Progres Capai 99 Persen, PLTU Cirebon Unit 2 Ditargetkan Beroperasi Tahun Ini
PT Cirebon Electronic Power (CEP) menargetkan PLTU Cirebon Unit 2 beroperasi pada tahun ini.
Penulis: Ahmad Imam Baehaqi | Editor: dedy herdiana
Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Ahmad Imam Baehaqi
TRIBUNCIREBON.COM, CIREBON - PT Cirebon Electronic Power (CEP) menargetkan PLTU Cirebon Unit 2 beroperasi pada tahun ini.
Wakil Direktur Utama Cirebon Electronic Power, Joseph Pangalila, mengatakan, saat ini progres PLTU Cirebon Unit 2 telah mencapai 99 persen.
Saat ini, pihaknya tengah melaksanakan tahap commissioning dan re-commissioning sehingga prosesnya hampir selesai.
"Kami juga akan memulai sinkronisasi dengan PLN, rencananya pada Juni 2022," kata Joseph Pangalila saat ditemui di Taman Cirebon, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, Rabu (27/4/2022).
Baca juga: Jadwal Pertandingan Kejuaraan Asia 2022, 11 Wakil Indonesia Tampil Hari Ini, Ada Jojo hingga Ginting
Menurut dia, setelah seluruh tahapan tersebut selesai PLTU Cirebon Unit 2 ditargetkan mulai beroperasi pada Oktober - November 2022.
Ia mengatakan, PLTU Cirebon Unit 2 berkapasitas 1000 megawatt dan bakal didistribusikan ke transmisi 500 yang meliputi seluruh Jawa, Madura, dan Bali.
Sementara PLTU Cirebon Unit 1 yang berlokasi tidak jauh dari PLTU Cirebon Unit 2 berkapasitas lebih kecil, yakni hanya 660 megawatt.
Pihaknya mengakui target awal pembangunan PLTU Cirebon Unit 2 ialah awal 2022 telah beroperasi, namun agak molor akibat pandemi Covid-19.
"Itu alasan pertama, kedua karena kamj menunggu ketersediaan listrik dari PLN untuk digunakan dalam prodes commissioning dan re-commissioning," ujar Joseph Pangalila.

Ia menyampaikan, hal-hal semacam itu menyebabkan tertundanya pembangunan PLTU Cirebon Unit 2, bahkan termasuk tahapan penyelesaiannya.
PLTU Cirebon Unit 2 tetap menggunakan batu bara, tetapi tekonologi ultra super ciritical yang digunakan diklaim lebih canggih bahkan dibanding PLTU Cirebon Unit 1.
Dalam teknologi tersebut, proses pembakarannya menggunakan temperatur lebih tinggi sehingga batu bara yang menjadi bahan bakarnya habis terbakar.
"Teknologi ultra super critical membuat emisi yang dihasilkan juga menjadi lebih bersih, karena menggunakan batu bara yang kalorinya rendah," kata Joseph Pangalila.