Breaking News:

Gempa Bumi Cianjur

Bupati Cianjur Bantah Pengungsi Mengemis, Pencarian Korban Berakhir Hari Ini, 11 Belum Ditemukan

Kabar mengenai pengungsi gempa yang mulai mengemis dibantah oleh Bupati Cianjur.

Editor: taufik ismail
Tribun Jabar/Adi Ramadhan P
Pengungsi gempa Cianjur mulai mengemis di jalan. 

TRIBUNCIREBON.COM, CIANJUR - Bupati Cianjur, Herman Suherman, membantah adanya pengungsi yang mulai mengemis dan berburu sumbangan di tepian jalan dari para pengendara yang melintas.

Menurutnya, mereka yang meminta-minta di tepian jalan itu bukanlah para pengungsi yang terdampak gempa.

"Itu bukan masyarakat yang terdampak gempa, itu hanya warga setempat dan bukan korban gempa bumi," ujarnya saat ditemui di Pendopo Cianjur, Jumat (2/12/2022).

Bupati mengaku sudah membentuk tim untuk menertibkan warga yang meminta-minta sumbangan di tepian jalan ini.

"Pak Kapolres dan Satpol PP sudah turunkan tim untuk menindaklanjutinya. Kita sudah membentuk tim khusus," ujarnya.

Sebelumnya diberitakan, para pengungsi gempa di Kabupaten Cianjur mulai mengemis untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Berbekal jaring bertangkai yang biasa dipakai menangkap ikan kecil, mereka berdiri di sepanjang jalan utama Gasol, Kecamatan Cugenang, menanti para pengendara melintas.  

Puluhan pengungsi yang mengemis juga terlihat di jalan-jalan utama di Desa Mangunkerta, Desa Sarampad, Desa Talaga, dan Desa Cibulakan, Kecamatan Cugenang. Pengungsi yang mengemis juga terlihat di Desa Nagrak di Kecamatan Cianjur

Tak hanya bapak-bapak, ibu-ibu, remaja dan anak-anak juga ikut mengemis. Bahkan ada juga seorang ibu yang mengemis sambil menggendong bayinya. 

Selain menggunakan jaring yang bertangkai untuk memudahkan menerima uang dari para pengendara, ada juga yang menggunakan gayung panjang, topi, atau kadus. Bahkan ada pula yang menggunakan panci bertangkai agar mudah menerima uang.

"Buat sembako, Kang," ujar salah seorang pengungsi, sambil menyodorkan gayung kepada pengendara, Rabu (30/11/2022).

Saat mengemis mereka tak pernah terlihat sendiri. Minimal berdua. Tapi ada juga yang berkelompok, tujuh hingga sepuluh orang.

Ujang Wandi (43), Koordinator Posko 2 pengungsian di Kampung Panahegan, Desa Gasol, para pengungsi terpaksa melakukan hal itu untuk mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari. Hampir semua yang datang, ujarnya,  memberikan mi instan.

"Kami juga harus menjaga pola makan agar tidak gampang sakit. Jika terus memakan mi setiap hari, kami takut akan bermasalah ke depannya," ujarnya, saat ditemui, Selasa (29/11/2022) lalu. 

Halaman
123
Sumber: Tribun Jabar
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved