Nenek 72 Tahun Tinggal Sebatang Kara di Rumah yang Nyaris Ambruk, Tak Pernah Dibantu Pemerintah

"Ibu saya kalau lapar sering teriak-teriak minta makan. Kalau kebetulan ada beras, saya memasaknya. Kalau tidak ada beras, saya rebus ketela

Editor: Machmud Mubarok
KOMPAS.COM/TAUFIQURRAHMAN
Rumah Amur sudah tidak ditempati karena kawatir ambruk. Gentengnya sudah banyak berjatuhan, dindingnya bolong-bolong dan kayu-kayunya sudah banyak yang lapuk. 

TRIBUNCIREBON.COM -  Hidup Amur sungguh merana. Di usia senjanya, 72 tahun, nenek itu tinggal sebatang kara di rumahnya yang tak layak huni di  Dusun Janglateh Barat, Desa Campor, Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur.

Amur sering teriak-teriak saat lapar atau sakit perut. Teriakannya terdengar sampai ke rumah tetangganya yang jaraknya hingga 100 meter dari tempat tinggal Amur.

Bagi yang mendengarnya, mereka sudah tahu bahwa Amur butuh makan atau butuh obat untuk mengobati sakit lambung yang dideritanya tujuh tahun terakhir.

Tiga anaknya sudah tinggal berjauhan dengan Amur. Satu anaknya bernama Abdul Hadi, sudah meninggal tiga tahun yang lalu setelah menderita sakit keras pascapulang dari Malaysia menjadi TKI.

Hari Jumat Tiba, Jangan Lewatkan Berdoa di Waktu Bada Ashar, Sangat Mustajab, Doa Bakal Dikabulkan

Vanessa Angel Ingatkan Pria Agar Tak Lupa Salat Jumat, Malah Diejek, Disebut Kostumnya Malam Jumat

Dua anak lainnya, Sulihah dan Sumairah, tinggal di dusun yang sama. Mereka tinggal sekitar 200 meter dari rumah Amur. Sulihah dan Sumairah, keduanya, sudah hidup menjanda.

Akhir pekan kemarin, saat Kompas.com mendatangi rumah Amur, beberapa kali panggilan salam tidak dijawab.

Halaman rumah terlihat sepi. Rumah berukuran 4x3 meter, kondisinya sudah nyaris ambruk. Atapnya sudah bolong-bolong karena sebagian gentengnya berjatuhan ke tanah.

Dinding rumahnya dari anyaman bambu, juga terlihat bolong dari berbagai penjuru. Rumah tersebut sudah tidak ditempati.

Di depan rumah, ada dapur gedek berukuran 3x2. Di atas gentengnya, terlihat ada bekas nasi yang dikeringkan, dengan beralaskan karung plastik.

Di dalam dapur, sebuah tungku tanah sudah tertutup debu tebal. Beberapa ekor ayam dan kucing, berkeliaran di dalamnya. Dapur tersebut, hampir tidak ada bedanya dengan kandang hewan ternak.

Pria Ini Jadi Satu-satunya Penumpang Pesawat Citilink Rute Kertajati-Surabaya, Videokan Kursi Kosong

Pernikahan Sedarah Kakak Adik di Bulukumba, Ayah Minta Anaknya Ditenggelamkan di Laut

Amur, tinggal di suraunya. Ia tidak bisa mengenali siapa yang datang. Matanya sudah rabun. Setiap ada suara di halaman rumahnya, ia menyebut nama Sumairah atau Sulihah.

Dua anaknya itu yang paling sering datang mengunjunginya. Ada beberapa tetangga yang merasa iba dengan kondisi Amur, juga datang memberikan makanan sekadarnya.

Melihat ada orang datang di rumah ibunya, Sumairah yang tinggal 200 meter dari rumah ibunya, datang menghampiri setelah mendengar informasi dari tetangganya.

Ia tahu jika yang datang, membawa sedikit bantuan. Ia bercerita tentang nasib ibunya dan keluarganya. Amur hidup tanpa mendapat perhatian dari pemerintah.

Sulihah berkata, hidupnya yang miskin, masih terbebani untuk merawat keluarganya sendiri dan ibunya. Sedangkan Sumairah sendiri, sudah janda dan menganggur. Dirinya bekerja serabutan, menjadi kuli tani.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved