Anggota DPRD Garut Positif Covid

Dua Anggota DPRD Garut Terkonfirmasi Positif Covid-19, Kantor DPRD Langsung Ditutup Selama 2 Pekan

KC-58 merupakan warga Kecamatan Pangatikan berusia 52 tahun berjenis kelamin laki-laki. KC-58 tak berhubungan dengan klaster DPRD Garut.

Editor: Machmud Mubarok
TribunJabar.id/Firman Wijaksana
Ilustrasi - Enam pasien positif Covid-19 di RSUD dr Slamet Garut dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang, Selasa (19/5/2020). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Firman Wijaksana

TRIBUNCIREBON.COM, GARUT - Kantor DPRD Kabupaten Garut akan ditutup selama dua pekan menyusul ada dua anggota dewan yang terkonfirmasi poisitif Covid-19.

Pada Senin (10/8/2020), anggota DPRD Garut hingga PNS dan honorer staf dewan melakukan swab test. Hal serupa juga dilakukan kepada para pegawai di Pemkab Garut.

Hasil swab test pun telah diumumkan pada Jumat (14/8/2020). Terdapat dua orang yang positif corona berdasarkan swab test.

Wakil Bupati Garut, Helmi Budiman, membenarkan adanya dua orang di DPRD Garut yang terkonfirmasi positif Covid-19. Keduanya jadi kasus ke 57 atau KC-57 dan KC-59.

Sedangkan KC-58 merupakan warga Kecamatan Pangatikan berusia 52 tahun berjenis kelamin laki-laki. KC-58 tak berhubungan dengan klaster DPRD Garut.

"Ada tiga kasus baru kemarin. Yang dua berasal dari DPRD. Sekarang mereka sudah menjalani isolasi di rumah sakit," ucap Helmi, Sabtu (15/8/2020).

Yati Takut Anaknya yang Kuliah di Kedokteran Unpad Berhenti di Tengah Jalan, Takut Gak Bisa Bayar

Update Harga HP Samsung Terbaru Agustus 2020: Galaxy A01 Core, Galaxy M31 Hingga Galaxy S20 Ultra

Kedua orang yang positif berdomisili di Kecamatan Bayongbong dan Cisurupan. Saat ini tim sedang melakukan penelusuran dan kemungkinan kedua anggota dewan itu tertular dari luar Garut

"Makanya dalam dua minggu ini, DPRD akan WFH (work from home) dulu. Sekarang sudah dilakulan tracing dan tracking," katanya.

Gelombang Kedua

Ketersediaan ruangan untuk pasien Covid-19 di Kabupaten Garut masih mencukupi. Meski dalam beberapa hari terakhir terus terjadi penambahan kasus konfirmasi positif.

Dari 63 tempat tidur khusus pasien Covid, saat ini hanya belasan kasur yang digunakan. Pasalnya, sejumlah pasien tak terlalu lama menjalani perawatan.

Sekretaris Dinas Kesehatan Garut, Leli Yuliani mengatakan, selama ini penanganan pasien Covid-19 difokuskan di RSUD dr Slamet. Ketersediaan ruangan di RSUD itu tak pernah kekurangan.

"Pasien juga tidak terus di sana. Ada juga yang sembuh," kata Leli, Kamis (13/8).

Rentang waktu perawatan pasien di RSUD Garut juga semakin cepat. Hal itu dikarenakan saat ini RSUD dr Slamet telah memiliki alat uji swab pasien Covid-19.

 Daftar Harga HP Vivo Agustus 2020: Mulai Rp 1 Jutaan, Ada Vivo Y19, Vivo X50, V19 Hingga Y12

 Jerinx Ditahan Polisi Gara-gara Ejek IDI dengan Singkatan Ikatan Drakor Indonesia, Istrinya Curhat

 INILAH Bacaan Niat dan Doa Setelah Shalat Tahajud, Lengkap dengan Bacaan Dzikir Serta Keutamaannya

Dengan begitu, tak perlu menunggu waktu lama untuk memastikan pasien dapat keluar dari rumah sakit. Jumlah pasien positif di Garut hingga kini sebanyak 54 orang. Dari jumlah itu, 37 sembuh dan hanya 13 yang menjalani perawatan.

Leli menyebut, saat ini rata-rata pasien Covid-19 di RSUD dr Slamet hanya menjalani isolasi selama sepekan.

Ketika sudah dipastikan negatif Covid-19, pasien telah diperbolehkan kembali ke rumahnya untuk melakukan karantina mandiri.

"Kalau sebelumnya kan suka lama karena menunggu hasil swab dari Bandung. Jadi perawatan pasien Covid-19 di rumah sakit juga menjadi semakin lama," kata dia.

Pihaknya memiliki rencana cadangan jika terjadi gelombang kedua pandemi Covid-19. Menurut dia, sejumlah fasilitas kesehatan, termasuk puskesmas yang memiliki layanan rawat inap, telah diminta menyediakan ruang isolasi untuk pasien Covid-19.

Ia menyebut, saat ini ada 32 puskesmas di Kabupaten Garut yang memiliki layanan rawat inap dan bisa dimaksimalkan untuk perawatan pasien Covid-19 jika dibutuhkan.

Tak hanya itu, pihaknya juga sudah menyiapkan rumah sakit darurat untuk menampung pasien Covid-19 jika terjadi lonjakan.

"Misal di Balai Diklat Keluarga Berencana akan disiapkan sebagai tempat isolasi, ada di rumah sakit swasta juga. Artinya sudah ada skema cadangan tapi jangan sampai ada gelombang lagi," kata dia.

Berdasarkan catatan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Garut, sejak Agustus 2020 terjadi penambahan 17 kasus konfirmasi positif Covid-19. Menurut Leli, peningkatan kasus itu disebabkan pemeriksaan yang dilakukan lebih banyak. 

Umumkan Hasil Swab Test 

Pemkab Garut akan segera mengumumkan hasil swab test para pegawai negeri sipil (PNS). Jika ada PNS yang terkonfirmasi positif corona, kantor Pemkab Garut akan ditutup.

Bupati Garut, Rudy Gunawan, mengatakan, pada hari Rabu atau Kamis pihaknya akan mengumumkan hasil swab test yang dilakukan PNS pada Senin (10/8/2020). Swab test massal itu akan terus dilakukan hingga akhir September.

"Kami targetkan akhir September selesai dengan jumlah sebanyak 27 ribu. Sampai sekarang sudah hampir 10 ribu swab test," ucap Rudy di Gedung Pendopo Garut, Selasa (11/8/2020).

 Bacaan Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Lengkap Beserta Kisah Pembuatan Naskah Proklamasi

 Naskah Teks Proklamasi Jadi Cagar Budaya Nasional, Disimpan di Kotak dari Mika Transparan

Rudy menyebut, jika ada PNS yang terkonfirmasi positif Covid-19, maka gedung perkantoran akan langsung ditutup. Seperti yang dilakukan Pemprov Jabar di Gedung Sate.

"Kami juga akan lakukan tracing kalau ada yang kena. Harus ditutup dulu untuk pencegahan penyebaran virus," katanya usai video conference dengan Presiden Joko Widodo.

Selain PNS, swab test juga akan menyasar TNI dan Polri. Ada tiga klaster yang wajib mengikuti swab test.

Pertama tenaga kesehatan yang berjumlah 4.000 orang. Hingga kini, baru 1.000 tenaga kesehatan yang sudah menjalani swab test.

Kedua, pegawai kantor yang bekerja dengan ruangan ber-AC. Sedangkan yang ketiga orang-orang di lokasi wisata.

"Sekarang kan lalu lalang orang sudah sulit terkontrol. Yang positif di Garut itu kan mereka berasal dari luar kota. Makanya pak presiden minta wajib memakai masker," ujarnya.

Rudy menambahkan, akan membagikan masker secara gratis kepada anak sekolah yang akan memulai belajar tatap muka pada 18 Agustus 2020. Terkait denda bagi yang tak bermasker, Rudy mengaku tak akan menerapkannya.

"Kami akan terus ingatkan untuk pakai masker. Nanti dibantu sama polisi dan TNI. Masker ini kan kayak PSBB, jadi harus diterapkan betul-betul," ucapnya.

Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved