Kericuhan di Kasepuhan Cirebon

Pangeran Heru Rusyamsi Laporkan Kericuhan di Kasepuhan Cirebon, Lima Orang Terluka

Pangeran Heru Rusyamsi Arianatereja, atau yang dikenal sebagai Pangeran Kuda Putih, melaporkan insiden kericuhan yang terjadi di Alun-alun Sangkala Bu

Penulis: Eki Yulianto | Editor: Mutiara Suci Erlanti
Tribuncirebon.com/Eki Yulianto
Sultan Sepuh Jaenudin II Arianatareja, Pangeran Heru Rusyamsi Arianatereja saat diwawancarai di depan Mapolres Cirebon Kota terkait insiden kericuhan di Alun-alun Sangkala Buana Kasepuhan, Rabu (2/10/2024) malam 


Sejumlah pengikut Pangeran Kuda Putih, Heru Rusyamsi, mendatangi markas Laskar Agung Macan Ali yang terletak di sisi timur alun-alun.


Kericuhan dipicu saat Mahesa, utusan Heru Rusyamsi, bertemu dengan Prabu Diaz, Panglima Tinggi Laskar Agung Macan Ali, untuk membahas polemik terkait klaim atas kedudukan di Keraton Kasepuhan Cirebon.


Setelah berdiskusi, Mahesa dan Prabu Diaz keluar dari markas dengan pengawalan ketat.


Namun, ketegangan terjadi ketika sekelompok warga mencoba menyerang Mahesa, menganggap kehadirannya hanya menimbulkan masalah.

Baca juga: Asal Muasal Ketegangan di Alun-alun Kasepuhan Cirebon, Pengikut Pangeran Kuda Putih Dikepung Warga


"Kesal saja, mereka datang cuma bikin keributan," ujar seorang warga yang berada di lokasi, Rabu siang.


Massa yang marah juga mencoba memukuli mobil pengikut Heru Rusyamsi yang parkir di sisi barat alun-alun.


Polisi yang berjaga di lokasi sempat kesulitan mengendalikan situasi.


Prabu Diaz kemudian turun tangan menenangkan massa dan meminta mereka untuk tenang.


"Saya meminta semua untuk tenang, jangan sampai terjadi hal-hal yang lebih buruk," ucap Prabu Diaz.


Prabu Diaz menjelaskan bahwa pertemuan dengan utusan Heru Rusyamsi dilakukan untuk membahas klaim terhadap Kesultanan Kasepuhan.


Ia menekankan pentingnya mengedepankan dialog dan menghindari kekerasan.


"Diskusi ini bertujuan untuk mencari kebenaran terkait siapa yang berhak menjadi Sultan Kasepuhan."


"Kami berusaha menjembatani agar pembahasan dilakukan secara damai dan terbuka," jelas dia.


Ia juga menegaskan bahwa hingga kini belum ada keputusan pasti terkait siapa Sultan yang sah di Keraton Kasepuhan.


Kericuhan akhirnya mereda setelah massa tenang dan rombongan Mahesa meninggalkan lokasi dengan pengawalan ketat dari pihak kepolisian.


Sementara itu, Laskar Agung Macan Ali Nuswantara, yang dikenal aktif dalam kegiatan sosial dan kebudayaan di Cirebon, kembali menunjukkan perannya dalam menjaga keamanan di tengah ketegangan tersebut.

Sumber: Tribun Cirebon
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved