Breaking News:

Tragedi Susur Sungai di Ciamis

Keluarga Siswa MTs Harapan Baru yang Jadi Korban Susur Sungai Minta Polisi Menindaklanjuti Sekolah

ini menyangkut nyawa orang, banyak lagi anak yang meninggal. Pertanggungjawaban sekolah mau seperti apa

Editor: Machmud Mubarok
Tribuncirebon.com/Eki Yulianto
Suasana pemakaman Dea Rizki (13), warga Desa Sukasari, Kecamatan Cikijing, Kabupaten Majalengka. Dea merupaka korban tragedi maut susur Sungai Cileueur di Kabupaten Ciamis 

Laporan Kontributor Tribunjabar.id Pangandaran, Padna

TRIBUNCIREBON.COM, PANGANDARAN - Aditya Maulana,siswa MTS Harapan Baru Cijantung, Ciamis menjadi satu korban tenggelam saat kegiatan Pramuka menyusuri sungai, Jumat (15/10/2021) sore. Pihak keluarga pun meminta jawaban dari pihak sekolah.

"Saya mah hanya minta dilereskeun (dibetulkan), karena ini mah kan kayaknya ada keteledoran sekolah," ujar Tati (49) bibi Aditya Maulana saat ditemui Tribunjabar.id di ruangan rumahnya di RT 20/5 Dusun Mekarsari, Desa Cibadak, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis, Jawa barat, Sabtu (16/10/2021) siang.

"Kok Sampai lepas dari pantauan pengawasan pembimbing itu, kenapa? Saya khususnya keluarga minta kejelasan dan minta dibetulkan," tambahnya.

Baca juga: Pengakuan Mengejutkan Korban Selamat Dalam Tragedi Susur Sungai di Ciamis, Santri Tak Pakai Pengaman

Baca juga: Permintaan Dea Sebelum Meninggal Karena Susur Sungai, Ingin Foto Bareng, Kini Foto Tinggal Kenangan

Karena, ungkap Tati, bukan hanya dari pihak keluarganya saja tapi keluarga lainnya yang juga menjadi korban tenggelam itu meminta yang sama.

"Kita meminta jawaban dari pihak sekolah, kok bisa sampai terjadi seperti ini, ko bisa sampai teledor. Nanti, kita juga kalau ibunya sudah mereda dukanya akan bertanya ke sekolah. Mau tanya, kok bisa lalai," ucapnya.

Sedangkan, kata Tati, harusnya anak-anak sebesar itu masih berada dalam pantauan pengawasan pembimbing.

"Bukan hanya disuruh, terus dibiarkan. Apalagi yang membimbingnya, katanya ada kakak kelasnya," katanya.

"Harusnya teliti saat akan menyusuri sungai, kan katanya ada kuncennya (juru kunci di sungai tempat kejadian), harusnya ngomong dulu, terus kenapa tidak memakai tambang - tambang acan (tali) meuntas teh (nyebrang), kenapa kegiatannya sampai dadakan dan teledor? Intinya kita mah, minta jawaban dari sekolah."

Selain itu, keluarga juga meminta kepada pihak kepolisian untuk menindaklanjuti kejadian tersebut.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved