Breaking News:

Kasus HIV/AIDS di Kuningan Selama Tiga Tahun Ada 157 Orang, Siapa Saja Penderitanya?

di Kuningan, terhitung sejak tahun 2020 hingga Juni 2022 tercatat 157 orang yang HIV reaktif. Siapa saja penderitanya?

Penulis: Ahmad Ripai | Editor: Machmud Mubarok
Kolase
Ilustrasi HIV/AIDS 

Laporan Kontributor Kuningan, Ahmad Ripai

TRIBUNCIREBON.COM, KUNINGAN - Jumlah orang dengan HIV / Aids di Kuningan terbilang banyak.

Hasil gerakan masyarakat melalui LSM Petik pada program pengendalian dan penanggulangan HIV/ Aids di Kuningan, terhitung sejak tahun 2020 hingga Juni 2022 tercatat 157 orang yang HIV reaktif.

"Selama tiga tahun hasil rujukan tes ada 948 terindikasi. Dari jumlah tadi, kategori penyakit HIV reaktifnya ada sebanyak 29 orang. Kemudian, pada tahun 2021 itu rujukan tes dan terima hasil ada sebanyak 980 orang dengan kondisi HIV reaktif 97 orang dan hingga bulan Juni 2022 itu ada sebanyak rujukan tes dan terima hasil 902 orang, HIV reaktif 31 orang," kata Ketua LSM Petik Kuningan, Adang Sumbada saat memberikan keterangannya kepada TribunCirebon.com, Kamis (25/8/2022).

Baca juga: Selama Pandemi, Kasus Orang dengan HIV/AIDS di Kuningan Justru Naik, Pengurus KPAD Heran

Adang menyebut, dalam penanganan kasus positif HIV / Aids di Kuningan, LSM Petik sangat menjaga data pribadi ODHA (orang dengan HIV/ Aids). Alasan itu dilakukan karena, hal ini merupakan kerja sosial kemanusiaan.

"Ya, meski mereka (ODHA) bukan pada kalangan tertentu. Kami sangat menjaga privasi mereka yang berhak mendapat pelayanan hidup pada umumnya," katanya.

Bukti lain kepedulian LSM Petik, kata Adang mengaku hingga sekarang komitmen memberikan pendampingan terhadap ODHA dalam mendapat hak sehat dan hak hidup.

"Sejauh ini, kami komitmen memberikan pelayanan kepada mereka dalam mendapat pelayanan kesehatan dan hak hidup pada umumnya. Jadi, jelas tindakan kita ini bentuk kemanusiaan," katanya.

Ancaman usia pendek pada ODHA, kata Adang menjadi sorotan itu pada mereka (ODHA) yang memiliki riwayat penyakit lain sebagai penyerta.

"Jadi begini, ancaman kematian pada ODHA itu ketika seseorang terjangkit positif HIV/AIDS ini memiliki penyakit lain sebagai penyerta. Nah, penyakit penyerta ini jelas bahaya dan bisa mengancam kelangsungan hidup mereka yang positif HIV/Aids," katanya.

Menyinggung klaster HIV/Aids, Adang mengaku bahwa semua kalangan itu ada yang terpapar dengan penyakit tersebut. Namun kembali lagi, bahwa ini bukan untuk dibuka pada publik dan kerja LSM Petik itu pada perjuangan sosial kemanusiaan. (*)

Sumber: Tribun Cirebon
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved