Senin, 27 April 2026
Superhub Kota Cirebon
Selamat Datang Di SuperHub Pemerintah Kota Cirebon

Persib Bandung

Kisah Sukses Bos Persib Umuh Muchtar, Mulai Jualan Celana Hingga Komponen Elektronik

sejak dahulu meski hanya sebagai bobotoh, Umuh selalu memberikan uangnya kepada para pemain Persib jika Persib menang dalam bertanding. 

Editor: Machmud Mubarok
TribunJabr.id/Kiki Andriana
Komisaris Persib Bandung, Umuh Muchtar saat diwawancara TribuJabar.id di kediamannya di Ciluluk, Tanjungsari, Sumedang, Senin (13/12/2021). 

Laporan Kontributor TribunJabar.id Sumedang, Kiki Andriana.

TRIBUNCIREBON.COM, SUMEDANG - Komisaris PT Persib Bandung Bermartabat (PBB), Haji Umuh Muchtar, adalah orang yang paling royal dan loyal kepada Persib. Namun, tabiatnya itu tidak muncul ketika Umuh punya uang melimpah seperti sekarang ini, kebiasaan itu sudah dilakukannya sejak dahulu. 

Apakah dahulu Umuh memiliki banyak uang? Dahulu, Uwa Haji Umuh, panggilan akrabnya, hanyalah pekerja biasa di perusahaan pembuatan televisi dan transistor radio di Kota Bandung,  Jawa Barat. 

Namun, sejak dahulu meski hanya sebagai bobotoh, Umuh selalu memberikan uangnya kepada para pemain Persib jika Persib menang dalam bertanding. 

"Itu semua Adeng Hudaya, Robby Darwis, Yusuf Bachtiar, dan yang lain-lain saya selalu berikan bonus sejak dahulu. Bisa ditanyakan langsung," kata Umuh Muchtar dalam wawancara khusus TribunJabar.id di kediamannya di Ciluluk, Tanjungsari, Sumedang, Senin (13/12/2021). 

Baca juga: Umuh Muchtar Cup Bakal kembali Digelar, Sudah Ada 53 Tim yang Daftar

Lantas, bagaimana kisah suksesnya hingga kini menjadi orang nomor satu di Persib Bandung

Umuh memulai kariernya sebagai pekerja biasa di perusahaan milik Belanda, NV Philips Fabricageen Handels Maatschappij. Dia dibawa seorang bersuku Minangkabau yang sudah dia anggap sebagai keluarga, masuk untuk bekerja di perusahaan itu pada 1970, setahun setelah dia menikah. 

"Saya pertama bekerja di bagian mesin kayu. Mesin kayu itu maksudnya untuk membuat boks televisi. Tetapi di situ saya tidak lama, kemudian saya ditarik untuk duduk di meja administrasi gudang," kata Umuh. 

Dengan tugas itu, dia memegang kendali pengiriman televisi dan radio ke sejumlah afdeling atau daerah administratif setingkat Kabupaten/Kota. 

Cukup lama Umuh di bagian ini. Namun, pengalaman ini juga yang membuat Umuh berani mengambil langkah pertama sebagai pengusaha. Dari meja administrasi, dia memperhatikan jumlah karyawan perusahaan itu yang jumlahnya sekitar 500 orang. 

Dia kemudian terpikir untuk menjual celana kepada para karyawan. Sistem yang digunakan adalah kredit. Umuh membawa celana dan baru akan mendapatkan uang lunas dari pembayaran setiap celana dalam tiga bulan. 

"Saya coba dengan 30 potong celana dahulu, dikreditkan dalam tiga bulan. Ternyata responsnya baik, semua suka. Orang banyak minta. Akhirnya nyaris 70 persen orang pabrik mengambil celana dari saya, bisa habis 250-300 potong," kata Umuh. 

Umuh Muchtar saat diwawancara TribuJabar.id di kediamannya di Ciluluk, Tanjungsari, Sumedang, Senin (13/12/2021). 
Umuh Muchtar saat diwawancara TribuJabar.id di kediamannya di Ciluluk, Tanjungsari, Sumedang, Senin (13/12/2021).  (TribunJabar.id/Kiki Andriana)

Dia menggambarkan keuntungannya dahulu dengan ilustrasi gaji seribu. Jika dia mendapatkan gaji Rp1000 dari perusahaan, dia dari usaha jualan celana mendapatkan keuntungan Rp30.000.

Usaha celana itu terus dikembangkan, bahkan celana disebar ke setiap afdeling dengan sistem kredit yang sama. 

Dari bagian administrasi, dia kemudian ditarik ke bagian produksi. Di bagian inilah Umuh mulai bermain dalam urusan usaha limbah. 

Limbah yang pertama kali dia jual berasal dari dalam pabrik di mana dia bekerja. Ketika itu, banyak sekali limbah logam campuran bernama kuningan. 

"Saya usaha limbah selama di Philips saja, saya jual kuningan, uangnya besar, untungnya terus dibagi-bagi," kata Umuh.  

Guratan nasib baik nampaknya tidak berhenti di urusan limbah, Umuh sampai diberi kesempatan menjadi juragan tanah. Mulanya, adalah tanah milik orang tuanya yang terkena pembebasan untuk proyek sungai. 

Uang hasil pembebasan lahan itu dipakai kedua orang tua Umuh untuk berangkat haji. Uang sisa dari ongkos haji, bukannya dititipkan di bank, uang itu dititipkan kepada Umuh yang saat itu masih berstatus sebagai pekerja Philips. 

"Itu tahun 1973. Karena saya pegang uang titipan itu, saya beli tuh tanah yang mau kena proyek dan belum dibebaskan. Saya beli dengan harga pantas dan dengan pembayaran segera, terus saya jual dengan cara kavling. Masyarakat mau saja menjual ke saya karena saya bayarnya jelas dan segera, daripada mereka jual ke calo (makelar)," kata Umuh. 

Dia mengatakan, sejak tahun itu hingga 1985, dia terus berbisnis jual beli tanah hingga 1985. Dia mengatakan, jual beli tanah seperti jual beli kacang goreng. 

Pada rentang waktu berbisnis tanah itu, pabrik tempatnya bekerja bangkrut. Tepatnya pada 1984, pabrik melelang semua alat-alat dan komponen untuk pembuatan televisi dan radio. 

Umuh yang semakin tajam perhitungannya dalam berbisnis bertanya ke pabrik bagaimana harga komponen-komponen itu yang kemudian berlanjut pada kesepakatan Umuh untuk mencarikan lubang penjualannya. 

Dia pergi ke Banceuy, menemui para tukang servis televisi dan radio, juga bertemu dengan orang yang tahu kemana komponen dari pabrik akan dilempar. 

"Wah komponen itu jutaan biji. Saya beri 10 persen untuk perusahaan, dan orang Belanda-nya mau.  Di situ uang berlimpah," katanya. 

Dalam kelimpahan uang itu, Umuh yang dahulu hanya bobotoh, terus loyal kepada Persib. Dia megaku tak pernah tedeng aling-aling dalam memberikan bonus kepada para pemain Persib. 

Apalagi saat usahanya semakin merambah ke bisnis percetakan.

"Dari situ saya langgeng saja (langgeng uang berlimpah) karena saya punya modal," kata ayah Wakil Bupati Sumedang Erwan Setiawan ini. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved