Breaking News:

Keberangkatan Umrah Awal Desember, AMPHURI: Ada 64 Ribu Jemaah Sempat Tertunda Keberangkatannya

kabar gembira bagi jemaah Indonesia, lantaran Indonesia menjadi prioritas atas haji dan umrah.

Penulis: Eki Yulianto | Editor: Mutiara Suci Erlanti
Tribuncirebon.com/Eki Yulianto
Ketua AMPHURI, Firman M Nur 

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto

TRIBUNCIREBON, MAJALENGKA- Para jemaah umrah di Indonesia tampaknya bisa bernafas lega.

Pasalnya, Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (AMPHURI) memastikan, pada awal Desember 2021 mendatang, penyelenggaraan umrah bisa dilaksanakan.

Apalagi, sejak Senin (22/11) lalu, Menteri Agama (Menag), Yaqut Cholil Qoumas telah bertemu langsung dengan Menteri Haji dan Umrah Arab Saudi, H.E Tawfiq F. Al-Rabiah, di Makkah.

Baca juga: Biaya Umroh 2021 Terbaru Selama Pandemi Covid-19, Bisa Naik Dua Kali Lipat Karena Hal Ini

Dalam pertemuan tersebut, menghasilkan kabar gembira bagi jemaah Indonesia, lantaran Indonesia menjadi prioritas atas haji dan umrah.

Sebagai pemberangkatan awal, pihaknya akan memprioritaskan para Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU).

"Kami dari asosiasi dengan Kemenag sepakat untuk pembukaan keberangkatan di awal, yang berangkat itu pihak penyelenggara."

"Agar, para penyelenggara adalah orang yang mengetahui prosedur, tata pelaksana, tata kelola, SOP, pelaksanaan aturan di masa pandemi Covid-19, sehingga bisa bertanggung jawab kepada para jemaah yang mendaftar ke mereka," ujar Ketua AMPHURI, Firman M Nur dalam kegiatan Sosialisasi Pelaksanaan Umrah Disaat Pandemi di Hotel Ultima Horison Kertajati Majalengka, Selasa (23/11/2021).

Firman menjelaskan, sudah satu tahun setengah terakhir ini, tidak ada keberangkatan umrah yang dilakukan oleh para jemaah asal Indonesia.

Ia menyebut, sedikitnya ada 64 ribu jemaah yang tertunda keberangkatannya.

"Di Indonesia sejak 27 Maret 2020, jemaah yang siap dan tertunda keberangkatannya untuk ibadah umrah ke tanah suci itu sebanyak 64 ribu. Untuk jemaah dari Amphuri itu sekitar 40 persen dari total jemaah tersebut. Sebetulnya lebih banyak lagi, jika normal jemaah yang berangkat itu sampai 100 ribu," ucapnya.

Masih dikatakan Firman, dalam kaca mata asosiasi nya, ada sejumlah, ada sejumlah kendala yang dihadapi para pihak penyelenggara dalam memberangkatkan jemaah.

Salah satu yang menonjol, adanya perbedaan hasil tes PCR yang dilakukan oleh jemaah.

"Sebenarnya kendala yang saat ini dihadapi adalah ketika jemaah di tes pcr ulang, terindikasi positif. Jadi tidak ada pembuktian bahwa dokumentasi jemaah invalid."

"Makanya, saya tekankan perlunya standarisasi pemeriksaan tes pcr. Agar jangan sampai hasilnya berbeda-beda," jelas dia.

Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved