Breaking News:

Harga Bawang Merah Rp 40.000 Sekilo, Ini yang Dilakukan Pemkab Majalengka untuk Tekan Harga

anggaran sebesar Rp 1,5 miliar khusus untuk menekan harga bawang merah, agar harga jual di pasaran tidak terlalu tinggi

Penulis: Eki Yulianto | Editor: Machmud Mubarok
TribunCirebon.com/Eki Yulianto
Petani Bawang di Desa Pakubereum di Kecamatan Kertajati, Kabupaten Majalengka. 

"Untuk petani bawang di wilayah Kertajati, Ligung dan Jatitujuh yang saat ini usia tanam baru sekita dua mingguan tidak akan disubsidi karena petani bawang merah di sana hampir seluruhnya pengusaha luar," ucapnya.

Di samping itu, jelas Iman, produksi pertaniannya semua dilempar ke pasar luar, seperti Cibitung dan Jakarta serta sebagian besar dibawa ke kampung halaman para petaninya di Brebes.

Menurutnya, langkah ini dilakukan semata untuk mengantisipasi laju inflasi dampak dari kenaikan harga BBM yang terjadi pekan kemarin.

Sebab, berdasarkan data penyumbang inflasi tertinggi yang terjadi di Majalengka ini, yang paling dominan adalah akibat kenaikan harga cabai dan bawang merah.

Sementara itu, harga bawang merah basah di tingkat petani, menurut keterangan petani bawang Ali (40) dan Anah (45) warga Desa Nunuk, Kecamatan Maja menyebutkan bahwa untuk saat ini hanya sebesar Rp 12.000 per kilogram.

Sebelumnya harga mencapai Rp 16.000 hingga Rp 18.000 per kilogram.

Sedangkan, harga bibit bawang kini naik mencapai Rp 85.000 per kilogram atau naik Rp 5.000.

Dia menyebutkan, subsidi harga jual dari pemerintah kini belum diketahui petani.

Sehingga petani masih menjual dengan harga pasar kepada tengkulak atau bandar.

“Belum tahu ada subsidi jual. Tadi dibayar seluruhnya oleh bandar,” jelas Ali yang baru menjual bawangnya sebanyak 3,3 tonan.

Sebelumnya, Bupati Majalengka Karna Sobahi mengungkapkan, untuk menekan angka inflasi yang terjadi di Kabupaten Majalengka, pihaknya  akan memastikan komoditas pertanian tersedia dengan cukup dan tidak dilempar ke luar hingga kebutuhan di Majalengka terpenuhi.

Ada langkah yang optimal agar produk pertanian tidak dijual keluar daerah sebelum pasar lokal terpenuhi, sekaligus untuk menstabilkan harga di pasaran.

Sebab, produk pertanian dianggap mampu mendukung ketahanan ekonomi masyarakat serta menekan angka inflasi dan membantu laju pertumbuhan ekonomi masyarakat.

“Sejumlah harga komoditas sayuran di Majalengka tinggi karena produksi pertanian ini sebagian besar dibawa keluar daerah oleh tengkulak."

"Para petani di Majalengka hanya menjadi pekerja, ketika memulai tanam petani mendapatkan modal dari tengkulak sehingga begitu panen hasil langsung dibawa keluar."

"Konsumen di Majalengka yang memiliki dampak harga mahal setelah barang dibawa kembali ke Majalengka,” kata Karna. (*)

 

Sumber: Tribun Cirebon
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved