Breaking News:

CURHAT Luhut Binsar Panjaitan, 'Dihabisi' saat Orde Baru, hingga Larang Paulus Panjaitan Masuk Akmil

Lulusnya Mayor Inf Paulus Panjaitan memiliki cerita tersendiri bagi sang ayah.

Editor: Fauzie Pradita Abbas
Facebook Pusat Penerangan TNI
Lulusan Seskoad Amerika berfoto dengan Luhut Binsar Pandjaitan 

Dia pun berharap kedepan bisa selalu menopang dan mendukung pilihan hidup dari anak-anaknya.

"Ke depannya, saya memberikan kebebasan kepada Paulus untuk berkarir. Apapun pilihan Paulus dan ketiga anak saya yang lain, yang penting mereka menjadi orang baik.

Karena pencapaian tertinggi seorang ayah adalah keberhasilan kita mendorong anak untuk menyelesaikan studi dengan bagus, bekerja dengan hati, dan tidak memanfaatkan keberadaan ayahnya. Biarlah setiap anak kita menjadi dirinya sendiri.

Dan sampai sekarang, saya bangga dengan anak-anak saya, selain ada Paulus dan istrinya Novella, ada Uli dengan suaminya Maruli yang mengabdi sebagai prajurit TNI, David yang berbisnis didampingi istrinya Intan, juga Kerri yang sibuk dengan kegiatan sosialnya," katanya.

Lanjut Luhut, cerita yang dia sampaikan tersebut bisa dibaca para orang tua dan juga perwira-perwira TNI supaya melihat talenta tentara-tentara muda dan mendukungnya meraih prestasi yang lebih baik lagi.

"Selain untuk dibaca oleh setiap orang tua, tulisan ini juga saya tujukan khususnya kepada perwira-perwira TNI untuk mulai melihat talenta tentara-tentara muda dan mengembangkannya.

Karena selain Paulus, ada juga Mayor Inf. Delly Yudha Nurcahyo dan Mayor Inf. Alzaki yang ketiganya bersamaan lulus Seskoad di Amerika dengan hasil yang baik dan memuaskan.

Padahal kita sama tahu bahwa Seskoad adalah tahapan pendidikan di lingkungan TNI-AD yang sangat sulit, terseleksi, dan sangat menentukan perkembangan karir selanjutnya.

Bahkan Alzaki yang sempat bekerja dengan saya di Kemenko Polhukam dan Maritim adalah satu-satunya perwira dalam sejarah TNI-AD yang memperoleh penghargaan The Simon Center Interagency Writing Award.

Jika talenta muda seperti mereka dikembangkan maka ke depannya mereka bisa membawa TNI menjadi lebih profesional dan betul-betul bisa membuat TNI menjadi penjaga NKRI, Pancasila, UUD NKRI Tahun 1945, serta berpegang teguh pada Sapta Marga dan Sumpah Prajurit.

Sedangkan untuk setiap anak yang membaca tulisan ini, saya ingatkan agar berhati-hatilah dalam bersikap kepada orang tuamu. Karena apa yang kau lakukan pada mereka, bisa jadi akan dibalas oleh anakmu.

Seperti saya dulu yang nekad masuk Akabri padahal tidak diperbolehkan ayah saya yang ingin saya masuk ITB, sekarang “dibalas” oleh anak saya yang bersikeras mau jadi tentara, padahal ayahnya menginginkan dia jadi pengusaha atau politisi.

Memang agak lain bentuknya, tapi hal ini terulang seperti de javu," tulisnya.

Curhat Luhut Binsar Panjaitan ini membuka kembali jalan terjal yang dilaluinya di TNI.

“Kau masuk tentara mau diapain kau nanti?” gumam saya dalam hati karena sudah cukup saya mengalami rona-rona kehidupan di sana, bahwa seberapa keraspun dulu bekerja, seberapa hebatnya pun prestasi, saya tidak pernah mencapai puncak karir di lingkungan TNI. Tidak pernah jadi Kasdam, Pangdam atau Danjen Kopassus.''

Tercatat sebagai lulusan terbaik dari TNI AD 1970 atau penerima Adhi Makayasa, lama berkiprah di Kopassus, namun jabatan komando atau teritorial yang disandang Luhut tidak secemerlang juniornya Prabowo.

Jangankan menjadi Pangdam, menjabat Kepala Staf Kodam (Kasdam) saja tidak pernah. 

Meski lama di Kopassus bahkan ikut membidani Satgultor, Luhut Binsar Panjaitan tak pernah menjabat Danjen Kopassus.

Jabatan teritorial yang pernah diemban Luhut hanya Komandan Korem 081/Dhirotsaha Jaya, Madiun, Jawa Timur. Saat itu, Luhut Binsar Panjaitan meraih prestasi sebagai Komandan Korem Terbaik di Indonesia (1995).

Namun saat menjabat Komandan Korem 081/Dhirotsaha Jaya itulah Luhut Binsar Panjaitan diperintahkan pejabat Orde Baru untuk menjegal Gus Dur menjadi Ketua NU.

Kelak Gus Dur akan jadi Presiden Keempat RI yang membuat karier politik Luhut Binsar Panjaitan bersinar.

Setelah itu, jabatan bintang Luhut didapat saat menjabat Wakil Komandan Pusat Persenjataan Infanteri (Pussenif) TNI-AD sebelum menjadi Komandan Pussenif TNI-AD (1996-1997).

Jabatan terakhir Luhut Binsar Panjaitan di TNI adalah Komandan Pendidikan dan Latihan TNI Angkatan Darat (Kodiklat TNI AD) (1997-1998).

Adapun Luhut Binsar Panjaitan pensiun dari TNI dengan pangkat Letjen.

Namun Presiden Gus Dur menganugerahi Luhut pangkat Jenderal Kehormatan TNI (HOR) pada 1 November 2000.

Menurut Salim Said dalam buku:  Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto (2016: 160), Luhut Binsar Panjaitan masuk 'kartu mati' karena dianggap sebagai orang LB Moerdani.

Meski kariernya tenggelam di TNI, Luhut Binsar Panjaitan justru bersinar di panggung politik setelah pensiun saat Orde Baru tumbang.

Saat Presiden Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie berkuasa, Luhut Binsar Panjaitan ditarik menjadi duta besar di Singapura. 

Lalu di era Presiden Abdurrahman Wahid, Luhut Binsar Panjaitan menjabat Menteri Perindustrian.

Di era Presiden Jokowi, Luhut Binsar Panjaitan diangkat sebagai Kepala Staf Kepresidenan Republik Indonesia sejak 31 Desember 2014 hingga 2 September 2015.

Pada 12 Agustus 2015, Luhut Binsar Panjaitan ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo menjadi Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan menggantikan Tedjo Edhy Purdijatno.

Dalam reshuffle Kabinet Kerja Jilid II pada tanggal 27 Juli 2016, Luhut Binsar Panjaitan diangkat menjadi Menteri Koordinator Kemaritiman menggantikan Rizal Ramli.

Bahkan beberapa pihak yang berseberangan dengan Jokowi menjuluki Luhut Binsar Panjaitan sebagai real president, meski ini dibantah Luhut Binsar Panjaitan maupun orang-orang di lingkaran Presiden Jokowi.  

Soal ditempat di pos kartu mati di TNI, Luhut menulis akun facebooknya saat kembali berkunjung ke Pussenif di Kota Bandung.

Berikut postingannya:

Saya pernah ditugaskan di tempat yang kata orang ‘pohon pun tidak akan tumbuh di situ’.

Sebuah ungkapan yang menggambarkan sulitnya karir seorang tentara bertumbuh selama bertugas di sebuah badan bernama Pusat Persenjataan Infantri (Pussenif) di Kota Bandung.

Tahun 1996-1997 saya bertugas sebagai Komandan di situ, setelah sebelumnya sempat menjadi Wakil Komandan. Dan anggapan itu terbukti tidak benar karena karir saya sampai hari ini masih bertumbuh.

Bagaimana bisa? Itulah yang saya sebut sebagai mistery of life.

Di mana kita semua punya suratan hidup masing-masing. Mungkin ada kalanya kita merasa ditempatkan pada posisi yang tidak semestinya.

Tapi yakinilah bahwa ada blueprint/rancangan Tuhan untuk masa depan kita, sehingga kita tidak perlu risau.

Nikmati hari-harimu dan bekerjalah saja sebaik-baiknya, seperti yang saya lakukan dulu.

Selain itu ada satu prinsip yang selalu saya pegang: loyalitas.

Apapun yang terjadi, saya tetap loyal pada atasan, loyal pada kesatuan, dan loyal pada NKRI.

Saya tidak pernah mengkhianati teman saya, saya tidak pernah mengkhianati atasan saya, dan saya tidak pernah mengkhianati sumpah saya sebagai tentara di Lembah Tidar yaitu Sapta Marga dan Sumpah Prajurit.

Demikianlah titipan pesan saya sebagai seorang yang lebih senior kepada 510 orang perwira yang hadir di acara Apel Danrem Dandim Terpusat 2018 pada Senin lalu di Pussenif. Saya senang bisa kembali ke sana, setelah 21 tahun berlalu.

Karier militer Luhut Binsar Panjaitan:

Letnan Satu Inf (1973)
Kapten Inf (1975)
Mayor Inf (1980)
Letnan Kolonel Inf (1983)
Kolonel Inf (1990)
Brigadir Jenderal TNI (1995)
Mayor Jenderal TNI (1996)
Letnan Jenderal TNI (1997)
Jenderal TNI (HOR) (01-11-2000)
Jabatan Militer
Komandan Peleton I/A Group 1 Para Komando, Kopassandha (1971).
Komandan Peleton Batalyon Siliwangi Di Kalimantan Barat, Pada Operasi Pemberantasan Dan Penumpasan PGRS/Paraku (1972).
Komandan Kompi A Group 1 Para Komando, Kopassandha (1973).
Komandan Kompi A Pasukan Kontingen Garuda (KONGA VI) Wilayah Port Said, Port Fuad, Port Suez, Mesir (Desember 1973 - Oktober 1974).
Ajudan Pribadi Brigjen TNI Yogi S Memed (Komandan Brigade Selatan, Wilayah Terusan Suez) Kontingen Garuda (KONGA VI), Mesir (Desember 1973 - Oktober 1974).
Komandan Tim C Group 1 Para Komando Satuan Lintas Udara Pada Operasi Seroja, Kopassandha (1975).
Komandan Kompi Pasukan Pemburu Kopasshanda Pada Elemen Satgas Tempur Khusus, Pada Operasi Seroja (1976), Sekaligus Meraih Prestasi Dan Predikat Sebagai Komandan Kompi Terbaik Dalam Operasi Seroja.
Perwira Operasi Pada Pusat Intelijen Strategis/Pusintelstrat.
Perwira Operasi Pada Satuan Tugas/Satgas Intel Badan Intelijen Strategis (BAIS) ABRI.
Pendiri dan Komandan Pertama Detasemen 81 Anti Teroris Kopassus (1981)
Pendiri dan Komandan Pertama Proyek Rajawali Pada Pusat Intelijen Strategis/Pusintelstrat, BAIS ABRI (1983)
Komandan Satuan Pengamanan Presiden RI/VVIP Pada KTT ASEAN Manila, Filipina (1984).
Pendiri dan Komandan Pertama Proyek Charlie/Proyek Intelijen Teknik (Proyek Yang Menjadi Creme De La Creme TNI) Pada Detasemen 81 Anti Teroris Kopassus (1985).
Pendiri Dan Komandan Pertama Sekolah Pertempuran Khusus (Sepursus) Detasemen-81/Anti-Terror Kopassus Pada Pusat Pendidikan Pasukan Khusus (Pusdikpassus) (1986).
Komandan Satgas Tempur Khusus Pasukan Pemburu Kopassus (Detasemen-86) Di Sektor Tengah Khusus (Osu, Frekueike, Laisorobai) Timor-Timur (1986). Meraih Prestasi Dan Predikat Sebagai Komandan Satgas Tempur Terbaik Di Timor-Timur.
Komandan Sekolah Pusdik Para Lintas Udara Pusshandalinud/Pada Pusat Pendidikan Pasukan Khusus/Pusdikpassus, Kopassus (1987).
Asisten Operasi (Asops) Kopassus (1989)
Komandan Group 3 Sandhi Yudha Kopassus, (1990)
Komandan Pusat Pendidikan Pasukan Khusus (Pusdikpassus), (1993)
Komandan Korem 081/Dhirotsaha Jaya, Madiun, Jawa Timur, Meraih Prestasi Sebagai Komandan Korem Terbaik Di Indonesia (1995)
Wakil Komandan Pusat Persenjataan Infanteri
Komandan Pusat Kesenjataan Infanteri (Pussenif) TNI-AD (1996-1997)
Komandan Pendidikan dan Latihan TNI Angkatan Darat (Kodiklat TNI AD) (1997-1998).

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved