Breaking News:

Sosok

SOSOK Mikhail Gorbachev, Eks Presiden Uni Sovyet Pencetus Glasnot & Perestroika, Meninggal di Moskow

antan Presiden Uni Soviet, Mikhail Gorbachev meninggal dunia di usianya yang ke 92 tahun. Gorbachev wafat di Moskow

Penulis: Machmud Mubarok | Editor: Machmud Mubarok
RIA Novosti archive
Pemimpin Uni Sovyet, Mikhail Gorbachev, meninggal dunia di Moskow pada usia 92 tahun. Foto diambil saat kunjungan ke Polandia pada 1988 bersama istrinya, Raisa. 

Ia menarik pasukan dari Perang Soviet–Afganistan dan mulai melakukan pertemuan tingkat tinggi dengan Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan untuk membahas pembatasan senjata nuklir dan menghentikan Perang Dingin. Ia memulai kebijakan glasnost ('keterbukaan') untuk peningkatan kebebasan berbicara dan kebebasan pers serta kebijakan perestroika ('restrukturisasi') untuk mendesentralisasikan pembuatan keputusan ekonomi untuk meningkatkan efisiensi.

Langkah-langkah demokratisasinya dan pembentukan Kongres Perwakilan Rakyat terpilih membuat Uni Soviet bukan lagi sebuah negara bersistem satu partai.

Gorbachev juga menolak mengintervensi secara militer negara-negara Blok Timur yang meninggalkan pemerintahan komunisnya pada tahun 1989–1990.

Di dalam negeri, sentimen nasionalis berkembang dan mengancam pembubaran Uni Soviet yang menyebabkan para penganut Marxisme–Leninisme garis keras melancarkan Kudeta Agustus yang gagal kepada Gorbachev pada tahun 1991.

Setelahnya, Uni Soviet dibubarkan; hal ini bertentangan dengan keinginan Gorbachev dan ia mengundurkan diri dari jabatannya. Setelah meninggalkan jabatannya, Gorbachev membentuk Yayasan Gorbachev yang menjadi kritik vokal bagi Presiden Rusia Boris Yeltsin dan Vladimir Putin serta menyerukan gerakan demokratis sosial di Rusia.

Dianggap secara luas sebagai salah satu tokoh paling penting pada paruh kedua abad ke-20, Gorbachev selalu menjadi subjek kontroversi.

Seorang penerima berbagai penghargaan, termasuk Penghargaan Nobel Perdamaian, Gorbachev dipuji secara luas atas peran pentingnya dalam mengakhiri Perang Dingin, memperkenalkan kebebasan politik baru di Uni Soviet, serta menoleransi kejatuhan administrasi Marxis–Leninis di Eropa Timur dan Eropa Tengah, juga menoleransi reunifikasi Jerman.

Sebaliknya, ia sering dicemooh di Rusia akibat mempercepat kejatuhan Uni Soviet, peristiwa yang menyebabkan berkurangnya pengaruh Rusia di mata internasional dan memicu terjadinya krisis ekonomi Rusia.

Sumber: Tribun Cirebon
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved