Selasa, 9 Juni 2026
Superhub Kota Cirebon
Selamat Datang Di SuperHub Pemerintah Kota Cirebon

Warga Indramayu Ini Semringah Gara-gara Dolar Tembus Rp 18 Ribu, Ini Ceritanya

Dasniti merupakan salah seorang warga Desa Panyingkiran Lor yang memiliki anak yang kini bekerja di luar negeri sebagai pekerja migran Indonesia

Tayang:
Tribun Cirebon/Ahmad Imam Baehaqi
DASNITI - Dasniti (kanan) saat menghubungi anaknya yang bekerja di Singapura melalui panggilan video di teras rumahnya di Desa Panyingkiran Lor, Kecamatan Cantigi, Kabupaten Indramayu, Selasa (9/6/2026) 


"Perbedaannya sangat terasa, karena jumlah uang yang saya terima bertambah, meski yang dikirimkan anak dari Singapura tetap seperti bulan-bulan sebelumnya," ujar Dasniti.


Bahkan, gaji kotor yang diterima sang anak, apabila dikonversi ke rupiah juga turut bertambah, karena dari sebelumnhya di kisaran Rp 6 juta, dan kini menyentuh Rp 7,5 juta perbulan.


"Saya sekarang tidak terlalu kekurangan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di Indramayu, karena ada tambahan kiriman uang dari anak yang nilanya juga meningkat," kata Dasniti.


Kondisi serupa juga tampaknya dirasakan Tunjinah (30), PMI yang bekerja di Hongkong, dan kini tengah cuti untuk pulang ke kampung halamannya di Desa Tinumpuk, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu.


Setiap bulannya, ia rutin mengirimkan 1.500 dolar Hongkong kepada keluarganya di Kabupaten Indramayu dari gaji yang diterimanya senilai 4.870 dolar Hongkong perbulan.


Ia mengatakan, remitansi yang biasa diterima keluarganya kira-kira Rp 3 jutaan, tetapi kini bertambah menjadi Rp 3,4 jutaan, sehungga cukup membantu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.


"Alhamdulillah, gaji bulanan yang saya terima dari bekerja di Hongkong juga naik, sebelumnya kira-kira Rp 9 jutaan, dan sekarang sudah mencapai Rp 11 jutaan," ujar Tunjinah.


Tunjinah mengakui, meningkatnya kurs dolar AS menjadi berkah tersendiri bagi PMI sepertinya, karena turut berpengaruh terhadap nilai tukar mata uang negara tujuannya bekerja.


Bahkan, nilai tukar dolar Hongkong terhadap rupiah yang turut meningkat juga membuatnya bisa membelikan sepeda baru bagi anak laki-lakinya yang baru berusia enam tahun.


"Sekarang, ada selisih nilai tukar ruliahnya, enggak terlalu besar, tetapi lumayan membantu sekadar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di rumah," kata Tunjinah.

Sumber: Tribun Cirebon
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved