Waduk Darma Alami Penyusutan Volume Air, Alih Fungsi Dijadikan Lahan untuk Bercocok Tanam
Waduk Darma Alami Penyusutan Volume Air, Alih Fungsi Dijadikan Sawah oleh Warga.
Penulis: Hakim Baihaqi | Editor: Mutiara Suci Erlanti
Laporan wartawan Tribun Jabar, Hakim Baihaqi
TRIBUNCIREBON.COM, KUNINGAN - Kemarau panjang yang berlangsung selama tiga bulan lebih di Jawa Barat menyebabkan sejumlah sumber air mengalami penyusutan volume, salah satunya Waduk Darma di Kecamatan Darma, Kabupaten Kuningan.
Akibat penyusutan volume air, daratan yang semula terendam air bermunculan.
Bahkan, beberapa binatang penghuni Waduk Darma, mulai dari keong sawah, keong emas, kijing, dan beberapa jenis ikan tawar pun terlihat mati.
Munculnya kembali daratan, dimanfaatkan oleh warga desa di sekitar Waduk Darma untuk bercocok tanam, beberapa tanaman yang ditanam oleh warga di antaranya pagi dan Jagung.
• Kemarau Panjang, Volume Air Waduk Darma Kuningan Menyusut & Ikan-ikan Mati
• Geram Istrinya Tak Pandai Memasak, Seorang Suami Tega Bakar Sang Istri yang Sedang Hamil
Mamun (68), petani di Desa Darma, Kecamatan Darma, mengatakan, setiap musim kemarau daratan di pinggir danau bermunculan dan pada tahun ini mulai terlihat sejak Juni 2019.
"Setiap tahun jadi lahan tani, karena ga mungkin susah air. Sekarang tanam sudah tiga minggu," kata Mamun di Waduk Darma, Minggu (15/9/2019).
Beruntungnya, kata Mamun, petani di sekitar Waduk Darma bisa memanfaatkan lahan selama lebih dari tiga bulan atau berjalan dari masa tanam hingga panen.
• Lucinta Luna Gigit Telinga Sang Kekasih, Abash Meringis Kesakitan, Kenapa?
• LOWONGAN Pekerjaan BCA dan PT KTB Mitsubishi, Yuk Buruan Daftar Sebelum Ditutup
Mamun mengatakan, setelah masa panen atau awal musim hujan, daratan yang ditanami oleh padi tersebut akan kembali tenggalam dan warga pun akan menanam pada kemarau mendatang.
"Daripada jadi lahan mati, lebih baik dimanfaatkan. 2017 sampai dua kali panen," katanya.
Petani lainnya, Nurjaman (73), menuturkan, daratan yang kembali muncul tersebut awalnya merupakan lahan pertanian milik orangtua zaman dahulu, namun karena adanya pembangunan waduk terpaksa ditenggelamkan.
Nurjaman menambahkan, kalau orangtuanya memiliki belasan hektare lahan tani, namun pada zaman kolonial Belanda terpaksa pindah dan tidak mendapatkan ganti rugi.
• Vina Garut Habis, Kini Video Mesum Sopir Truk & Mama Muda Berdurasi 3 Menit Beredar, Sengaja Disebar
"Diusir Belanda, tapi saya masih ingat tanah bapak saya. Setiap tahunnya ditanami padi," katanya.
Diketahui, Waduk Darma berada disembilan desa, yakni Desa Darma, Cikupa, Parung, Kawahmanuk, Cipasung, Paninggaran, Sakerta Timur, Sakerta Barat, dan Jagara.
Pembangunan Waduk Darma dilakukan pada 1924 usulan dari De Jongh dari Jawatan Tambang, biaya pembangunan sebanyak 1,5 juta poundsterling.