Breaking News:

Senior Manager Pinjol Ilegal Jogja Diringkus Polisi di Kediamannya di Jakarta, Tentunduk Malu

Senior Manager Pinjol Ilegal Yogyakarta RSO dibekuk tim Subdit V Siber Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Jabar yang dipimpin Kompol A Prasetya

Editor: Mumu Mujahidin
Istimewa
Senior Manager Pinjol ILegal Yogyakarta RSO dibekuk tim Subdit V Siber Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Jabar yang dipimpin Kasubdit V Siber, Kompol A Prasetya pada Selasa (19/10/2021) di Jakarta. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nazmi Abdurahman.

TRIBUNCIREBON.COM, BANDUNG - Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Dit Reskrimsus) Polda Jabar kembali menetapkan satu tersangka dari kasus perusahaan pinjaman online (Pinjol) ilegal.

Direktur Dit Reskrimsus Polda Jabar, Kombes Pol Arief Rachman mengatakan, pelaku berinisial RSO ini merupakan senior manager di perusahaan pijol ilegal yang digrebek Dit Reskrimsus Polda Jabar di Yogyakarta, Kamis 14 Oktober 2021.

RSO dibekuk tim Subdit V Siber Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Jabar yang dipimpin Kasubdit V Siber, Kompol A Prasetya pada Selasa (19/10/2021) di Jakarta.

Menurut pantaua Tribunjabar.id RSO sang manager senior pinjol ilegal yang berlokasi di Yogyakarta tampak menunduk malu saat digiring polisi.

Senior Manager Pinjol ILegal Yogyakarta RSO dibekuk tim Subdit V Siber Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Jabar yang dipimpin Kasubdit V Siber, Kompol A Prasetya pada Selasa (19/10/2021) di Jakarta.
Senior Manager Pinjol ILegal Yogyakarta RSO dibekuk tim Subdit V Siber Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Jabar yang dipimpin Kasubdit V Siber, Kompol A Prasetya pada Selasa (19/10/2021) di Jakarta. (Istimewa)

Penangkapan RSO ini, kata dia, merupakan hasil pengembangan dari pengungkapan yang dilakukan di Yogyakarta.

Berdasarkan hasil pemeriksaan dan penyidikan, kata dia, ternyata masih ada senior manager yang tinggal di Jakarta.

"Dari kasus perkara pinjol yang kita tangani, kami berhasil menangkap senior manager yang berkantor di Jakarta, RSO posisinya di atas dari pada assisten manager di Yogyakarta," ujar Arief Rachman, saat ditemui di Mapolda Jabar, Jalan Soekarno-Hatta, Selasa (19/10/2021).

RSO pun kini telah berada di Polda Jabar bersama tujuh rekannya untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

"Kami tetapkan RSO sebagai tersangka, sehingga sudah nambah satu tersangka yaitu jumlahnya delapan tersangka. Dan ini semua ada di struktur organisasi perusahaan yang dipakai tersebut," katanya.

Sebelumnya, Dit Reskrimsus Polda Jabar menggerebek kantor perusahaan pinjaman online ilegal di Yogyakarta, Kamis (14/10/2021). 

Dalam penggrebekan itu, 86 orang debt collector diamankan.

Baca juga: Takut Digerebek Kantor Pinjol Ilegal Suruh Pegawainya WFH & Ngaku Kantor Ekspedisi, Ketahuan Juga

Penagih Dijanjikan Sebagai Call Center

Puluhan debt collector yang direkrut perusahaan pinjaman online ilegal, awalnya dijanjikan pekerjaan sebagai call center.

Hal itu diungkapkan Wakil Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Jabar, AKBP Roland Ronaldy, saat ditemui di Mapolda Jabar, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Senin (18/10/2021).

"Proses rekrutmen, melalui aplikasi juga diundang dan interview oleh bagian HRD perusahaan tersebut. Awalnya, mereka dijanjikan untuk bekerja sebagai call center," ujar Roland.

Menurut dia, karena dijanjikan sebagai call center, orang-orang yang diinterview pun mau dan menerima pekerjaan tersebut.

"Karena penyampaiannya itu yang bersangkutan diterima sebagai call center, bukan sebagai desk collection," katanya.

Wakil Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dit Reskrimsus) Polda Jabar, AKBP Roland Ronaldy, didampingi Kasubdit Siber Polda Jabar, Kompol A Prasetya, saat ditemui di Mapolda Jabar, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Senin (18/10/2021)
Wakil Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dit Reskrimsus) Polda Jabar, AKBP Roland Ronaldy, didampingi Kasubdit Siber Polda Jabar, Kompol A Prasetya, saat ditemui di Mapolda Jabar, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Senin (18/10/2021) (Tribun Jabar)

Setelah menyatakan siap bekerja, kata dia, pihak pinjol ilegal kemudian menempatkan mereka sebagai debt collector online dan diberikan upah sekitar Rp 2-3 juta setiap bulannya.

"Dari keterangannya ada yang Rp 2 juta ada yang Rp 3 juta," katanya.

Dalam proses penagihannya, kata dia, para debt collector ini diarahkan agar melakukan penagihan dengan cara mengancam dan meneror.

"Operator (debt collector) itu mendapatkan arahan sudah ada nama-nama nasabah yang akan ditagihkan, dia memiliki beberapa sarana, ada yang melalui telepon, ada yang Whatsapp, dan disitulah mereka melakukan pengancaman," katanya.

Para debt collector itu diberikan target, dalam satu hari harus melakukan penagihan kepada 15 sampai 20 nasabah.

Baca juga: Polda Jabar Buru Pemilik Perusahaan Pinjol Ilegal yang Sempat Digerebek di Sleman Yogyakarta

Sementara tekait 23 aplikasinya, kata dia, sudah tidak aktif dan akan dilakukan pendalaman lagi.

Sementara korbannya, kata dia, hingga saat ini masih berjumlah satu orang.

Ia pun mengimbau kepada warga agar melapor jika merasa menjadi korban.

"Korban baru satu orang, nanti kemungkinan juga ada korban yang lain, dan mungkin masyarakat yang pernah jadi korban, silakan hubungi kami," katanya.

Sebelumnya, Dit Reskrimsus Polda Jabar kembali menetapkan enam tersangka baru dalam kasus pinjaman online (pinjol) ilegal.

"Jadi, sampai saat ini ada tujuh orang tersangka, terkait dengan debt collector ini," ujar Roland.

Ketujuh tersangka itu dikenakan Pasal 29 UU ITE, jo 45b, dan pasal 32, pasal 34 dengan ancaman hukuman penjara 9 tahun.

Baca juga: YLKI Bilang, Pinjol Legal dan Ilegal Tak Ada Bedanya, Sama-sama Meneror Saat Menagih Utang

Halaman
123
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved