan tanpa UKM," kata Wahyudi.
Sementara Pengusaha Benur asal Babakan, Ekong (47) mengatakan, lebih baik pemerintah memperhatikan nasib para nelayan, bagiamana caranya supaya mereka makmur dan sejahtera.
"Karena kalau nelayan makmur, saya juga pasti kebagian karena saya pembeli. Kalau sudah makmur nelayan juga pasti semangat. Intinya, setiap kebijakan harus menguntungkan," ucapnya.
Kasus ekspor benur diduga yang membuat Menteri KKP Edhy Prabowo ditangkap KPK, Rabu dini hari.
Dalam tayangan Breaking News di Kompas.TV, disebutkan bahwa penangkapan berlangsung di Bandara Soekarno Hatta. Menteri KKP baru pulang dari Hawai Amerika Serikat. Langsung dig
Timothy, host Kompas TV, mengkonfirmasi KPK melalui Wakil Ketua KPK Nurul Ghufron. Ghufron membenarkan adanya penangkapan itu sejak Selasa malam dan Rabu dini hari.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/cirebon/foto/bank/originals/baby-lobster.jpg)