Breaking News:

Konflik Afghanistan

Taliban Terus Minta Pengakuan Dunia, Ada Dukungan 10 Negara Tapi Belum Diakui Pemerintahannya

Penguasa baru di Afghanistan ini, Taliban mendapatkan dukungan dari 10 kekuatan regional, Rabu (20/10/2021).

Editor: Mumu Mujahidin
(Alexander Zemlianichenko / POOL / AFP)
Anggota delegasi Taliban, termasuk wakil perdana menteri Abdul Salam Hanafi (tengah), menghadiri konferensi internasional terkait Afghanistan di Moskow pada 20 Oktober 2021. 

TRIBUNNEWS.COM - Taliban terus berusaha mendapat pengakuan dari negara-negara di dunia sebagai pemerintahan baru di Afghanistan.

Penguasa baru di Afghanistan ini, Taliban mendapatkan dukungan dari 10 kekuatan regional, Rabu (20/10/2021).

Dukungan tersebut didapatkan Taliban dalam konferensi di ibu kota Rusia, Moskow, yang membahas gagasan mengenai bantuan PBB untuk Afghanistan.

Rusia, China, Pakistan, India, Iran dan negara-negara bekas jajahan Uni Soviet di Asia Tengah, Kazakhstan, Kirgistan, Tajikistan, Turkmenistan, dan Uzbekistan bergabung dengan Taliban untuk meminta PBB mengadakan konferensi semacam itu sesegera mungkin.

Negara-negara tersebut mengatakan, sumbangan untuk Afghanistan, utamanya harus dilakukan oleh pasukan yang kontingen militernya telah menduduki negara itu selama 20 tahun terakhir.

"Itu harus dilakukan dengan pemahaman, tentu saja, bahwa beban utama harus ditanggung oleh pasukan yang kontingen militernya telah hadir di negara ini selama 20 tahun terakhir," kata negara-negara tersebut dikutip dari Al Jazeera.

Negara yang dimaksud adalah Amerika Serikat (AS) dan sekutunya yang menginvasi Afghanistan setelah serangan 11 September 2001 hingga penarikan pasukan yang membuka jalan bagi Taliban untuk merebut kembali kendali negara pada pertengahan Agustus lalu.

Rusia telah memimpin seruan untuk bantuan internasional, karena sadar bahwa setiap tumpahan konflik dari Afghanistan dapat mengancam stabilitas regional.

Kebangkitan Taliban telah menimbulkan ketakutan internasional akan kembalinya kekuasaan garis keras mereka pada 1990-an.

Yakni ketika mereka menjadi tuan rumah gerakan al-Qaeda Osama bin Laden dan melakukan pelanggaran hak asasi manusia yang mengerikan, termasuk rajam di depan umum dan marginalisasi perempuan di tempat kerja dan di sekolah.

 
Diketahui, sejak kembali berkuasa, Taliban mengatakan mereka telah bergerak secepat mungkin untuk membuka pemerintahan mereka dan menjamin hak-hak perempuan, dan bahwa mereka tidak mewakili ancaman bagi negara lain.
Halaman
123
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved