Hari Lahir Soekarno
Hari Ini Hari Kelahiran Soekarno, Jejaknya Ternyata Ada Juga di Sukanagara, Mondok di Pesantren
Warga kampung kadang tak mengenali bahwa sosok yang berjalan sekitar tahun 1930-1939 menaiki bukit adalah pejuang yang saat itu sedang memperjuangkan
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Ferri Amiril Mukminin
TRIBUNCIREBON.COM, CIANJUR - Hari ini, Sabtu 6 Juni 2020, adalah hari kelahiran Proklamator Soekarno. Sang Putra Fajar itu lahir di Blitar.
Jejak perjuangannya terserak di seantero Nusantara. Bahkan hingga ke mancanegara.
Tak heran jika jejak Soekarno pun ternyata ada di daerah terpencil di Cianjur Selatan, Sukanagara.
Berikut ini penelusuran kembali jejak Soekarno di daerah Sukanagara.
"PADUKA (Bung Karno/red) kalau datang ke Sukanagara naik mobil, lalu mobilnya di parkir dekat pertigaan. Ia lantas berjalan kaki menaiki bukit sekitar 500 meter menuju Pesantren Al Basyariyah dengan buku dijepit lengan kiri dan tangan kanannya membawa tongkat," ujar pimpinan Pondok Pesantren Kiai Rahmat Kadar, saat membuka cerita, Jumat (5/6/2020).
Warga kampung kadang tak mengenali bahwa sosok yang berjalan sekitar tahun 1930-1939 menaiki bukit adalah pejuang yang saat itu sedang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Dulu kawasan Sukanagara masih berbentuk hutan lebat. Hanya kawasan pesantren saja yang dijadikan tempat permukiman.
Rahmat mengatakan, bahwa paduka sebutan yang ia sematkan untuk Bung Karno sering berkunjung ke pesantren yang terletak di Desa Sukanagara, Kecamatan Sukanagara, Kabupaten Cianjur.
"Ada cerita di mana bendera merah putih pertama dibuat di sebuah tempat pembuatan batik di Pekalongan lalu dijahit digabungkan di sini," ujar Rahmat yang merupakan generasi ketiga dari pimpinan Ponpes Al Basyariyah.
Rahmat mengisahkan, Kiai Basyari pendiri pondok pesantren awal datang dari Jombang pada tahun 1911 dengan berjalan kaki, lalu sempat mendirikan pesantren di beberapa tempat di antaranya di Garut dan Cianjur. Konon hanya butuh dua hari bagi Kiai Basyari untuk menjadikan kawasan hutan lebat menjadi pesantren.
"Lalu membuka tempat ini mencari tempat Cikiruh sumber mata air dari gunung yang diartikan sebagai cipratan kiai dan ruh," katanya.
• Lagi Asyik Menyadap Karet, Pria 50 Tahun Ini Tiba-tiba Diterkam Harimau, Selamat Karena Panjat Pohon
• Ada 13 Kawasan Kritis di Jawa Barat, Pemprov Jabar Bakal Berlakukan Pembatasan Sosial Berskala Mikro
• Jadwal Acara TV Sabtu 6 Juni 2020, Trans TV Trans 7 GTV MNC TV RCTI SCTV, Tonton Film Hunger Games
Selama mendirikan pesantren, para kiai selalu membuat bubur merah dan bubur putih. Hal ikhwal itu menjadi filosofi merah berani dan putih suci.
"Lalu pada tahun 1939 ada yang membuat bendera merah putih di Pekalongan dan diperlihatkan ke paduka, Bung Karno," katanya.
Rahmat mengatakan pada tahun 1942 bendera merah putih sempat dikibarkan di pesantren dengan lagu berbahasa Arab, lalu setelah itu dibawa ke istana. Ada tiga bendera pertama yang saat itu dibawa. Satu di antaranya yang pertama disimpan di pesantren.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/cirebon/foto/bank/originals/ir-soekarno-presiden-kemerdekaan.jpg)