Breaking News:

Demo Petani Tebu di Indramayu

Petani di Indramayu Minta Bupati Berpihak Soal Lahan Tebu PG Jatitujuh, 'Tolong Dengarkan Rakyat'

Mereka kehilangan mata pencaharian akibat kondisi tumpang tindih antara petani kawasan hutan dengan Hak Guna Usaha (HGU) PT Rajawali

Penulis: Handhika Rahman | Editor: Machmud Mubarok
TribunCirebon.com/Handhika Rahman
Para petani saat melakukan aksi unjuk rasa di Pendopo Indramayu, Kamis (18/11/2021). 

"PT Rajawali melalui PG Jatitujuh inginnya itu jadi lahan tebu, tapi kami tidak mau," ujar dia.

Masih dikatakan Hilmi Azis, para petani sebelumnya sudah mendapat izin untuk menggarap lahan milik negara itu sejak tahun 2014 lalu.

Para petani saat melakukan aksi unjuk rasa di Pendopo Indramayu, Kamis (18/11/2021).
Para petani saat melakukan aksi unjuk rasa di Pendopo Indramayu, Kamis (18/11/2021). (TribunCIrebon.com/Handhika Rahman)

Di sana, mereka menanam padi dan palawija seperti pohon mangga dan lain sebagainya, dengan catatan tidak merusak fungsi hutan.

Kondisi tersebut, kata dia, juga didukung oleh kebijakan Bupati Indramayu sebelumnya saat masih dijabat oleh Anna Sophanah, para petani diperbolehkan untuk menggarap lahan.

Hanya saja, tanaman yang mereka tanam itu, kini dibongkar untuk difungsikan secara seluruh untuk dijadikan lahan tebu.

Di sisi lain para petani, kata dia, sudah menghabiskan ratusan juta rupiah untuk modal bercocok tanam di sana.

Hal inilah yang membuat ribuan petani merasa dirugikan dan melakukan aksi unjuk rasa pada hari ini di depan Pendopo Indramayu.

Para petani juga meminta kepada Bupati Indramayu, Nina Agustina untuk bisa menyampaikan persoalan di lahan PG Jatitujuh itu kepada pemerintah pusat sebagai tindak lanjut.

"Kami ingin secepatnya bisa menggarap lagi lahan di sana, besok kami juga berencana akan datang ke lahan untuk menggarap lahan yang sebelumnya kami garap," ujar dia.

Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved