Warga Desa Sitiwinangun Gelar Tradisi Membersihkan Alquran
Sudah ratusan tahun, warga Desa Sitiwinangun, Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon menggelar tradisi membersihkan Alquran.
Penulis: Sitimasithoh | Editor: Mutiara Suci Erlanti
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Siti Masithoh
TRIBUNJABAR.ID, CIREBON - Sudah ratusan tahun, warga Desa Sitiwinangun, Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon menggelar tradisi membersihkan Alquran.
Alquran tersebut diklaim sudah berusia lebih dari 400 tahun dan merupakan peninggalan Syekh Dinurja atau Ki Mas Ratna Gumilang.
Dia adalah salah satu tokoh penyebar agama Islam semasa Sunan Gunung Djati dan merupakan pendiri Desa Sitiwinangun.
Alquran yang usianya sudah ratusan tahun itu, disimpan di rumah seorang kuncen Masjid Keramat Kebagusan Desa Sitiwinangun.
Kepala Desa Sitiwinangun, Ratija Brata Manggala, menjelaskan, dibersihkannya Alquran tersebut untuk menjaga keutuhan Alquran.
• Jalur Simpang Tiga Kadipaten Terpantau Ramai Lancar Pada H-2
"Alquran itu kotaknya terbuat dari kulit unta. Kalau kertasnya berasal dari timur tengah dan beliau sendiri yang menulisnya di kertas itu," katanya di Masjid Keramat Kebagusan, Desa Sitiwinangun, Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon, Minggu (2/6/2019) sore.
Pelaksanaan diberaihkannya Al-quran dari debu biasa dilaksanakan setahun dua kali, yaitu pada tanggal 12 maulid dan malam 29 ramadan.
"Kenapa kita bersihkan pada malam 29 ramadan, karena biasa bertepatan dengan malam lailatur qodar," tambahnya.
Mulanya, Alquran tersebut dibawa dari rumah kuncen, Eka Budiatno, menuju masjid. Di sana sudah banyak warga dan tokoh masyarakat yang menunggu.
Setelah itu, Alquran akan dikeluarkan dari sebuah peti dan diletakkan diatas meja. Kemudian kuncen mengambil kain putih kering dan mengusap setiap lembar permukaan Alquran dengan kain tersebut.
• PT KAI Daop 3 Cirebon Prediksi Puncak Arus Mudik Terjadi Hari Ini
Kemudian ia akan bergantian dengan beberapa orang yang ada di sampingnya sampai semua lembar Alquran dilap.
"Yang membersihkan tersebut biasanya kuncen dan keturunan langsung Syekh Dinurja, termasuk saya yang merupakan keturunan ke-13," kata Ratija.
Setelah Alquran selesai dibersihkan, petugas membawa pusaka peninggalan Syek Dinurja berupa kujang dan pendil (alat untuk masak nasi) ke sumur masjid untuk dibersihkan.
Selesai itu, warga berebut untuk mandi dan berebut air dengan harapan mendapatkan barokah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/cirebon/foto/bank/originals/alquran.jpg)