Warga Indramayu Ini Semringah Gara-gara Dolar Tembus Rp 18 Ribu, Ini Ceritanya
Dasniti merupakan salah seorang warga Desa Panyingkiran Lor yang memiliki anak yang kini bekerja di luar negeri sebagai pekerja migran Indonesia
Penulis: Ahmad Imam Baehaqi | Editor: Mutiara Suci Erlanti
Ringkasan Berita:
- Dasniti merupakan salah seorang warga Desa Panyingkiran Lor yang memiliki anak yang kini bekerja di luar negeri sebagai pekerja migran Indonesia (PMI)
- Setiap bulannya, ia biasa menerima kiriman uang dari anaknya yang bekerja di Singapura atau remitansi
- Dalam kondisi naiknya kurs dolar AS terhadap rupiah seperti sekarang membuat jumlah yang diterimanya pun meningkat
Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Ahmad Imam Baehaqi
TRIBUNCIREBON.COM, INDRAMAYU - Suasana hangat tampak menyelimuti teras rumah warga di Desa Panyingkiran Lor, Kecamatan Cantigi, Kabupaten Indramayu.
Angin sepoi-sepoi sesekali menggoyang deretan pakaian yang dijemur di halaman rumah warga, dan Dasniti (54) yang mengenakan kaus putih terlihat sibuk untuk merapikannya.
Sejumlah warga pun tampak berkumpul di teras rumahnya, dan beberapa di antaranya terlihat berbincang sambil memandangi ponsel yang menampilkan panggilan video.
Baca juga: Hadiah Sederhana Dari Polsek Kedokanbunder Untuk Keamanan Murid SDN 1 Cangkingan Indramayu
Seusai merapikan jemuran, Dasniti pun terlihat langsung duduk di kursi di teras rumahnya sambil memegangi ponsel di tangan kanannya, kemudian langsung menghubungi anaknya, Windri (28).
"Dri, kien dolare pada naik (Dri, ini dolarnya pada naik)," ujar Dasniti saat membuka obrolan dengan Windri, putri sulungnya yang tengah bekerja di Singapura sejak 1,5 tahun terakhir.
"Barang sira olih pira gajine, Dri? (Sedangkan kamu dapat berapa gajinya, Dri?)" kata Dastini sambil menatap layar ponselnya.
"7,5 juta (rupiah), nambah akeh bae, ya (Rp 7,5 juta, tambah banyak saja, ya)" ujar Dasniti mengulang jawaban anaknya dalam panggilan video tersebut.
Dasniti sendiri merupakan salah seorang warga Desa Panyingkiran Lor yang memiliki anak yang kini bekerja di luar negeri sebagai pekerja migran Indonesia (PMI).
Setiap bulannya, ia biasa menerima kiriman uang dari anaknya yang bekerja di Singapura atau remitansi, dan dalam kondisi naiknya kurs dolar AS terhadap rupiah seperti sekarang membuat jumlah yang diterimanya pun meningkat.
Baca juga: Modus Baru Penipuan di Majalengka: MiChat hingga Facebook Jadi Jebakan, 2 Pelaku Gasak Motor
"Sejak dolar naik, jumlah kiriman uang yang saya terima dari anak juga ikut naik," kata Dasniti saat ditemui di kediamannya di Desa Panyingkiran Lor, Kecamatan Cantigi, Kabupaten Indramayu, Selasa (9/6/2026).
Karenanya, Dasniti mengakui, kurs dolar AS yang kini mencapai lebih dari Rp 18 ribu seperti angin segar baginya yang sehari-hari hanya menjadi ibu rumah tangga.
Menurut dia, kondisi tersebut turut memengaruhi nilai tukar rupiah terhadap dolar Singapura, sehingga kiriman uang dari anaknya yang semula berkisar Rp 2 jutaan, kini melonjak hingga menembus Rp 3 jutaan.
Padahal, jumlah uang yang dikirimkan anaknya dari hasil gaji bulanannya tetap, yakni kira-kira 200-an dolar Singapura, sehingga melonjaknya kurs dolar AS seperti menjadi berkah bagi keluarganya.
| Tak Hanya Karena Dolar Tembus Rp 18.000, Ini Alasan Warga Cirebon Lebih Pilih Kerja ke Luar Negeri |
|
|---|
| Warga Indramayu yang Diduga Pengirim Paket Meledak di Asrama Polisi Sukaharjo Sudah Dipulangkan |
|
|---|
| Soal Status Warga Indramayu yang Kirim Paket Terkait Kasus Ledakan di Sukoharjo, Begini Kata Polisi |
|
|---|
| Ini Identitas Warga Indramayu Diduga Pengirim Paket yang Meledak di Sukoharjo |
|
|---|
| Pria di Indramayu Ngaku Kirim Paket Isi Bahan Pembuat Kembang Api, Polisi Jadi Korban Ledakan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/cirebon/foto/bank/originals/Dasniti-kanan-saat-menghubungi-anaknya-yang-bekerja-di-Singapura-melalui-panggilanF.jpg)