Breaking News:

Adik Kandung Ainun Habibie Keluhkan Kawasan Rumahnya Bising oleh Diskotik, Bahkan Tamu yang Mabuk

Setiap tengah malam hingga menjelang subuh, kata Melok, selalu terdengar suara bising yang berasal dari bar dan klab malam.

Editor: Machmud Mubarok
TribunJabar.id/Nazmi Abdurahman
Adik kandung almarhumah Ainun Habibie, Melok Besari mengeluhkan kawasan rumahnya selalu bising oleh aktivitas tempat hiburan malam. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nazmi Abdurahman. 

TRIBUNCIREBON.COM, BANDUNG - Adik kandung almarhumah Ainun Habibie, Melok Besari, mengeluhkan kawasan rumahnya selalu bising oleh aktivitas tempat hiburan malam. 

Rumah peninggalan Ainun Habibie yang bersejarah itu berada di Jalan Ranggamalela, RT02 RW 03, Kelurahan Tamansari, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung. 

Di kawasan tersebut, saat ini terdapat banyak tempat hiburan malam seperti bar, diskotik atau klab malam serta cafe dan resto. 

Baca juga: Download Lagu Kamu dan Kenangan - Maudy Ayunda OST Habibie dan Ainun 3, Ada Video Klip & Lirik Lagu

Setiap tengah malam hingga menjelang subuh, kata Melok, selalu terdengar suara bising yang berasal dari bar dan klab malam. Bahkan, kata dia, tak jarang ada pengunjung yang pulang dengan kondisi mabuk, muntah, teriak-teriak bahkan berkelahi di kawasan pemukiman warga RT 02. 

"Kita terganggu dengan kondisi suara yang terjadi saat kita waktu tidur. Itu sudah terjadi di Ranggamalela sudah lebih dari 10 tahun. Mereka beroperasi tengah malam sampai subuh," ujar Melok, di kediamannya di Jalan Ranggamalela, Senin (3/1/2022). 

Melok yang juga Ketua RT 02 mengaku, setiap kali ada pengusaha yang akan membuka usaha di kawasan permukimannya, warga tidak pernah memberikan izin. Apalagi untuk bar, klub malam atau diskotik

"Mereka semua di sini, tidak pernah kita setujui untuk mendapatkan izin, kita tidak ada memberi izin karena Ranggamalela ini kecil dan zonanya hunian. Dari dulu ini semua zona hunian," katanya. 

Melok mengatakan, keluhan serupa dirasakan hampir semua warga yang tinggal di RT 02 yang berjumlah 30 Kepala keluarga (KK). 

"Setiap malam nggak bisa tidur, ini betul-betul nyata. Ada yang sangat terganggu yang rumahnya dekat. Kaca sampai bergetar," ucapnya. 

Pihaknya juga mengaku sudah menyampaikan keluhan tersebut kepada Pemerintah Kota Bandung, baik melalui Lurah, Camat, dinas-dinas yang bertanggung jawab, Sekda bahkan ke Wali Kota. Namun, hingga saat ini itu belum mendapatkan respons. 

"Tidak ada tanggapan sejauh ini. Kita masih mengharap ya. Harapannya kita harus akan berusaha untuk kembali seperti semula. Kita dulu tertib, sepi, enak, aman, telinga tidak noisy. Kita ingin daerah hunian. Kalau mau usaha silakan, tapi jangan menganggu kita," katanya. 

Sumber: Tribun Jabar
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved