Viral di Media Sosial
Mitos Kemunculan Lintang Kemukus di Bojonegoro Jadi Pertanda Buruk, Ini Penjelasan Lengkap BMKG
Para warganet mengunggah foto-foto yang diklaim sebagai lintang kemukus di langit kota Jawa Timur, yaitu sekitar Tuban dan Bojonegoro.
Oleh karena itu, menurut Marufin, dari kemungkinan-kemungkinan yang ada, tinggal menyisakan sumber cahaya buatan manusia.
"Pertama, lampu pesawat. Meski kemungkinan kecil karena tidak kelihatan pola terang gelapnya," jelas Marufin.
Dugaan kedua adalah layang-layang berlampu dan ketiga adalah balon udara buatan sendiri.
Baca juga: Kisah Perempuan Papua Yang Jadi KOWAD, Susah Payah Tes, Kini Jadi Anak Buah Jenderal Andika Perkasa
Baca juga: Prabowo Akui Gerindra Dukung UU Cipta Kerja, tapi Klaim Kurangi Pasal-pasal yang Terlalu Liberal
Pertanda Pagebluk
Dikutip dari historia.id, Pada zaman Mataram Islam misalnya, pagebluk dihubungkan dengan kemunculan bintang berekor atau komet.
Orang Jawa menyebutnya lintang kemukus.
Menurut tradisi mereka, kemunculan komet pada arah tertentu memiliki arti, di antaranya sebagai pertanda kemunculan pagebluk.
"Memang umumnya penampakkan komet dimaknai sebagai membawa ‘hal yang kurang baik’, kecuali apabila muncul di arah barat," jelas Dwi.
Berdasarkan buku Sejarah Kutha Sala: Kraton Sala, Bengawan Sala, Gunung Lawu yang ditulis R.M. Ng. Tiknopranoto dan R. Mardisuwignya, Dwi menjelaskan bila komet muncul di arah timur tandanya ada raja yang sedang berbela sungkawa.
Lalu rakyatnya bingung.
Desa pun banyak yang mengalami kerusakan dan kesusahan. Harga beras dan padi murah, tetapi emas mahal harganya.
Bila bintang berekor muncul di tenggara menandakan ada raja yang mangkat.
Orang desa banyak yang pindah. Hujan jarang. Buah banyak yang rusak. Ada wabah penyakit yang membuat banyak orang sakit dan meninggal.
Beras dan padi mahal. Kerbau dan sapi banyak yang dijual.
Apabila komet muncul di arah selatan tandanya ada raja mangkat. Para pembesar susah. Banyak hujan. Hasil kebun melimpah.