Breaking News:

Human Interest Story

Bos Persib Bandung Ini Hidup Berlimpah Harta, Pernah Merasa Terpuruk Saat Kehilangan Anak Ketiga

Namun,selama hidupnya yang berlimpah rupiah, Umuh pernah juga mengalami murung yang teramat lama. Tahun 1998, anaknya yang ketiga

Editor: Machmud Mubarok
TribunJabar.id/Kiki Andriana
Umuh Muchtar saat diwawancara TribuJabar.id di kediamannya di Ciluluk, Tanjungsari, Sumedang, Senin (13/12/2021).  

Laporan Kontributor TribunJabar.id Sumedang, Kiki Andriana.

TRIBUNCIREBON.COM, SUMEDANG - Menjadi Komisaris di klub sepak bola yang diklaim terkaya se-Asia, Persib Bandung, tentu tak ujug-ujug, tapi butuh perjalanan panjang bagi Umuh Muchtar'> Umuh Muchtar. 

Namun, perjalanan panjang itu dilalui bos Persib Bandung dengan ikhlas, terutama ketika dia melakukan jurus paling jitu di dalam meraih kesuksesan. Jurus yang dia lakukan sejak lama hingga kini adalah bersedekah. 

Sedekah yang dipercaya Umuh banyak ragamnya, termasuk di antaranya membantu sesama kawan.  

"Terus terang, kalau mengeluarkan dengan ikhlas, Allah akan mengganti. Benar itu yang dikatakan para alim ulama, para ustaz, uang sedekah bukan hilang, tetapi Allah menggantinya," kata Umuh Muchtar saat wawancara khusus dengan TribunJabar.id di kediamannya, di Sumedang, Senin (13/12/2021). 

Baca juga: Kisah Sukses Bos Persib Umuh Muchtar, Mulai Jualan Celana Hingga Komponen Elektronik

Baca juga: Persindra Indramayu Keluar Jadi Juara Group E Turnamen Soeratin U-17 Piala H Umuh Muchtar

Umuh yang merupakan anak ketiga dari tujuh bersaudara dari pasangan H Mochamad Yusup dan Hj Siti Hasanah itu tumbuh menjadi dewasa dengan kesuksesan-kesuksesan yang terus berkembang. 

Hal itu tak lepas dari dukungan sang Ibu juga sang istri, Hj Pipin Muchtar. Sang istri selalu memberikan dukungan berupa kepercayaan terhadap apapun usaha yang dikerjakan oleh Umuh

Namun,selama hidupnya yang berlimpah rupiah, Umuh pernah juga mengalami murung yang teramat lama. Tahun 1998, anaknya yang ketiga dari empat bersaudara, Agung Kurniawan, meninggal dunia akibat kecelakaan. 

Pribadi Agung sangat berkesan di hati Umuh sebab dengan melihat Agung, dia seakan melihat dirinya sendiri, pribadi yang senang membela orang susah, senang bersedekah. Meski ketika itu, Agung barulah siswa SMA di Jalan Burangrang, Kota Bandung.

Banyak kisah yang dialami Agung yang memberi kesan mendalam kepada Umuh, ayahnya. 

"Tahun 1998 bulan Desember, anak bungsu saya meninggal dan itu sangat sangat menyakitkan," katanya. 

Dengan mata yang berkaca-kaca dan suara parau menahan sedih, Umuh berkisah tentang Agung yang begitu senang bermain sofbol. Lapangan sofbol di Jalan Lodaya sangat dekat dengan tempat Agung bersekolah. 

Ketika itu, Agung duduk di kelas 2 dan meminta izin kepada Umuh untuk mentraktir teman-temannya makan di sebuah mal di Jalan Merdeka, Kota Bandung. 

"Boleh lah, kata saya memberikan izin," kata Umuh

Halaman
12
Sumber: Tribun Jabar
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved