Breaking News:

Keraton di Cirebon

CERITA Terbakarnya Masjid Agung Sang Cipta Rasa di Keraton Kasepuhan, Momolo -nya Terbang ke Banten

Naskah ini diberi kata pengantar oleh Sultan Sepuh Kasepuhan, P.R.A. Dr.H.Maulana Pakuningrat S.H, dan Ahli Sejarah Dr.Uka Tjandrasasmita.

Editor: dedy herdiana
Ahmad Imam Baehaqi - Tribincirebon.com
Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang berada persis di depan Keraton Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Kamis (7/5/2020). 

TRIBUNCIREBON.COM - Masjid Agung Sang Cipta Rasa dalam perjalanan waktunya konon banyak mendapatkan gangguan, hingga yang terakhir mengalami kebakaran.

Masjid ini merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Cirebon yang ada di salah satu kompleks keraton di Cirebon, tepatnya berlokasi di kompleks Keraton Kasepuhan, Kota Cirebon.

Soal catatan Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang disebut pula sebagai Masjid Agung Cirebon atau Masjid Sunan Gunung Jati atau Masjid Pakungwati, ini pernah terbakar terulis dalam Naskah Mertasinga.

Masjid Agung Sang Cipta Rasa
Masjid Agung Sang Cipta Rasa (Kemendikbud)

Naskah ini merupakan hasil alih aksara dan alih bahasa dari naskah-naskah lama mengenai Babad Cirebon dan Pajajaran yang diberi kata pengantar oleh Sultan Sepuh Kasepuhan, P.R.A. Dr.H.Maulana Pakuningrat S.H, dan Ahli Sejarah Dr.Uka Tjandrasasmita.

Diceritakan dalam pupuh LXIX.09 - LXIX.18, bahwa Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini juga disebut-sebut sebagai masjid tertua di Cirebon, ini pernah terbakar pada masa kesultanan Panembahan Ratu. 

Baca juga: Mengulas Naskah Kuno Cirebon yang Menceritakan Perjalanan Seorang Dewi dan Peperangan

Naskah kuno Cirebon
Naskah kuno Cirebon (Kemdikbud)

Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang ditulis dalam naskah tersebut dengan sebutan Masjid Agung Carbon, sudah sekitar 48  tahun selalu mendapat cobaan atau gangguan.

Hingga yang terbaru saat itu, Masjid Agung Carbon terbakar, atapnya dimakan api yang datang dari arah selatan (warga saat itu berkeyakinan api itu merupakan kiriman orang yang ingin mengganggu).

Terbakarnya atap masjid, sontak membuat semua orang gempar, dan mereka langsung datang berusaha mengambil air untuk membantu memadamkan.

Ketika itu diceritakan Ki Lebe Dul Iman sibuk mendorong-dorong kayu yang terbakar dengan galahnya.

Merbot Hamjan bersama Ki Modin menaburkan debu dan mengerahkan orang-orang yang membawa air.

Modin Yusup dan para pembantunya menaburkan tanah untuk mematikan api.

Lalu berdatangan para Lebe (kepala desa) dari pedesaan, mereka datang untuk membantu memadamkan api.

Di tengah kesibukan itu tiba-tiba pataka atau momolo atau mastaka (hiasan di puncak masjid) melesat ke atas menembus asap hitam yang membumbung ke angkasa, dan akhirnya jatuh di Banten. Peristiwa ini sebagai isyarat bagi Banten, bahwa bertahtanya Sultan di Banten itu akan berakhir.

Akhirnya api pun dapat dipadamkan, yang terbakar ialah pataka beserta atapnya yang bersusun tiga.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved