Breaking News:

Hari Santri Nasional

Kisah Santri Kuningan, Tekun Belajar Kitab Tak Lupa Ngaliwet Kini Jadi Anggota DPRD

Saat masuk menjadi santri Ponpes Al Falah di Buntet, Kabupaten Cirebon, Ia merasa lebih mandiri hingga dituntut sebagai manusia berguna

Penulis: Ahmad Ripai | Editor: Machmud Mubarok
Istimewa/Dok Pribadi
Muhamad Apip Firmansyah, anggota Fraksi PKB DPRD Kuningan ini pernah menjadi santri di Pondok Pesantren Salafiyah maupun modern. 

Laporan Kontributor Kuningan Ahmad Ripai

TRIBUNCIREBON.COM, KUNINGAN - Momentum Hari Santri Nasional pada 22 Oktober setiap tahunnya itu menjadi kesan tersendiri bagi kalangan masyarakat di Kuningan. Tak terkecuali bagi Muhamad Apip Firmansyah, Anggota Fraksi PKB DPRD Kuningan ini pernah menjadi santri di Pondok Pesantren Salafiyah maupun modern.

"Saya pesantren itu mulai masuk jenjang pendidikan SMP sederajat, sewaktu itu saya di MTs dan menjadi santri di Pondok Pesantren Al Ihya Cigugur," ungkap Apip, sapaan akrab politisi muda PKB itu saat berbincang bareng Tribuncirebon.com melalui sambungan seluruhnya, Jum'at (22/10/2021).

Menjadi santri pondok pesantren modern, Apip mengaku sangat berkesan dan memiliki banyak pengalaman.

"Ya pengalaman di ponpes modern itu tentang bagaimana kebersamaan antar murid atau santri lainnya. Kemudian menjadi santri itu belajar mandiri dan sekarang bisa kami rasakan," katanya.

Baca juga: KH Maimun Zubair Tak Tahu Santrinya Itu Dzuriyah Rasulullah SAW, Didatangi Lewat Mimpi Pesan Begini

Saat masuk menjadi santri Ponpes Al Falah di Buntet, Kabupaten Cirebon, Ia merasa lebih mandiri hingga dituntut sebagai manusia berguna bagi lingkungan sekitar.

"Saat menjadi santri di Buntet, kepatuhan yang saya lakukan terhadap para guru dan lingkungan. Seringnya suka pijitin guru dan para Kiai di sana," katanya.

Dunia pesantren, kata Apip mengakui tidak lebih dari kegiatan belajar. Jadwal santri fokus menimba ilmu itu mulai waktu Subuh hingga larut malam, dengan pembelajaran saat ngaji atau belajar itu disuguhkan berbagai kitab.

"Ya santri emang tugasnya belajar, ngaji dan berbakti pada Kiai. Dulu ngaji itu mulai waktu Subuh hingga larut malam dengan kitab beragam. Ada kitab tentang hukum fiqih, silsilah kenabian, nahwu sorof dan banyak lagi kitab yang kami kaji," katanya.

Lingkungan pondok pesantren salafiyah, kata dia, memiliki ciri khas tersendiri, mulai dari kegiatan Haul Kiai pendiri Ponpes dan melakukan pengajian kilat yang dikenal dengan sebutan pasaran.

Halaman
12
Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved