Breaking News:

Kudeta Militer Sudan

PM Sudan Dibebaskan, Jenderal Militer Menyebut Kudeta Demi Mencegah Perang Saudara

Militer Sudan telah membebaskan Perdana Menteri Sudan Abdallah Hamdok dan mengembalikannya ke ibu kota Sudan,

Penulis: MG Cirebon | Editor: Machmud Mubarok
PM Sudan Dibebaskan, Jenderal Militer Menyebut Kudeta Demi Mencegah Perang Saudara
google
Jenderal Militer Sudan Al-Burhan

TRIBUNCIREBON.COM – Militer Sudan telah membebaskan Perdana Menteri Sudan Abdallah Hamdok dan mengembalikannya ke ibu kota Sudan, Khartoum.

Dilansir dari Aljazeera, pada hari Selasa (26/10), Jenderal militer Sudan Al-Burhan menyatakan bahwa sebelumnya dia menahan Hamdok demi keselamatannya sendiri dan juga mencegah perang saudara.

“Perdana menteri ada di rumahnya. Namun, kami takut dia dalam bahaya sehingga dia ditempatkan bersama saya di rumah saya.” Jelas Al-Burhan kepada wartawan.

Namun, pernyataan yang diberikan oleh Jenderal Militer Sudan hanya sebatas bahwa Perdana Menteri telah dibebaskan. Tidak ada yang tahu kepastian mengenai kabar dari Hamdok.

“Tidak jelas berapa banyak kebebasan yang dia (Hamdok) miliki dan apakah dia akan diizinkan untuk berbicara dengan media atau melakukan kontak dengan siapa pun dalam beberapa hari mendatang,” kata Hiba Morgan dari Al Jazeera, melaporkan dari Khartoum.

Baca juga: Gara-gara Militer Kudeta PM Hamdok, Amerika Serikat Menahan Bantuan 700 Juta Dolar AS untuk Sudan

Pada konferensi pers pertama setelah militer mengambil alih kekuasaan, Al-Burhan menyatakan akan membela perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh militer, dengan mengatakan bahwa dia telah membubarkan pemerintah untuk menghindari perang saudara.

Al-Burhan mengatakan tentara tidak punya pilihan selain mengabaikan politisi yang menghasut oposisi untuk melawan angkatan bersenjata.

Pada saat yang sama, meskipun pasukan keamanan menggunakan kekerasan sehari sebelumnya, pengunjuk rasa anti-kudeta terus memasang penghalang jalan di jalan-jalan Khartoum dan terus berdemonstrasi di jalan.

Beberapa jam yang sebelunya, ketika berita menyebar bahwa tentara telah menangkap beberapa pejabat pemerintah, termasuk Hamdok, puluhan ribu pengunjuk rasa pro-demokrasi mulai turun ke jalan.

Menanggapi hal tersebut, Al-Burhan mengumumkan keadaan darurat di seluruh negeri pada hari Senin dan membubarkan otoritas transisi negara itu.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved