Breaking News:

INNALILLAHI, H Abdul Chaer, Tokoh Betawi dan Pakar Lingustik Indonesia Meninggal Dunia

Innalillahi wainnailaihi roji'un, tokoh Betawi, ahli bahasa dan pakar linguistik Indonesia, H. Abdul Chaer bin H. Mad'i Syahdi  meninggal dunia

Penulis: Machmud Mubarok | Editor: Machmud Mubarok
Facebook
H Abdul Chaer, tokoh Betawi dan pakar linguistik Indonesia, meninggal dunia di rumah Duren Sawit Jakarta Timur, Selasa (13/9/2022). 

TRIBUNCIREBON.COM, JAKARTA - Innalillahi wainnailaihi roji'un, tokoh Betawi, ahli bahasa dan pakar linguistik Indonesia, H. Abdul Chaer bin H. Mad'i Syahdi  meninggal dunia di Jakarta Timur, Selasa (13/9/2022) sekitar pukul 18.17 WIB. 

Informasi yang disampaikan akademisi Bekasi, Andi Sopandi, di akun Facebooknya, disebutkan bahwa Abdul Chaer meninggal dalam usia 82 tahun. Rumah duka berada di  Jl.Taman Malaka Utara IV Blok D8 no.24 Malaka Sari, Duren Sawit Jakarta Timur 13460.

Andi yang juga sejarawan Bekasi mengungkapakan sedikit riwayat tentang almarhum. Abdul Chaer merupakan seorang ahli bahasa dan penulis yang telah banyak menghasilkan karya berupa buku, baik kamus maupun pengantar lain terkait dengan kebahasaan.

Cara penulisannya yang sederhana membuat buku-bukunya acap kali dijadikan pegangan bagi mahasiswa yang memilih program studi (prodi) Bahasa Indonesia, terutama sebagai referensi dalam penelitian kebahasaan.

Baca juga: Sosok Rano Karno, Si Doel Anak Betawi yang Legendaris Raih Lifetime Achievement di FFB 2021

Abdul Chaer yang lahir di Jakarta pada 8 November 1940 tersebut memperoleh gelar sarjana pendidikan dari Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Jakarta pada 1969. Selanjutnya, beliau mengikuti program post graduate study di bidang Lingustik pada 1976--1977 di Rijksuniversiteit, Leiden, Belanda. Rumah almarhum dulu di depan mulut Gang Buaya 2 dekat Kuburan Karet Tengsin.

Dilansir dari situs kebudayaan.kemdikbud.go.id, ditulis bahwa Abdul Chaer adalah seorang linguis yang memberikan perhatian pada bahasa dan budaya Betawi. Ia menulis empat kamus dan 41 buku yang banyak mengupas bahasa dan budaya Betawi, antara lain, Kamus Dialek Jakarta dan Folklor Betawi.

Atas kepeduliannya tersebut, pensiunan lektor kepala mata kuliah lingustik pada Universitas Negeri Jakarta ini menerima penghargaan Anugerah Kebudayaan kategori Pelestari dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2019.

Abdul Chaer mendalami kebudayaan Betawi sejak ia menyusun kamus Kamus Dialek Melayu Jakarta-Bahasa Indonesia, yang diterbitkan oleh Nusa Indah pada 1976. Di masa itu, seorang teman sejawatnya dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menunjukkan kamus bahasa Betawi-Jerman yang disusun oleh warga Jerman. Kamus yang ditulis orang asing itu membuatnya—sebagai orang Betawi— tergerak untuk menyusun kamus bahasa ibunya.

Dalam perjalanannya menyusun kamus bahasa Betawi, ia kemudian menemukan varian yang kaya dari dialek Betawi. Dialek Betawi di Ciputat berbeda dengan dialek Betawi di Tanah Abang. Demikian juga dengan dialek Betawi di tempat asalnya, di Karet Kubur. Seperti ungkapan berapah (dialek Ciputat), berapeu (Tanah Abang) dan berape (Karet Kubur). Dengan banyaknya varian dialek tersebut, dalam penyusunan kamus dialek Betawi, Abdul Chaer memutuskan untuk menggunakan salah satu dialek, yaitu dialek Karet Kubur.

Sumber: Tribun Cirebon
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved