Breaking News:

Pentas Dogig di Kuningan Berbau Mistis Jadi Hiburan Warga, Berikut Penjelasan Tokoh Desa Ciniru

Pentas Dogig alias Dogdog Bebegig yang menjadi budaya lokal Desa / Kecamatan Ciniru, Kuningan, sontak menjadi perhatian hingga hibur warga sekitar.

Penulis: Ahmad Ripai | Editor: dedy herdiana
Dok. Sekretaris Desa Ciniru Dede Mulyana
Foto bersama para pemain seni tradisional Dogdog Bebegig (Dogig) dan tokoh warga Ciniru, Kuningan. 

Laporan Kontributor Kuningan, Ahmad Ripai

TRIBUNCIREBON.COM, KUNINGAN - Pentas Dogig alias Dogdog Bebegig yang menjadi budaya lokal Desa / Kecamatan Ciniru, Kuningan, sontak menjadi perhatian hingga hibur warga sekitar.

Terlebih dalam pentas budaya lokal itu berlangsung di sela kegiatan warga dalam acara khitanan.

"Untuk pentas Dogig atau Dog dog Bebegig ini emang budaya asli desa kami. Kebetulan pentas Dogig seperti lebih menjadi anggapan dan hiburan warga di acara khitanan," ungkap Dede Mulyana sekaligus sekretaris desa setempat saat membeli keterangannya tadi, Kamis (26/5/2022).

Menyinggug soal Dogig yang menjadi hiburan warga yang berbau mistis, kata Dede menyebut, bahwa Dogig itu sebenarnya digunakan masyarakat Karuhun untuk mengusir hama atau ancaman wabah pada lahan pertanian warga.

Foto bersama para pemain seni tradisional Dogdog Bebegig (Dogig) dan tokoh warga Ciniru, Kuningan.
Foto bersama para pemain seni tradisional Dogdog Bebegig (Dogig) dan tokoh warga Ciniru, Kuningan. (Dok. Sekretaris Desa Ciniru Dede Mulyana)

"Sejarah singkat Dogig, begini. Dogig sebagai budaya pementasan yang dilakukan warga sekaligus mencegah terhadap serangan hama atau wereng pada lahan pertanian," katanya.

Kenapa Dogig berbau mistis hingga sampai sekarang tetap di lestarikan, kata Dede mengaku bahwa ini merupakan budaya lokal warga setempat.

"Budaya Dogig ini umurnya juga lebih tua atau sekitar 100 tahun lebih. Sebab, eksistensinya ini muncul sejak jaman pra kemerdekaan yang di mainkan warga terdahulu," ujarnya.

Kental berbau mistis, kata Dede mengklaim bahwa saat pelaksanaan Dogig berlangsung itu pemerannya mampu makan hewan hidup saat berada di lahan pertanian.

"Ya, indikasi berbau mistis itu begini. Saat pementasan Dogig di pematang sawah itu jelas untuk mengusir hama. Nah, kejadian Dogig makan ayam hidup itu terjadi secara spontan.

Jadi, saat permainan berlangsung di lahan pertanian itu ada ayam masuk lahan tersebut, kontan membuat Dogig ini berusaha menangkap hingga memakan ayam tersebut," ujarnya.

Mengenai penamaan Dogig, kata Dede menyebut bahwa ini muncul dari pagelaran Dog dog dan Bebegig.

"Ya dog dog itu alat musik tradisional atau sebuah kendang dan Bebegig itu merupakan orang - orangan. Namun, untuk orang - orangan disini, tentu orang hidup yang menggunakan ijuk sekujur tubuh dan hanya bagian mata saja yang masih terbuka. Disitu, Dogig itu berjoget yang di iringi lantunan suara musik kendang tadi," ujarnya.

Dalam permainan Dogig, kata Dede mengaku bahwa untuk peserta Dogig tidak memiliki keterbatasan jumlah. Sebab, untuk Dogig itu bisa siapapun orangnya yang siap mengenakan ijuk secara menyeluruh di tubuhnya.

"Bicara berapa jumlah personil saat pementasan Dogig, itu tidak dibatasi. Sebab siapapun boleh jadi pemeran hingga siap menggunakan ijuk. Selain itu juga, dalam Dogig itu jelas ada kuncen atau orang kami sebut dengan istilah punduh," katanya.

Punduh, kata Dede merupakan sosok bertanggungjawab saat pelaksanaan Dogig tersebut. Sebab, tidak sedikit ketika berlangsung pentas Dogig, ada saja pesertanya ada yang suka kemasukan roh. "Saat ada kemasukan roh, jelas bahwa roh itu roh baik. Sebab, Dogig ini sebagai ritual pengusiran hama yang biasa dipentaskan," katanya. (*)

Baca juga: Kedatangan Eki Febri Ekawati Peraih Medali Emas SEA Games 2022 di Kuningan Disambut Bupati dan Warga

Sumber: Tribun Cirebon
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved