Breaking News:

Kades Citemu Divonis, Kasusnya Sempat Viral Karena Bendaharanya Turut Jadi Tersangka padahal Pelapor

Kasus tersebut sempat viral dan menyita perhatian publik. Bendahara atau Kaur Keuangan Desa Citemu, Nurhayati, sempat ditetapkan sebagai tersangka

Penulis: Ahmad Imam Baehaqi | Editor: dedy herdiana
Tribuncirebon.com/Ahmad Imam Baehaqi
Kepala Kejari Kabupaten Cirebon, Hutamrin (kiri), saat konferensi pers terkait vonis hakim yang kepada Kades Citemu berinisial S di Aula Kejari Kabupaten Cirebon, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, Selasa (26/7/2022). 

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Ahmad Imam Baehaqi

TRIBUNCIREBON.COM, CIREBON - Kuwu atau Kepala Desa Citemu, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon, berinisial S telah divonis hukuman penjara dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Bandung.

Kasus tersebut sempat viral dan menyita perhatian publik beberapa waktu lalu. Karena bendahara atau Kaur Keuangan Desa Citemu, Nurhayati, sempat ditetapkan sebagai tersangka.

Padahal, Nurhayati merupakan orang yang mengungkap kasus itu dan melaporkannya ke BPD Citemu kemudian diteruskan ke Polres Cirebon Kota.

Namun, status tersangka akhirnya dicabut sehingga hanya S yang diproses lebih lanjut dan kini telah mendapatkan vonis Pengadilan Tipikor Bandung.

Baca juga: Tak Lagi Bestatus Tersangka, Nurhayati Ingin Bekerja Kembali sebagai Kaur Keuangan Desa Citemu

Nurhayati (kanan), dan kuasa hukumnya, Waswin Janata (kiri), menunjukkan SKP2 dari Kejari Kabupaten Cirebon di Desa Citemu, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon, Kamis (3/3/2022).
Nurhayati (kanan), dan kuasa hukumnya, Waswin Janata (kiri), menunjukkan SKP2 dari Kejari Kabupaten Cirebon di Desa Citemu, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon, Kamis (3/3/2022). (Tribuncirebon.com/Ahmad Imam Baehaqi)

Menanggapi vonis yang sudah berikan hakim kepada terdakwan Kades Citemu, Kepala Kejari Kabupaten Cirebon, Hutamrin, mengatakan, majelis hakim menyatakan S terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama sebagaimana dalam Dakwaan Kesatu Subsidiair.

Yakni, Pasal 3 jo Pasal 18 UU Nomor 31 Tahun 1990 sebagaimana telah diubah dan ditambah UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

"Dalam vonis tersebut, S dijatuhi pidana penjara empat tahun dikurangi masa tahanan sementara dan denda Rp 200 juta subsider tiga bulan kurungan," ujar Hutamrin dalam konferensi pers di Aula Kejari Kabupaten Cirebon, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, Selasa (26/7/2022).

Ia mengatakan, vonis itu lebih rendah dari tuntutan JPU, yaitu, penjara selama 7,5 tahun dikurangi masa tahanan sememtara dan denda Rp 250 juta subsider enam bulan kurungan.

Hal itu sesuai Dakwaan Kesatu Primair Pasal 2 ayat (1) jo Pasal 18 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dan ditambah UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Namun, majelis hakim hanya memvonis Dakwaan Kesatu Subsidiair, dan S dinyatakam tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana Dakwaan Kesatu Primair.

Yakni, Pasal 2 ayat (1) jo Pasal 18 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dan ditambah UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

"Kami mengajukan banding karena terdakwa dibebaskan dari dakwaan primair, dan dari pihak terdakwa juga mengajukan banding," kata Hutamrin.

Hutamrin menyampaikan, dalam putusan tersebut S juga dihukum membayar uang pengganti kerugian negara sebesar Rp 818.722.500.

Jika terdakwa tidak membayar uang pengganti dalam waktu satu bulan setelah putusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum tetap, maka harta bendanya disita Jaksa untuk menutupi uang pengganti tersebut.

"Apabila tidak mempunyai harta benda yang mencukupi untuk membayar uang pengganti tersebut maka diganti pidana penjara selama satu tahun," ujar Hutamrin.

Tangkapan layar video viral pengakuan Nurhayati.
Tangkapan layar video viral pengakuan Nurhayati. (FOTO ISTIMEWA)

Baca juga: Pesan Nurhayati kepada Masyarakat Indonesia, Jangan Takut Laporkan Korupsi

 

Sumber: Tribun Cirebon
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved