Wagub Jabar Serahkan Klaim BPJS Ketenagakerjaan Ratusan Juta Rupiah Kepada Ahli Waris
Uu Ruzhanul Ulum menyerahkan santunan klaim senilai ratusan juta rupiah kepada sejumlah ahli waris peserta BPJS Ketenagakerjaan
Laporan Wartawan TribunJabar.id, Muhamad Syarif Abdussalam
TRIBUNCIREBON.COM, BANDUNG - Wakil Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum menyerahkan santunan klaim senilai ratusan juta rupiah kepada sejumlah ahli waris peserta BPJS Ketenagakerjaan, Jumat (14/10).
Wagub Jabar yang akrab disapa Pak Uu ini pun berharap semakin banyak pekerja formal maupun nonformal di Jabar yang menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan.
Dalam kesempatan tersebut, Pak Uu menyerahkan santunan klaim Jaminan Kematian (JKM) kepada dua ahli waris, yakni dari seorang pengemudi ojek online asal Kabupaten Bandung dan seorang pekerja sosial RT RW di Kota Bandung, masing-masing Rp 42 juta.
Kemudian Pak Uu pun menyerahkan santunan klaim JKM, Jaminan Hari Tua (JHT), dan beasiswa kepada ahli waris pekerja dari Karawang, sebesar sekitar Rp 134 juta.
Uniknya, kata Pak Uu, pengemudi ojek online yang mendapat santunan ini baru ikut kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan selama dua bulan, dengan membayar iuran Rp 16 ribu per bulan.
Namun, sudah bisa diberikan santunan senilai Rp 42 juta kepada ahli warisnya.
"Ini harus dijadikan contoh, motivasi bagi masyarakat jabar dalam berbagai komunitas pekerjaan maupun yang lainnya. Yang jadi kebanggan saya bisa mewakili BPJS Ketenagakerjaan memberikan bantuan terhadap anak-anaknya yang masih sekolah," kata Pak Uu seusai penyerahan santunan tersebut di Grand Preanger Bandung, Jumat (14/10).

Ia mengatakan memang yang menjadi ciri masyarakat modern di antaranya mempersiapkan untuk hari esok, yakni melalui tabungan dan asuransi. Agama pun mengajarkan agar umat manusia selalu mempersiapkan masa depan.
"Perlu kami ingatkan bahwa angkatan keja di Jabar semuanya 20 juta orang, yang bekerja di sektor formal sebanyak 10 juta. Dari angka itu, yang masuk BPJS Ketenagakerjaan 4,4 juta, berati sudah hampir 50 persen," katanya.
Ia pun mengimbau kepada para pemimpin perusahaan yang karyawannya belum masuk asuransi BPJS Ketenagakerjaan, untuk mendaftarkan pekerjanya segera.
Begitu pun pekerja di sektor nonformal supaya bisa mendapat jaminan keuangan masa depan.
"Kita harus persiapan untuk hal-hal yang tidak diinginkan. Karena ingat, bahwa hidup ini serba tiba-tiba, termasuk kematian. Dalam hadis sudah menyatakan kalau untuk kematian, seakan kita akan mati besok, maka karena saya seolah akan mati besok, masuk BPJS Kesehatan hari ini untuk keluarga yang ditinggalkan," katanya.
Ia mengatakan masih banyaknya warga yang belum bergabung dengan BPJS Ketenagakerjaan disebabkan ketidaktahuan masyarakat akan manfaat program pemerintah ini.
Karenanya, dibutuhkan sosialisasi yang masif untuk membuat jumlah pesertanya kian meningkat.
"Maka saya harap BPJS harus gencar mengadakan sosialisasi pemahaman dan pengertian kepada masyarakat tentang pentingnya asuransi, termasuk pemerintah gencar dan di dalamnya Disnaker tentang pentingnya asuransi," katanya.