Labkesda Jabar Mampu Periksa 3.000 Lebih Sampel Swab Test Per Hari, Warga Diminta Sukarela Ikut Tes

Targetnya pada pekan pertama 25.000 sampel dengan sasaran seluruh PDP, ODP, tenaga kesehatan, pedagang pasar, pemudik domestik dan dari luar negeri,

Editor: Machmud Mubarok
Humas Jabar
Aktivitas petugas Balai Laboratorium Kesehatan Provinsi Jawa Barat saat mengambil sampel dahak dan lendir tenggorokan hidung (swab test) anggota Klaster GBI Lembang, di Kota Bandung, Minggu (29/3/20). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Syarif Abdussalam

TRIBUNCIREBON.COM, BANDUNG - Balai Laboratorium Kesehatan Provinsi Jawa Barat meningkatkan kapasitasnya dengan menguji sampel uji usap atau swab test COVID-19 melebihi 3.000 sampel dalam satu hari. Sejak Sabtu (20/6), tim di Labkesda Jabar menerima dan memeriksa 3.156 sampel swab test.

Ribuan sampel tersebut berasal dari enam daerah, yakni Kabupaten Pangandaran, Kuningan, Garut, Tasikmalaya, Kabupaten Sukabumi, dan Kota Sukabumi, serta sampel lain seperti 88 siswa Papua.

Saat ini, Pemerintah Provinsi Jabar sedang menggelar Pekan Swab Massal di 17 kabupaten/kota melanjutkan uji usap di 10 daerah di kawasan Bodebek dan Bandung Raya yang melaksanakan PSBB Proporsional.

Targetnya pada pekan pertama 25.000 sampel dengan sasaran seluruh PDP, ODP, tenaga kesehatan, pedagang pasar, pemudik domestik dan dari luar negeri, pelaku perjalanan, serta kelompok rawan lainnya.

Ketua Divisi Pelacakan Kontak Deteksi Dini Pengujian Massal dan Manajemen Laboratorium pada Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan (GTTP) COVID-19 Provinsi Jawa Barat, Siska Gerfianti, mengatakan pencapaian ini adalah rekor terbaru sepanjang penanganan COVID-19 di Jabar.

Pencapaian ini dinilainya sangat berarti dalam upaya Jabar mempercepat penanggulangan COVID-19 terutama untuk melacak dan memetakan penyebaran virus yang pada gilirannya berimplikasi pada penanganan pasien positif di rumah sakit.

“Dengan kapasitas kita semakin meningkat, insya Allah tidak ada lagi bottle neck dalam PCR atau diagnosis, memberikan percepatan dalam mendapatkan hasil tes, dan tentu saja penanganan pasien akan lebih cepat,” kata Siska melalui ponsel, Senin (22/6).

Siska berharap rekor ini dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan dari waktu ke waktu. Namun hal ini tidak dapat dilakukan jika tidak ada sampel yang masuk ke laboratorium.

Sekujur Tubuh Ucup Terbakar, Lima Bulan Hanya Dirawat Beralas Daun Pisang, Kini Menunggu Keajaiban

Kisah John Kei Membangun Kerajaan Bisnisnya di Jakarta Justru Setelah Keluar dari Penjara

Pemulung Ini Bawa Uang Koin Sekarung Buat Beli Ponsel Baru, Endingnya Mengharukan

Untuk itu Siska meminta partisipasi aktif masyarakat dengan sukarela dan terbuka dalam uji usap yang dilakukan di klinik kesehatan, mobile, maupun tes masif.

Menurutnya, tidak ada alasan bagi warga untuk takut dan khawatir atas uji usap ini. Pelayanan dilakukan oleh tenaga profesional dan dengan protokol keamanan kesehatan sesuai standar WHO.

Dia menegaskan, tes masif merupakan bentuk rasa sayang Provinsi Jabar kepada masyarakat dan sebagai bagian upaya deteksi dini mencegah COVID-19. Jika tes masif optimal, maka GTTP Jabar tahu berapa orang yang telah terpapar COVID-19 dan tindakan lanjutannya pun akan lebih cepat.

Kepala UPT Balai Laboratorium Kesehatan Provinsi Jawa Barat Emawati mengatajan sampel yang diterima Labkesda Jabar kemarin tepatnya berjumlah 3.156. Seluruhnya telah diverifikasi di Bagian Registrasi Sampel.

Diketahui hingga pukul 11.00 pagi kemarin, sampel yang telah diekstraksi mencapai 1.056 sampel yang langsung menuju proses PCR. Kemudian menyusul dua gelombang lagi masing masing 1.000 sampel. Pukul 17.00 seluruh sampel berhasil diekstraksi dan pada pukul 19.00 rampung di-PCR.

“Kita laksanakan PCR sampai lepas magrib. Seiring pemeriksaan ini untuk administrasi identitas pasien yang lainnya dilakukan secara simultan,” katanya yang juga Kepala Sub Divisi Manajemen Lab GTTP Provinsi Jabar.

Dalam uji usap ini, Labkes Jabar dibantu tim dari Universitas Padjadjaran dan Institut Teknologi Bandung. Khusus Unpad dilengkapi dengan mobile lab yang berhasil menjaring 461 sampel.

Tim dari ITB dan Unpad merupakan sebagian kecil dari 26 lab satelit yang membantu dalam tes masif baik uji usap maupun rapid tes. Saat ini di Jabar total ada 20 laboratorium RTPCR (Real Time PCR) dan enam laboratorium TCM (Tes Cepat Molakular). Labkes Jabar sebagai lab induk sendiri kini telah memiliki enam mesin PCR dan tiga mesin ekstraksi. Masih menunggu mesin PCR mobile.

Menurut Ema, semua perangkat lab tersebut sejauh ini telah memeriksa 65.032 tes uji usap. Itu data per 15 Juni 2020, belum termasuk 3.156 sampel baru selesai didiagnosis. Target uji usap di Jabar sendiri mencapai 150.000 dengan sasaran seluruh PDP, ODP, tenaga kesehatan, pemudik domestik dan dari luar negeri, serta dan sasaran lain hasil penyelidikan epidemologi.

Sebetulnya, kata dr Emawati, lab satelit yang tersebar di berbagai daerah memiliki kapasitas pemeriksaan 1.000-2.500 sampel per hari. Namun karena keterbatasan SDM dan kekurangan bahan habis pakai, lab-lab satelit tersebut belum maksimal.

Dia berharap lab-lab satelit memiliki kemampuan periksa yang rata dan sebesar lab induk sehingga tes masif akan jauh lebih cepat, akurat, efektif, dan efisien. Menurutnya, antara lab induk dan lab satelit sudah bekerja sama dengan baik, yakni saling berkoordinasi dan melengkapi segala kekurangan.

Emawati menjelaskan laboratorium merupakan salah satu penentu diagnostik yang hasilnya digunakan untuk data dan peningkatan tindak lanjut penanganan di rumah sakit, contact tracing, serta penelitian.
Dari sampel uji usap yang dikumpulkan misalnya, dapat dilanjutkan ke tingkat genome sequencing, yakni memeriksa sampel yang sudah positif dengan rate tertentu dan berasal dari klaster- klaster unik.

“Nantinya kita dapat lihat apakah sampel ini berasal dari Asia, Eropa atau tempat lain. Kita juga bisa lihat strain-nya, apakah dia ganas, sedang, atau ringan. Ini semua berguna untuk penentuan diagnosa terapi, serta penyelidikan dan penentuan kebijakan akan jauh lebih akurat,” kata Emawati.

Sebelumnya sampel uji usap yang datang ke labkes rata-rata 1.000 sampel per hari. Namun karena ada Pekan Swab Massal, sampel melonjak hingga melebihi 3.000 dan semuanya sudah diselesaikan.

Tenaga pendukung di lab induk ada 70 orang yang bekerja setiap hari dengan sistem sif terdiri dari 20 tenaga administrasi, 30 tenaga ekstraksi, 20 bekerja di bagian PCR. Untuk menyelesaikan target 2.500 uji usap pada Pekan Swab Massal, yang dibutuhkan laboratorium adalah kepastian sampel yang datang adalah sampel yang masuk sasaran.

Selanjutnya yang yang dibutuhkan adalah kualitas pemeriksaan yang terjaga dengan cara jumlah SDM yang dibutuhkan minimal tetap terpenuhi. Kemudian bahan habis pakai dan support dari reagent baik ekstraksi maupun PCR yang selalu tersedia. (Sam)

Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved