Polemik Keraton Kasepuhan Cirebon

Raharjo Kecewa Elang Upi Diusir dari Lokasi Penobatan PRA Luqman Zulkaedin

Padahal, Elang Upi ingin menghadiri tahlil dan doa bersama 40 hari mangkatnya Sultan Sepuh XIV, PRA Arief Natadiningrat.

Penulis: Ahmad Imam Baehaqi | Editor: Mumu Mujahidin
Ahmad Imam Baehaqi/Tribuncirebon.com
Raharjo Djali, cucu Sultan Sepuh XII, Tadjoel Arifin Djamaluddin Aluda Mohammad Samsudin Radjaningrat. 

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Ahmad Imam Baehaqi

TRIBUNCIREBON.COM, CIREBON - Raharjo Djali, mengaku kecewa atas tindakan "pengusiran" Elang Mas Upi Supriadi dari lokasi jumenengan atau penobatan PRA Luqman Zulkaedin di Bangsal Prabayaksan Keraton Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, pada Minggu (30/8/2020).

Raharjo yang juga cucu Sultan Sepuh XII Tadjoel Arifin Djamaluddin Aluda Mohammad Samsudin Radjaningrat, menilai tindakan tersebut merupakan pelecehan terhadap Elang Mas Upi Supriadi yang notabene sesepuh keraton.

Padahal, Elang Upi ingin menghadiri tahlil dan doa bersama 40 hari mangkatnya Sultan Sepuh XIV, PRA Arief Natadiningrat.

Sayangkan Kericuhan Mewarnai Penobatan PRA Luqman Zulkaedin, Raharjo: Tetap Menolak tapi Elegan

Cerita Devi Nuraisyah Stephani, Sopir Truk Cantik yang Viral, Taklukkan Tanjakan Curam Sitinjau

Namun, Elang Upi yang datang bersama Ratu Mawar dari Keraton Kanoman justru diminta keluar meninggalkan Bangsal Prabayaksa.

Sebab, kala itu Ratu Mawar tiba-tiba berjalan ke depan hingga ke tengah bangsal dan berteriak, "Saya menolak jumenengan ini, tidak sah."

Sejumlah abdi dalem pun tampak bergegas menarik Ratu Mawar dan Elang Mas Upi Supriadi keluar Bangsal Prabayaksa.

"Kejadian itu jelas pelecehan terhadap Elang Upi yang merupakan sesepuh keraton," kata Raharjo Djali saat ditemui di kawasan Jalan Kartini, Kota Cirebon, Selasa (1/9/2020).

Ia juga menyayangkan tindakan pengusiran tersebut dan menilai hal itu tidak seharusnya dilakukan.

Apalagi Elang Upi merupakan sesepuh keraton, sehingga tidak sepantasnya mendapatkan tindakan tersebut.

"Beliau (Elang Upi) ingin hadir di tahlilan, tapi malah didorong dan diusir," ujar Raharjo Djali.

 

Elang Mas Upi Supriadi saat dituntun keluar meninggalkan Bangsal Prabayaksa Keraton Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Minggu (30/8/2020).
Elang Mas Upi Supriadi saat dituntun keluar meninggalkan Bangsal Prabayaksa Keraton Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Minggu (30/8/2020). (Ahmad Imam Baehaqi/Tribuncirebon.com)

Pihaknya juga tetap menolak PRA Luqman sebagai Sultan Sepuh XV.

Namun, ia mengatakan, penolakan tersebut akan disampaikan secara elegan.

"Kami melakukan cara-cara yang elegan, yakni membawanya ke jalur hukum," ujar Raharjo Djali.

Tetap Menolak tapi Elegan

Kericuhan sempat mewarnai jumenengan atau penobatan PRA Luqman Zulkaedin sebagai Sultan Sepuh XV di Bangsal Prabayaksa Keraton Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, pada Minggu (30/8/2020).

Dari mulai ratusan santri mendatangi Alun-alun Kasepuhan pada Minggu siang dan Ratu Mawar dari Keraton Kanoman yang mengutarakan penolakannya saat prosesi jumenengan berlangsung.

Selain itu, massa Kasultanan Cirebon yang dipimpin Elang Tommy Iplaludin Denda Brata hendak memasuki Keraton Kasepuhan tetapi tidak bisa karena gerbangnya digembok.

Raharjo Djali yang sempat dikukuhkan sebagai polmah atau Pjs Sultan Keraton Kasepuhan mengaku sangat menyayangkan adanya kericuhan-kericuhan tersebut.

Menurut dia, aksi penolakan itupun tepah menodai prosesi jumenengan meski tetap menolak PRA Luqman dinobatkan sebagai Sultan Sepuh XV.

"Sangat disayangkan ada pengerahan massa dalam jumenengan kemarin," ujar Raharjo Djali saat ditemui di kawasan Jalan Kartini, Kota Cirebon, Selasa (1/9/2020).

Ia sendiri tidak berada di Cirebon dan sama sekali tidak mengerahkan massa untuk menggagalkan jumenengan tersebut.

Raharjo juga mengaku saat pelaksanaan jumenengan tengah berada di Jakarta karena mengikuti saran Wali Kota Cirebon, Nasrudin Azis.

 Sambil Menangis dan Suara Lirih PRA Luqman Zulkaedin Siap Mengemban Jabatan Sultan Sepuh XV

 Subsidi Gaji Rp 600 Ribu Mulai Ditransfer Kamis ke 3 Juta Penerima Karyawan Swasta

Saran tersebut disampaikan Azis saat pertemuan Forkompimda Kota Cirebon bersama PRA Luqman dan dan Ketua Umum Santana Kasultanan Cirebon, Pangeran Kuda Putih atau Raden Heru Rusyamsyi Arianatareja, di Makodim 0614/Kota Cirebon, Jalan Pemuda, Kota Cirebon, pada pekan lalu.

"Saya mengikuti anjuran Wali Kota untuk tidak di Cirebon, sehingga kembali ke Jakarta setelah pertemuan itu," kata Raharjo Djali.

Pihaknya juga tetap menolak PRA Luqman sebagai Sultan Sepuh XV dan merasa lebih berhak mewarisi takhta tersebut karena masih keturunan Sultan Sepuh XII, Tadjoel Arifin Djamaluddin Aluda Mohammad Samsudin Radjaningrat.

Namun, ia mengatakan, penolakan tersebut akan disampaikan secara elegan melalui jalur hukum.

"Kami melakukan cara-cara yang elegan, yakni membawanya ke jalur hukum," ujar Raharjo Djali.

Sumber: Tribun Cirebon
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved