Senin, 27 April 2026
Superhub Kota Cirebon
Selamat Datang Di SuperHub Pemerintah Kota Cirebon

2 Cara Alami Membasmi Hama Tikus Ala Petani SPI Indramayu, Terbukti Ampuh

Hama tikus masih menjadi momok yang menakutkan bagi para petani, tidak terkecuali di Kabupaten Indramayu.

Tribuncirebon.com/Handhika Rahman
Petani SPI Indramayu saat membuat ramuan Bioyoso di Desa Sukamulya, Kecamatan Tukdana, Kabupaten Indramayu, Selasa (16/7/2024) 

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Handhika Rahman

TRIBUNCIREBON.COM, INDRAMAYU - Hama tikus masih menjadi momok yang menakutkan bagi para petani, tidak terkecuali di Kabupaten Indramayu.

Seperti di Desa Sukamulya, Kecamatan Tukdana. Di sana tengah dilanda serangan tikus di musim tanam dua sekarang ini.

Memasuki 30 HST, serangan tikus semakin merajalela. Hampir semua petani yang menanam padi dan palawija mengalami serangan hama tersebut.

Berbagai cara pun dilakukan untuk mengatasinya. Serikat Petani Indonesia (SPI) Indramayu punya cara ampuh untuk membasmi tikus.

Baca juga: Saat Polisi dan TNI Bantu Atasi Hama Tikus yang Ganggu Tanaman Padi Petani di Indramayu

Mereka lebih memilih cara alamiah, ketimbang menggunakan racun hingga jebakan yang memiliki risiko tinggi.

Walau alami, SPI mengklaim, cara tersebut berhasil menekan peredaran hama tikus yang kerap merusak tanaman padi patani.

Ketua SPI Indramayu, Try Utomo mengatakan, cara pertama bisa dilakukan dengan mengandalkan burung hantu.

Cara lainnya juga bisa mengandalkan ramuan alami sebagai racun tikus, yang disebut Bioyoso.

“Upaya ini kami lakukan untuk menjaga tanaman kami dari serangan Tikus yang masif. Tetap dengan cara-cara agroekologis dan tidak ketergantungan dengan kimia sintetis atau menggunakan listrik yang dikhawatirkan menambah jumlah korban jiwa karena kelalaian,” ujar dia kepada Tribuncirebon.com, Selasa (16/7/2024).

Try Utomo menjelaskan, ramuan Bioyoso terbuat dari umbi gadung, getah kamboja, dedek lembut, ragi, beras, dan ikan atau terasi.

Cara membuatnya pun sangat mudah, cukup ditumbuk dan dicampur menjadi satu hingga tekstur ramuan tersebut menjadi lembut.

Setelah itu Bioyoso dijemur hingga agak kering. 

Pelatihan pembuatan Bioyoso ini rutin dilakukan SPI sebagai bagian dari seri Pendidikan Agroekologi.

Baca juga: Petani Bongas Indramayu Curhat Pertanian ke Ketua DPRD, Ada Apa? Ternyata Ini Masalahnya


Try Utomo menyampaikan, ramuan Bioyoso ini akan menjadi umpan untuk dimakan oleh tikus. 

Setelah memakan ramuan ini, hewan pengerat itu akan mengalami kemandulan dan giginya akan rontok. Dalam kurun waktu kurang lebih dua minggu, tikus itu akan mati. 

”Ini sebagai semangat kami menjaga Indramayu sebagai lumbung padi nasional serta menjadi perhatian pemerintah mengurungkan niat nya import beras besar-besaran. Karena akan mempengaruhi harga gabah saat panen raya,” ujar dia.

Selain ramuan Bioyoso, SPI Indramayu juga mengklaim pengendalian hama tikus dengan mengandalkan burung hantu juga sangat efektif.

SPI Indramayu pun sebenarnya sudah menggelar pelatihan pembuatan rumah burung hantu (Rubuha).

Hasilnya, dalam jangka waktu sekitar 1 bulan, Rubuha itu sudah ada yang mengisi. 

Tampak burung hantu atau tito alba rutin berpatroli di areal sawah petani sejak dipasangnya Rubuha tersebut.

Burung hantu sendiri, kata Try Utomo, memang menjadi predator alami untuk hama tikus yang berkeliaran di areal sawah.

Try Utomo mengatakan, berdasarkan laporan petani di lapangan, hampir setiap malam tito alba ini berpatroli.

Burung hantu itu dalam semalam bisa memangsa 5-8 tikus semalam, hal ini terlihat dari bekas muntahan makannanya di bawah kandang.

Petani SPI Indramayu di Desa Jayalaksana, Kedokan Bunder, Tonawi menyampaikan, usai dipasang Rubuha, nyaris tidak ada lagi hama tikus yang menyerang tanaman padi miliknya.

“Serangan tikus pada lahan yang sudah dibangun Rubuha tidak seberapa atau bahkan hampir tidak ada,” ujar dia.

Sumber: Tribun Cirebon
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved