Breaking News:

Jualan Sepi Gara-gara PSBB Jakarta, Pengusaha Muda Bikin Kedai Mie Tarik di Kuningan, Dibuat Manual

Usaha di daerah ini, kata Boni, sekaligus sebagai pengembangan usaha kedai mie yang tersebar di kawasan kota besar

Penulis: Ahmad Ripai | Editor: Machmud Mubarok
TribunCirebon.com/Ahmad Ripai
Mie Tarik menjadi menu andalan Kedai Mie Tarik di kawasan Pasar Krucuk, Kecamatan Kramatmulya, Kuningan. 

Laporan Kontributor Kuningan, Ahmad Ripai

TRIBUNCIREBON.COM, KUNINGAN - Kedai mie tarik yang terletak di kawasan Pasar Krucuk, Kecamatan Kramatmulya jadi buruan pengunjung.

Padahal kedai itu belum lama hadir di Kuningan.

"Untuk seporsi harga mie tarik kami jual seharga Rp 20 ribu," ungkap Saroni yang akrab disapa Boni, saat ditemui di lapak usahanya, jalur Kuningan - Cirebon, Kamis (1/10/2020).

Bisnis Kuliner Milik Dua Pemain Persib Bandung Ini Lesu, Akhirnya Tutup Gara-gara Pandemi Covid-19

PROMO JSM ALFAMART Akhir Pekan 2-4 Oktober 2020, Dapatkan Harga Murah Beras Minyak Goreng

Bos Sate di Kuningan Peduli Nasib Tetangga yang Ekonominya Babak Belur Akibat Corona, Diajak Gabung

Menurut Boni, usaha yang dilakukan ini sebagai dampak dari kebijakan pemerintah DKI. "Pas Jakarta PSBB, kami pulang kampung dan bikin usaha di daerah," ujar Boni yang juga mantan karyawan hotel berbintang di DKI.

Usaha belum genap usaha dua bulan dilakukan. "Kami memiliki 10 karyawan dengan penghasilan mencapai Rp 10 juta," katanya.

Usaha di daerah ini, kata Boni, sekaligus sebagai pengembangan usaha kedai mie yang tersebar di kawasan kota besar. "Di Kuningan, kita baru punya satu cabang dan kalau untuk di Jakarta, jumlah cabang usaha kaya begini, ada 10 lapak di tempat daerah berbeda," ungkap Boni.

Menyinggung soal menu yang disajikan, kata dia, ada mie tarik dengan aneka toping berbeda.

"Iya kita di sini menu istimewa itu mie kuah. Untuk cita rasa dan kelezatan itu bisa langsung tanya ke setiap konsumen saja," katanya.

Selain menu mie tarik, kata Boni, sajian makanan berat dan ringan menjadi pelengkap saat pengunjung menghabiskan waktu di kedai miliknya.

"Makanan berat itu umum seperti kedai atau kafe yang ada di daerah lain. Untuk minuman, kami racikkan dengan branding berbeda. Seperti es ambyar, es poligami dan semua jenis minuman itu dihargakan Rp 7500," ujar Boni lagi.

Ditanya soal cara pembuatan, kata Boni, pembuatan mie senggaja dilakukan dengan cara manual. "Ini untuk menghilangkan penilaian warga yang banyak menyebutkan bahwa mie ini berbahan yang aneh-aneh. Seperti campuran boraks atau bahan pengawet lainnya," ungkapnya.

Pembuatan manual, kata dia, dikakukan secara terbuka dan tidak sedikit pengunjung terhibur dengan aksi pembuat mie tadi.

"Iya semua kita terbuka, mulai dari pembuatan adonan, pembuatan mie yang ditarik - tarik dan penyajian yang bisa langsung terlihat," ujarnya.

Adanya kebijakan daerah tentang PSBM (Pembatasan Sosial Berskala Mikro, red), kata dia, tentu berdampak terhadap penghasilan. "Namun untuk menjaga kepuasaan pengunjung atau konsumen, kita siasati dengan buka operasional lebih pagi dari jam biasanya," katanya.

Sementara salah seorang pengunjung, yakni Rina mengatakan, untuk kuliner mie tarik ini memang sangat enak.

"Terlebih harga dan kualitas tidak membohongi lidah saat merasakan langsung," katanya.

Rina mengaku, datang ke lapak milik Boni setelah tahu dari sosial media. 

Kata Rina, kuliner mie tarik jelas menambah jumlah kuliner di kota kuda. "Pokoknya ngeunah," katanya. (*)

Sumber: Tribun Cirebon
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved