Breaking News:

Warga Cidempet Sumedang Menderita, Sawah dan Kolam Mengering Terdampak Proyek Tol Cisumdawu

Sawah, kata Dadan, banyak yang terbengkalai dengan kondisi tanah kerontang karena irigasinya tidak berfungsi terdampak proyek tol Cisumdawu

Editor: Machmud Mubarok
Istimewa
Kolam dan sawah milik warga Kampung Cidempet, Sumedang mulai mengering karena terdampak proyek pembangunan jalan tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisundawu). 

Laporan Kontributor TribunJabar.id Sumedang, Kiki Andriana

TRIBUNCIREBON.COM, SUMEDANG - Warga Kampung Cidempet, Sumedang yang terancam terisolasi oleh proyek pembangunan jalan tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisundawu), sudah merasakan dampak terisolasi itu sejak sekarang ini.

Penduduk kampung di Desa Cibeureuyeuh, Kecamatan Conggeang, Kabupaten Sumedang itu tidak maksimal lagi dalam mengolah lahan pertanian yang menjadi mata pencaharian utama mereka.

Hal itu disebabkan karena saluran air yang terhubung dengan sumber air di kampung lain yang jaraknya sekitar 300 meter lebih itu dilibas proyek tol.

Dadan Ramdan (47), warga Kampung Cidempet kepada TribunJabar.id, Kamis (14/10/2021) mengatakan sawah dan kolam mengering.

"Pertanian kami terancam karena kami mengandalkan pengairan yang tersendat. Air yang sedikit datangnya ke sawah diperparah dengan musim kemarau," kata Dadan melalui sambungan telepon.

Baca juga: Jalan Tol Cisumdawu Diprediksi Rampung Tahun Ini, Pengelola Bandara Kertajati Senang

Sawah, kata Dadan, banyak yang terbengkalai dengan kondisi tanah kerontang karena irigasinya tidak berfungsi. 

Irigasi tak berfungsi juga berpengaruh kepada pengairan kolam yang biasa dipakai untuk memelihara ikan konsumsi.

Di atas kolam, warga juga memiliki kandang ayam yang biasa diambil telurnya untuk dijual atau dikonsumsi sendiri.

Kini, kolam tak berair dan ayam pun tidak terurus pakannya sehingga satu per satu disembelih untuk disantap atau dijual.

"Banyak yang tidak bisa bekerja di sawah. Lahan pekerjaan lain juga seperti warung sepi dan bangkrut," kata Dadan seraya mengatakan rata-rata jarak rumah warga ke proyek tol hanya 20 meter. Namun, ada juga yang hanya 5 meter.

Dadan sangat berharap pemerintah membuka mata. Warga ingin pindah dengan terlebih dahulu dibebaskan lahannya.

"Di masa sulit ini, uang sekecil apapun sangat berharga bagi kami," katanya.

Yang diungkapkan Dadan, dirasakan pula oleh Ita Karwita (37), warga Cidempet. Menurutnya, kondisi ekonomi warga kampung dengan penghuni 12 keluarga itu kini sangat terpuruk.

"Buat perokonomian, ya sangat terhambat. Contohnya, warung kecil sudah banyak yang gulung tikar," kata Ita melalui telepon.

Senada dengan warga lain, Ita ingin lahannya dibayar sehingga warga bisa pindah rumah.

"Kami jadi terus menanti-nanti. Sudah diajukan untuk pembebasan tapi sampai sekatang belum ada kejelasan," katanya.

Ita khawatir, jika lahan kampungnya tidak dibebaskan seperti lahan di kampung lain, kehidupan di masa depan akan lebih sulit. Akses jalan akan tertutup.

"Dampak ekonomi ke depan bagaimana, akses jalan terputus. Sekarang saja, akses air sudah susah. Air kadang mengalir kadang tidak," katanya.

Belum lagi, kata Ita, bising dan getaran yang menjadi santapan sehari-hari.

"Kalau kerja proyeknya lembur sampai jam 11.00 malam, aduh waktu istirahat kami terganggu," katanya.

Kampung Cidempet berada di wilayah V proyek jalan tol Cisumdawu. Pemerintah Desa telah mengupayakan pembebasan lahan, meski hingga kini belum ada penyelesaian.

Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir mengatakan Pemerintah Kabupaten telah berkoordinasi dengan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Cisumdawu sesi V. 

"Sudah ada jawaban dari PPK, bahwa sudah akan ada kajian lapangan (kampung tersebut) terkait proses masuk ROW (Right of Way)Tol Cisumdawu," kata Dony saat ditemui TribunJabar.id, Kamis (14/10/2021).

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved