Breaking News:

Tsunami Ancam Pantai Selatan Jabar Akibat Potensi Gempa Megathrust 8,7 M, Ini Kata BPBD Sukabumi

Skenario potensi ini mereka buat untuk mengetahui sebesar apa dampak yang ditimbulkan jika terjadi gempa berkekuatan 8,7 magnitudo di selatan Jawa.

Editor: Mumu Mujahidin
Tribun Jabar/M Rizal Jalaludin
Pantai selatan Sukabumi, Jawa Barat. 

Laporan Kontributor Tribunjabar.id Kabupaten Sukabumi M Rizal Jalaludin

TRIBUNJABAR.ID, SUKABUMI - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika ( BMKG) Stasiun Geofisika Bandung merilis skenario potensi tsunami akibat subduksi selatan Jawa di wilayah Jawa Barat.

Skenario potensi ini mereka buat untuk mengetahui sebesar apa dampak yang ditimbulkan jika terjadi gempa berkekuatan 8,7 magnitudo di selatan Jawa.

BMKG menjelaskan,  Jawa Barat merupakan provinsi di Indonesia yang berhadapan langsung dengan zona subduksi selatan Jawa, baik subduksi Selat Sunda maupun subduksi Jawa Barat.

Daerah-daerah tersebut berada di pesisir selatan Jawa Barat, memanjang dari mulai Kabupaten Sukabumi hingga ke Kabupaten Pangandaran.

Ilustrasi tsunami
Ilustrasi tsunami (NET)

Terdapat dua skenario gempa bumi yang digunakan dalam pemodelan, yaitu gempa bumi dengan magnitudo M 8,7 di Zona Subduksi Selat Sunda (untuk Kabupaten Sukabumi dan Cianjur) dan gempa bumi dengan magnitudo M 8,7 di Zona Subduksi Jawa Barat-Tengah (untuk Kabupaten Garut, Tasikmalaya, dan Pangandaran). 

Skenario gempa bumi di zona megathrust didasarkan pada segmentasi dan magnitudo maksimum Subduksi Indonesia yang bersumber dari Buku Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2017 (Pusgen, 2017). 

Pertama, peta bahaya tsunami pun menampilkan estimasi luasan daerah rendaman tsunami (inundasi) dan
waktu tiba gelombang tsunami di Pantai Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi.

Baca juga: Inilah Pantai di Jabar yang Berpotensi Tsunami Cukup Tinggi, Jika Terjadi Gempa Megathrust 8,7 M

Menanggapi skenario BMKG, Kalak BPBD Kabupaten Sukabumi, Wawan Godawan meminta warga tetap waspada karena bencana tsunami ini tidak dapat diprediksi kapan terjadi.

"Kita memang setiap saat setiap ada kesempatan selalu memberikan pemahaman mensosialisasikan kepada masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung, artinya melalui media yang kita miliki ataupun diimbau kepada masyarakat untuk tetap waspada," ujarnya saat ditemui di pantai Karanghawu, Cisolok, Sabtu (26/3/2022).

"Walaupun ancaman ataupun potensi tsunami, ancaman megathrust ini kan kita tidak bisa memperediksi kapan terjadi, tetapi kajian dari BMKG sudah muncul, oleh karenanya barang kali kita juga memberikan imbauan kepada masyarakat untuk tetap waspada, kemudian juga memahami kondisi kondisi tersebut," jelasnya.

Ia mengatakan, upaya mitigasi bencana telah dilakukan oleh BPBD, mulai dari adanya sirine peringatan dini tsunami hingga jalur evakuasi.

"Kita sudah koordinasi dengan BMKG terutama BMKG yang ada di Palabuhanratu, setiap tanggal 26 sesuai dengan kebijakan melakukan uji coba sirine, walaupun kemarin memang belum optimal yang uji coba sirine karena ada beberapa peralatan yang kondisi kurang baik kita sudah berkoordinasi dengan BMKG kemarin sudah mulai ada upaya upaya perbaikan dalam rangka menghadapi tsunami," terangnya.

Baca juga: Daftar Daerah di Jawa Barat yang Berpotensi Diterjang Tsunami 9-23 Meter, Jika Terjadi Gempa M 8,7

Sedangkan jalur evakuasi, pihaknya juga telah berkoordinasi dengan BMKG terkait rekomendasi titik evakuasi.

"Sesuai dengan rekomendasi BMKG ada beberapa titik yang direkomendasikan untuk menjadi tempat evakuasi sementara, ada beberapa titik yang di ketinggian 40 meter diatas permukaan laut, ada beberapa titik yang sudah kita lakukan survei awal walaupun dalam kondisi-kondisi memang kondisi hari ini belum maksimal atau belum optimal tetapi ini sudah ketemu untuk dipersiapkan jadi tempat evakuasi," terangnya.

Terakhir, Wawan mengingatkan kepada masyarakat untuk tidak terpengaruh dengan berita hoax soal megathrust ini.

"Kemarin ada beberapa berita hoax kepada masyarakat, ada yang melalui voice note dan sebagainya, ini kita berkoordinasi dengan BMKG dan menyampaikan kepada masyarakat bahwa informasi yang valid itu dari intansi resmi dalam hal ini BMKG," jelasnya.

Sumber: Tribun Jabar
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved