Breaking News:

PSBB Jabar

Ridwan Kamil: Desa yang Masuk Level 2 Boleh Gelar Sholat Id Berjemaah, Tunggu Evaluasi PSBB

Syaratnya tetap, harus terjadi penurunan kasus Covid-19 yang signifikan di setiap desa, kelurahan, kecamatan, atau kabupaten dan kota.

Istimewa
PSBB Bandung Raya akan diberlakukan mulai 22 April 2020. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Syarif Abdussalam

TRIBUNCIREBON.COM, BANDUNG - Setelah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Tingkat Provinsi Jabar berakhir, pada 20 Mei 2020 akan dikaji dan diputuskan daerah mana saja di Jabar yang sudah bisa menggelar ibadah berjemaah, sekolah, kegiatan perekonomian, transportasi, dan kegiatan lainnya walau masih dalam sejumlah batasan.

Gubernur Jabar Ridwan Kamil mengatakan walaupun masih berjalan dan perlu terus ditingkatkan disiplinnya, PSBB di 27 kabupaten dan kota di Jabar sudah membuahkan hasil berupa penurunan angka kemunculan kasus positif harian, peningkatan angka pasien sembuh, dan penurunan angka kematian kasus Covid-19.

Setelah PSBB Jabar selesai, katanya, pihaknya akan membagi kelurahan dan desa berdasarkan level penyebaran Covid-19. Level 5 adalah kategori terburuk, warnanya hitam, saat tidak bisa mengendalikan Covid-19. Kemudian Level 4 adalah warna merah, yaitu daerah yang melakukan PSBB, seperti Jabar saat ini.

"Nanti setelah evaluasi, bisa turun ke Level 3, yaitu pembatasan tidak 30 persen lagi seperti PSBB, tapi boleh naik 60 persen. Kemudian Kalau bagus masuk ke Level 2, warna biru, yaitu bisa ke 100 persen aktivitas, tapi berkegiatan gunakan masker dan jaga jarak. Dan terakhir zona hijau, tapi itu belum memungkinkan karena zona hijau itu kalau virusnya nol. Nah tim kami belum meyakini bisa mengenolkan virus sebelum vaksin itu ada," kata Gubernur yang akrab disapa Emil ini di Gedung Pakuan, Selasa (12/5).

Kajian tersebut pun, katanya, akan menentukan pelonggaran PSBB terhadap warga di bawah 45 tahun seperti yang diungkapkan pemerintah pusat dan kebijakan relaksasi sebagainya. Syaratnya tetap, harus terjadi penurunan kasus Covid-19 yang signifikan di setiap desa, kelurahan, kecamatan, atau kabupaten dan kota.

"Nah jawabannya sama, pelonggaran ini akan terjadi setelah status level dari masing-masing daerah ada. Ini nanti ada desa yang Level 2 berarti boleh jumatan lagi dan boleh salat idulfitri juga, tapi dengan jaga jarak, kalau dia masuk Level 2. Kalau ternyata masuk Level 4, salat idulfitri dan salat jumat, kemudian beraktivitas ke mana-mana, itu dibatasi seperti saatnya PSBB," katanya.

Niat Bayar Zakat Fitrah untuk Diri Sendiri dan Keluarga, Lengkap Dengan Tulisan Arab dan Latin

Tata Cara Itikaf di 10 Hari Terakhir Bulan Ramadhan, DIlengkapi Syarat, Niat serta Doa yang Dibaca

Duh, Per 1 Juli 2020 Iuran BPJS Kesehatan Bakal Naik, Tak Main-main, Kenaikannya Hampir 100 Persen

Emil menilai pembatasan usia yang dapat beraktivitas kembali seperti biasa bukanlah fokusnya, melainkan mengenai kondisi kasus Covid-19 di setiap wilayahnya. Perlu diketahui, virus ini tidak memandang usia, jabatan, atau kondisi apapun orang yang dihinggapinya.

"Tentang ibadah, harus sesuai dengan arahan ulama. Di mana zona yang parah, itu ibadahnya juga di rumah. Tapi kalau sudah tidak parah bisa kembali. Nah inilah yang akan terjadi pasca-PSBB Provinsi," katanya.

Presiden RI, katanya, juga mengarahkan setiap daerah untuk meneruskan pembatasan sosial ini sesuai kebutuhan di daerah masing-masing. Kemudian yang diarahkan untuk melakukan kajian relaksasi ekonomi dapat berlaku di mana saja. Emil kembali menegaskan tolok ukur di Jawa Barat dalam mengambil keputusan relaksasi sendiri adalah pembagian level tadi.

Emil mengatakan Presiden mengarahkan terkait Idulfitri akan meminta setiap daerah melakukan diskusi dengan para ulama untuk menentukan kira-kira kriteria-kriteria apa yang membuat Lebaran ini bisa berlangsung normal. Semuanya masih harus berbasis pengaturan jarak atau bisa saja tetap tidak dilakukan dengan alasan kedaruratan.

"Bapak Wakil Presiden juga mengarahkan ke sana, kalau situasi yang membahayakan maka fatwa ulama masih berlaku ibadah di rumah. Tapi kalau sudah bisa secara ilmiah tidak ada ancaman kedaruratan lagi maka ibadah disarankan bisa kembali ke normal tapi dengan menjaga protokol kesehatan karena tadi kita belum bisa ke Level 1 di mana hidup normal seperti sebelum Covid-19 kecuali vaksin sudah ditemukan," tuturnya. (Sam)

Editor: Machmud Mubarok
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved