Breaking News:

Herry Wirawan Merudapaksa Terus Menerus Secara Sadar hingga Pantas Dihukum Mati Kata Bupati Garut

Tidak hanya itu kelakuan bejat Herry Wirawan menurut Rudy Gunawan melukai akal sehat sehingga pantas untuk dihukum mati.

Editor: Mumu Mujahidin
ist/tribunjabar
Herry Wirawan, guru pesantren di Bandung yang merudapaksa 12 santriwatinya hingga melahirkan 8 bayi. 
Laporan Wartawan Tribunjabar.id, Sidqi Al Ghifari
TRIBUNCIREBON.COM, GARUT - Kasus rudapaksa 13 santriwati oleh oknum guru pesantren Herry Wirawan menyita perhatian banyak orang termasuk Bupati Garut Rudy Gunawan.
Bupati Garut tanggapi tuntutan hukuman mati terhadap Herry Wirawan pelaku rudapaksa belasan santriwati di Madani Boarding School miliknya.
Rudy Gunawan mengatakan perbuatan bejat Herry Wirawan terhadap belasan santri yang diantaranya merupakan warga Garut itu sangat pantas dilayangkan kepada pelaku.
"Saya kira pantas sekali ya, karena perbuatannya anggap lah pemerkosaan secara sadar yang dilakukan terus menerus kepada beberapa korban," ujarnya saat diwawancarai Tribunjabar, Sabtu (15/1/2022).
Herry Wiryawan, guru ngaji bejat yang rudapaksa 12 santriwati di bawah umur hingga hamil. Delapan anak telah lahir.
Herry Wiryawan, guru ngaji bejat yang rudapaksa 12 santriwati di bawah umur hingga hamil. Delapan anak telah lahir. (Istimewa)
Menurutnya pertimbangan jaksa penuntut umum (JPU) menuntut hukuman mati bagi Herry Wirawan sangat beralasan.
Tidak hanya itu kelakuan bejat Herry Wirawan menurut Rudy Gunawan melukai akal sehat sehingga pantas untuk dihukum mati.
"Kelakuannya melukai akal sehat jadi hukuman mati juga yang diajukan sudah sangat tepat," ungkapnya.
Rudy menjelaskan pihaknya melalui Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Garut saat ini secara rutin melakukan trauma healing bagi para korban.
Ketua Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Garut, Diah Kurniasari mengatakan pihaknya sudah memberikan akte kelahiran bagi anak-anak yang dilahirkan oleh korban.
"Akte kelahiran dan kartu identitas anak sudah kami berikan melalui menteri PPA," ujarnya.
Diah menjelaskan pemerintah daerah melalui P2TP2A nantinya akan membantu anak-anak yang dilahirkan oleh korban termasuk korban itu sendiri.
Saat ini mereka sedang berada di rumahnya masing-masing di beberapa kecamatan di Kabupaten Garut.
Korban yang putus sekolah menurutnya akan mengikuti ujian paket yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat.
"Jadi mereka akan sekolah, mereka tidak mau kembali ke pesantren, jadi mereka ingin kejar paket di dekat rumahnya masing-masing, kita dukung ya," ucapnya.
Diah juga memiliki komunikasi yang inten bersama para korban melalui WhatsApp Grup (WAG) untuk mendengarkan keluhan dan keinginan dan para korban.
"Kita juga punya WhatsApp Grup ya bersama anak-anak, mendengarkan keluhan mereka," ucap istri bupati Garut itu.(*)
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved