Breaking News:

Keraton di Cirebon

KISAH Masjid Agung Sang Cipta Rasa di Keraton Kasepuhan Diganggu Sosok Sakti, Hingga Memprihatinkan

Sebelum mengalami kebakaran, Masjid Agung Sang Cipta Rasa sempat mendapat gangguan pertama dari sosok sakti mandraguna.

Editor: dedy herdiana
Kemendikbud
Masjid Agung Sang Cipta Rasa 

TRIBUNCIREBON.COM - Sebelum mengalami kebakaran, Masjid Agung Sang Cipta Rasa sempat mendapat gangguan pertama dari sosok sakti mandraguna.

Masjid ini merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Cirebon yang ada di salah satu kompleks keraton di Cirebon, yakni di kompleks Keraton Kasepuhan, Kota Cirebon.

Kisah datangnya gangguan pertama ini diceritakan dalam Naskah Mertasinga, pupuh LXVI.20 - LXVII.09.

Baca juga: CERITA Terbakarnya Masjid Agung Sang Cipta Rasa di Keraton Kasepuhan, Momolo -nya Terbang ke Banten

Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang berada persis di depan Keraton Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Kamis (7/5/2020).
Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang berada persis di depan Keraton Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Kamis (7/5/2020). (Ahmad Imam Baehaqi - Tribincirebon.com)

Naskah ini merupakan hasil alih aksara dan alih bahasa dari naskah-naskah lama mengenai Babad Cirebon dan Pajajaran yang diberi kata pengantar oleh Sultan Sepuh Kasepuhan, PRA. Dr H Maulana Pakuningrat SH, dan Ahli Sejarah Dr Uka Tjandrasasmita.

Berdasarkan naskah tersebut, diceritakan bahwa ketika itu Kesultanan Cirebon dipimpin oleh Panembahan Ratu yang berwatak aulia.

Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang saat itu dikenal dengan sebut Masjid Carbon pun selalu ramai oleh orang-orang yang beribadah, mulai dari salat setiap lima waktu hingga banyak orang yang berzikir setiap saat. Sehingga suara orang-orang yang berzikir selalu terdengar bergemuruh siang dan malam.

Waktu itu Masjid Agung masih satu bangunan saja belum ada serambi di sekelilingnya, dan masih dibatasi tembok. Patakanya ( momolo) terbuat dari perunggu dan bentuknya mencuat tajam.

Kemudian di Cirebon yang kala itu juga masih dikenal dengan sebutan Carbon, tersiar kabar yang menggemparkan. Yaitu datangnya seorang panglima utusan dari Mataram, yang bernama Gedeng Anis.

Setiap tiga tahun dia bertugas untuk berkeliling memeriksa raja-raja bawahan Mataram. Semua negara yang berada di bawah Mataram dikunjunginya untuk diperiksa bahwa di negara itu tidak ada gejala-gejala pemberontakan kepada Mataram. Hal itu dilakukan untuk menjaga jangan sampai adanya raja bawahan yang memberontak kepada kekuasaan Mataram. 

Baca juga: Sejarah dan Keunikan Masjid Agung Sang Cipta Rasa di Keraton Kasepuhan, Dibangun Hanya Satu Malam

Ketika Gedeng Anis datang memeriksa Pakungwati (Komplesk Keraton Kasepuhan sekarang), ia melihat kondisi masjid yang ramai dikunjungi oleh orang-orang mengaji hingga malam hari. Tak dipungkiri saat itu jumlah pengikut agama Islam di Cirebon semakin meningkat.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved