Tetangga Merasa Heran, Nenek dan Cucu yang Tinggal di Rumah Ambruk Tak Pernah Dapat Bantuan BPNT
Dedi juga sempat melempar foto-foto ambruknya rumah di media sosial namum tak ada respons dari pihak pemerintah.
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Ferri Amiril Mukminin
TRIBUNCIREBON.COM, CIANJUR - Tetangga di kampung tempat seorang nenek tinggal bersama sang cucu heran, kenapa nenek yang rumahnya ambruk setengah atapnya tak kebagian bantuan Bantuan Pangan Non Tunai plus.
Padahal nenek tersebut tak punya lagi penghasilan untuk menghidupi sang cucu yang masih bersekolah SD tersebut.
Para tetangga merasa kasihan dengan penghidupan sang nenek. Setiap hari mereka bergiliran memberi seadanya. Namun terkadang prihatin karena sekeliling juga para tetangga hidup pas-pasan.
Tiga rumah tidak layak huni di Desa Sukaratu, Kecamatan Bojongpicung yang dihuni para lanjut usia ambruk setengah bagian karena lapuk dimakan rayap karena lama tak kunjung diperbaiki.
Warga dan tokoh masyarakat mengaku sudah lama mengajukan program bantuan perbaikan. Namun, tak kunjung ada respons dari pihak desa hingga akhirnya satu persatu kayu penyangga rumah mulai patah dan membuat posisi rumah miring.
• Kabar Terkini Dokter Handoko yang Berdedikasi, Beri Pesan untuk Tenaga Medis yang Masih Berjuang
Rumah pertama yang sudah dalam posisi miring dihuni oleh seorang nenek Ineung (70) yang tinggal bersama dengan cucunya, Fani (10).
Kondisi rumahnya cukup memprihatinkan. Genting bagian atapnya doyong tak beraturan, dinding rumah yang terbuat dari bilik sudah pada bolong.
Ineung tinggal bersama cucunya setelah kedua orangtua Fani meninggal karena kecelakaan.
Ineung dan Fani sehari-hari hanya mendapat belas kasihan dari para tetangganya. Ia mengaku tak mendapat BPNT demikian halnya dengan bantuan sekolah untuk Fani.
"Saya sedang menanak nasi," ujar Ineung sambil masuk kembali ke dapur berlantai tanah di bagian belakang rumahnya, Senin (23/3/2020).
• Mapolres Tasikmalaya Kota Kembali Disemprot Disinfektan, dari Ruang Kapolres hingga Gudang
Cucunya, Fani, baru saja pulang dari bermain. Ia bersekolah di SD Karyajaya tak jauh dari kampungnya.
"Beginilah sehari-hari, saya menunggu belas kasihan para tetangga," kata Ineung.
Seorang warga Kampung, Dedi (47), mengaku sudah lama mengajukan perbaikan rumah seorang nenek yang tinggal bersama dengan cucunya dan nyaris roboh ini.
"Sudah lama pa, namun tak ada respons, bahkan ada rumah warga lainnya yang saya ajukan perbaikan ternyata keburu roboh," ujar Dedi.
Dedi mengatakan, sang nenek tak masuk program BPNT demikian halnya dengan cucunya yang tak kebagian bantuan untuk sekolah.
Dedi mengatakan, rumah yang ambruk tersebut milik Eli (50) yang tinggal sendiri setelah ditinggal pergi suami.
"Karena roboh kemarin saya keliling minta sumbangan warga, setengah badan rumah sudah dibangun, namun pembangunan baru seadanya karena kekurangan biaya," katanya.
Dedi juga sempat melempar foto-foto ambruknya rumah di media sosial namum tak ada respons dari pihak pemerintah.
"Selain dua rumah tadi, ada juga rumah yang sudah ambruk setengah bagian yang dihuni dua orang lanjut usia yang kini sakit-sakitan," kata Dedi.
• Andrea Dian Rajin Olahraga, Kini Positif Covid-19, Ingatkan Siapa Pun Bisa Terserang Virus Corona
Rumah tersebut adalah milik Odah (65) dan Omon (80) di Kampung Cibiuk RT 01/09, Desa Sukaratu.
Bagian belakang rumah yang dihuni kedua lansia ini juga sudah roboh. Kayu lapuk dan bambu terlihat di bagian belakang rumah.
"Rumah ini juga sudah lama kami ajukan perbaikan dan belum ada respons," kata Dedi.
Omon mengaku karena usianya sudah lanjut ia sering mengeluh sakit di bagian pencernaannya.
"Suka ada petugas kesehatan ke sini, diberi obat agak mending, habis obat suka kambuh lagi begitu seterusnya," kata Omon.
Tiga rumah yang nyaris roboh ini berada tak jauh dari saluran irigasi yang airnya tak mengalir di kawasan Desa Sukaratu Kecamatan Bojongpicing.