Human Interest Story

Kisah Tarmi Hidup Sebatang Kara di Gubuk Reot 3x3 Meter, Derita Stroke dan Tak Tersentuh Bansos

Tidak ada siapa pun yang menemaninya, Tarmi yang sudah menginjak usia hampir setengah abad itu bahkan belum pernah menikah.

handhika Rahman/Tribuncirebon.com
Tarmi (45) wanita yang hidup sebatangkara di sebuah gubuk reot di Desa Karangsong, Kecamatan/Kabupaten Indramayu, Jumat (15/5/2020). 
Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Handhika Rahman
TRIBUNCIREBON.COM, INDRAMAYU - Bertahun lamanya sudah Tarmi (45) hidup sebatang kara di sebuah gubuk reot di Desa Karangsong, Kecamatan/Kabupaten Indramayu.
Tidak ada siapa pun yang menemaninya, Tarmi yang sudah menginjak usia hampir setengah abad itu bahkan belum pernah menikah.
Sedangkan, kedua orang tuanya sudah meninggal dunia sekitar 2 tahun lalu.
Kondisi tubuh Tarmi yang stroke pun menambah derita wanita paruh baya tersebut.
Jangankan untuk bekerja, untuk berbicara saja Tarmi terlihat gagap dan kesulitan, tidak banyak kata yang terlontar dari bibirnya yang tampak menyerong tersebut.
"Sakit ini sudah sejak lahir, udah lama banget," ujar dia kepada Tribuncirebon.com di kediamannya, Jumat (15/5/2020).
Keadaan rupanya semakin sulit ditengah Pandemi Covid-19 sekarang, terutama bagi Tarmi yang hanya mengandalkan bantuan tetangga agar bisa tetap menyambung hidup setiap harinya.
Kepada Tribuncirebon.com, Tarmi mengaku tidak mengetahui apakah sudah terdaftar sebagai penerima bantuan sosial dari pemerintah atau tidak.
Hal ini karena belum ada petugas yang mendatangi langsung gubuk reot miliknya sekedar hanya untuk mendata.
Alasannya, karena Tarmi tak memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) sebagai penerima bantuan yang sah.
"Sudah bikin KTP-nya, tapi belum jadi-jadi," ujar dia.
Meski demikian, Tarmi tetap bersyukur masih ada orang-orang yang peduli terhadapnya di masa Pandemi Covid-19 yang belum kunjung reda samapai sekarang.
Ia mengatakan, selama mewabahnya Covid-19 sudah menerima sebanyak 3 kali bantuan, seperti yang ia terima dari kuwu desa setempat, kelompok masyarakat dari desa Singaraja, serta praktisi pengobatan alternatif Choyang Indramayu.
Mereka memberikan bantuan berupa sembako dan uang tunai agar Tarmi bisa bertahan hidup di tengah masa sulit Pandemi Covid-19 sekarang.
"Kalau kuwu itu pakainya dana pribadi, ngasih sembako. Kalau yang ngedata-ngedata bantuan gitu tidak ada," ujarnya.
"Tapi alhamdulillah sekali masih banyak yang peduli," lanjut Tarmi.
Penulis: Handhika Rahman
Editor: Mumu Mujahidin
Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved