Nenek 72 Tahun Tinggal Sebatang Kara di Rumah yang Nyaris Ambruk, Tak Pernah Dibantu Pemerintah
"Ibu saya kalau lapar sering teriak-teriak minta makan. Kalau kebetulan ada beras, saya memasaknya. Kalau tidak ada beras, saya rebus ketela
"Mator kaso'on bentoana. Samoga etarema bik se kobesa Allah ta'ala. (Terima kasih bantuannya. Semoga diterima oleh Allah SWT)," kata Amur kepada Fudholi dengan bahasa Madura.
Hingga saat ini, belum pernah ada aparat dari desa atau kecamatan yang datang melihat kondisi Amur. Namun demikian, Sulihah tidak mempersoalkannya. Hidup serba kekurangan, sudah lama dijalani Sulihah dan Amur serta anak-anaknya.
"Ada bantuan atau tidak ada, saya pasrah kepada Allah. Karena hidup dan mati itu di tanganNya," kata Sumairah. (*)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kisah Pilu Nenek Amur, Sebatang Kara di Gubuk Reyot, Teriak-Teriak Saat Lapar...", https://regional.kompas.com/read/2019/07/05/09300021/kisah-pilu-nenek-amur-sebatang-kara-di-gubuk-reyot-teriak-teriak-saat-lapar?page=all.
Penulis : Kontributor Pamekasan, Taufiqurrahman
Editor : Aprillia Ika