Breaking News:

Santri Madrasah di Indramayu Terpaksa Kerjakan Ujian di Bangunan Sempit Bekas Warung, Kelas Ambruk

Lima puluh siswa harus berdesak-desakan di ruangan sempit untuk kerjakan ujian setelah kelas mereka ambruk.

Penulis: Handhika Rahman | Editor: taufik ismail
Tribuncirebon.com/Handhika Rahman
Para santri di Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) di Blok Timol, Desa Pranggong, Kecamatan Arahan, Kabupaten Indramayu terpaksa mengerjakan ujian di bangunan sempit bekas warung, Kamis (8/12/2022). 

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Handhika Rahman

TRIBUNCIREBON.COM, INDRAMAYU - Sebanyak 50 santri di Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) di Blok Timol, Desa Pranggong, Kecamatan Arahan, Kabupaten Indramayu terpaksa mengerjakan ujian di bangunan sempit bekas warung, Kamis (8/12/2022).

Dengan kondisi pengap dan sesak, para santri yang terdiri dari kelas 1-4 itu tetap harus berkonsentrasi mengerjakan soal.

Beberapa di antaranya tampak kegerahan dan mengkipas-kipaskan buku tulis untuk mengusir gerah di sela-sela mengerjakan soal.

Kondisi itu harus dialami para santri karena ruang kelas madrasah tempat mereka biasa belajar ambruk.

Salah seorang santri, Aji (11) mengaku tidak nyaman belajar di dalam ruangan sempit bekas warung tersebut.

Di bangunan bekas warung itu, bahkan diketahui juga harus dibagi menjadi dua ruangan, masing-masing ruangnya harus diisi oleh 2 kelas.

"Inginnya cepat diperbaiki madrasahnya, enggak nyaman belajar di sini," ujar santri kelas 4 tersebut kepada Tribuncirebon.com.

Hal yang sama juga disampaikan Adel (10), ia mengaku tidak kuat berada di dalam kelas yang sekarang karena kecil dan sangat pengap.

"Gerah, enggak enak," ujar dia.

Kepala MDTA Bhidayatun Nihayah, Wahyudi mengatakan, para santri terpaksa belajar di bangunan tersebut karena ruang kelas mereka ambruk diterjang hujan deras disertai angin kencang.

Kejadian itu terjadi pada Sabtu (3/12/2022) malam. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu karena terjadi pada malam hari.

"Pindah dulu sementara ke bangunan bekas warung di sebelah madrasah," ujar di.

Wahyudi menyampaikan, setelah kejadian tersebut, rencananya madrasah pun akan dibangun kembali di lahan wakaf di dekat masjid di desa setempat.

Namun, kata dia, pihak madrasah memiliki kendala terutama soal biaya untuk membangun bangunan madrasah yang baru.

Wahyudi menambahkan, bahkan di MDTA Bhidayatun Nihayah juga ada empat orang guru yang mengajar. Namun, sudah setahun terakhir ini, honor guru madrasah dari Pemkab Indramayu tak kunjung cair.

"Honor guru Rp 300 ribu per bulan. Sekarang sudah setahun honornya belum cair," ujar dia.

Baca juga: Puing-puing Madrasah di Indramayu Berserakan, Roboh Diterjang Angin Kencang

Sumber: Tribun Cirebon
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved